BAB 1 ( Istri durhaka)
'Beep'
'Beep'
Terus kutekan klakson mobil ku.
Suasana menjelang lebaran membuat jalanan kota macet parah. Pukul 4 sore, seharusnya aku pulang kerja 2 jam lagi. Tapi telepon ibuku membuatku buru buru pulang.
Bagaimana tidak, ibu mengabarkan bahwa istriku pulang dari kerja cuci gosok dirumah rumah tetangga.
Hal yang akan sangat membuatku malu.
Aku adalah indra. Aku seorang pria yang bangga akan masa depanku.
Aku bekerja di sebuah pasaraya besar 'permana group' . Setelah 8 tahun bekerja disana,kini aku menjabat sebagai kepala cabang . Soal gaji jangan ditanya. Aku mendapatkan gaji pokok sebesar 15 juta rupiah. Ditambah tunjangan jabatan dan lain lain, sebulannya aku bisa menghasilkan lebih dari dua puluh juta rupiah.
Dan kini aku harus menghadapi kenyataan bahwa istriku menghinaku dengan cara bekerja sebagai buruh cuci. Dirumah tetangga pula. Mau ditaro kemana mukaku ini.
Istriku memang bermental orang miskin.
Aku menikahinya tiga tahun lalu. Waktu itu walaupun aku masih staff biasa dikantor tapi gajiku sudah lima juta rupiah.
Sementara istriku adalah seorang pengangguran.
Aku mengenalnya selama satu bulan di sebuah masjid saat bulan Ramadhan tiga tahun lalu. Waktu itu aku bersama teman-teman ku sengaja pergi tarawih kemasjid yang jauh, mencari suasana muda bagi kami yang masih muda.
Tak sengaja aku melihat dia. Gadis berkulit bening yang tidak ramah pada orang lain.
Kemudian pada suatu waktu saat salah satu temanku menikah, rupanya mempelai wanitanya adalah teman istriku. Aku melihat dia yang sibuk membantu si tuan rumah. Gadis yang cantik dan rajin Fikirku. Hingga tanpa fikir panjang aku menghampirinya dan mengatakan niatku akan melamarnya. Dia begitu terkejut. Dan saat kutanya namanya dia hanya mengatakan "luna".
Tak berapa lama aku mengundang keluarga nya kesebuah restoran mewah.
Aku hampir menghabiskan seluruh gajiku waktu itu hanya demi menyampaikan niat baikku pada orangtua luna. Agar mereka terkesan.
Dan benar saja, setelah kutunjukkan sedikit kemampuanku tanpa fikir panjang mereka menerima lamaran ku.
Berkat keberuntungan ku yang berlimpah. Dan doa ibuku yang menembus langit. Aku hanya membayar mahar senilai 2 gram cincin emas. Karna kantorlah yang memfasilitasi pernikahan kami. Di sebuah hotel mewah milik permana group.
Lagi lagi aku mertuaku harus bangga melihat menantunya ini. Kalau tidak menikah denganku, anak gadisnya mungkin tidak akan pernah merasakan pernikahan mewah.
Permana group memang tidak perhitungan. Karyawan yang menikah setelah bekerja diatas 5 tahun akan ditanggung kan biaya resepsinya.
'Naysila luna permana binti permana sanjaya' telah resmi menikah denganku 'indra danuar' hari itu.
Pada hari pernikahan kami aku dan ibuku membuat rencana untuk menjauhkan luna dari keluarga nya.
Bukan apa apa. Ibu hanya tak mau kalau sampai orang tua luna akan menggerogoti uangku. Sebab luna adalah anak tunggal. Sementara kata luna kedua orang tuanya sangat suka menanam sayur. Kuyakini itulah cara luna menutupi malunya untuk mengatakan bahwa kedua orang tuanya adalah petani sayur.
"Betapa malangnya aku, bermantukan seorang gadis dari keluarga miskin. Yang sudah pasti orang tuanya akan segera sakit sakitan dan menggantung hidup pada anakku. " Ucap ibuku waktu itu kepada beberapa tamu undangan.
