Elvira yang telah resign dari pekerjaannya, pulang ke rumah Aprilia dengan taxi. Di sepanjang jalan menuju rumah sang mama, pikiran Elvira terus berkecamuk tentang hal yang akan ia sampaikan pada mamanya. Ingin sekali ia mengatakan seluruh kejadian yang menimpa dirinya. Namun, persoalan yang terjadi pada keluarga kedua adiknya membuat Elvira kembali mengulur waktu untuk membicarakan kejadian yang menimpa dirinya. Batinnya pun menjerit, ‘Ya Allah, mana yang aku dahulukan? Persoalan hutang adik-adikku? Atau persoalan yang menimpaku dan kehamilanku yang bukan anak Gilang? Apakah mama akan shock? Bagaimana kalau berakibat fatal? Pasti Ervan akan menyalahkan aku dengan musibah yang terjadi padaku. Sekarang apa yang harus kulakukan?’ Elvira memilah persoalan dan risiko yang akan dilaluinya