Aku tersenyum gemas dalam hati, sebab kutau bahwa ibuku sengaja melakukan hal demikian demi menyelamatkan masa depanku.
Dan benar saja, umpan langsung dimakan. Ibu mertuaku tersinggung.
Ditambah lagi ibuku menyodorkan surat pemisahan harta, yang menegaskan bahwa sampai kapan pun luna tak akan pernah mendapatkan bagian apalagi warisan dari hartaku. Entah sejak kapan ibuku menyiapkan semua ini tapi hal itu sangat membuat ibu mertua ku marah.
Dia menampar ibuku dan itulah awal dari permusuhan keluarga kami.
Orang tua luna meminta luna untuk tetap ikut denganku sebagai suaminya. Dengan syarat luna tak akan dapat apapun sampai luna pulang atau kedua orang tuanya memafkanku.
Aku hampir tak bisa menahan tawa mendengar ultimatum ibu mertua ku. Beliau kira itu ancaman padahal aku dan luna sama sekali tak ingin mewarisi sayur mayur nya.yang ada luna akan bahagia memiliki suami yang mampu secara finasial seperti ku.
Kekesalan ku sedikit mereda begitu berhasil menembus keramaian dan sampai dirumah.
Luna dan ibu menungguku diruang tamu. Wajah ibu merah padam sementara luna tertunduk dengan mata basah. Tangannya menggenggam dua lembar uang berwarna ungu.
Kududukkan tubuhku dikursi lalu menatap kecewa pada istriku.
" Sudah puas mempermalukan aku....? " Tanyaku pelan.
" Sudah puas kaki mu berjalan tanpa izin ku diluar rumah....? " Tanyaku lagi. Sementara luna hanya menunduk sambil menggugit bibir bawahnya.
" Apa kamu lupa kalau keluar rumah tanpa izin suami itu haram...? " Tanyaku beruntun.
"Durhaka kamu luna.!! " Teriakku sambil merebut dua puluh ribu miliknya.lalu melemparkan dua lembar pecahan sepuluh ribu itu kewajahnya.
"Ku haramkan penghasilan mu hari ini. Tak ku ridhoi langkahmu keluar rumah" Kataku lagi sambil melangkah menuju kamar meninggalkan luna yang kini menangis terisak.
" Hari ini Terima thr kan anak mama" Kata ibuku sambil tersenyum dan menggandeng tanganku.
Beliau mengikuti langkahku hingga ke depan pintu kamar.
"Satu bulan gaji" Ucapku sambil tersenyum sembari menyerahkan amplop coklat yang sama sekali tak kusentuh kepada ibu.
•••
Usai makan malam aku langsung menuju kamar. Badan yang lelah rasanya ingin segera istirahat.
Dari ambang pintu sudah kulihat istriku tertidur berbungkus selimut . Di depannya ada ayra, anak kami yang baru berusia satu tahun.
Anak itu juga tertidur sambil memeluk ibunya.
Pasti luna menangis, fikirku.
Sebab aku sudah hafal betul kebiasaannya.
" Suami lelah pulang kerja, bukannya disambut senyum. Malah masalah dan tangis.
Kamu itu harusnya minta maaf dek. Bukannya malah menangis. Kamu yang mempermalukan mas kok kamu juga yang menangis. "
" Oh iya satu lagi, kapan sih kamu mau temani mas ini makan. Kamu hanya dimeja makan selama satu tahun, sejak uang belanja dipegang ibuku kamu jadi tak pernah temani mas makan. Maumu apa sih dek. Padahal uang belanja jadi ditangan Ibu juga kan karna kamu yang boros". Ucapku mengajari istriku.
Dia tetap diam saja. Bahkan kini luna tergugu. Terlihat jelas dari selimutnya yang bergetar.
"Jadi kapan mau temani mas makan lagi. " Tanyaku lagi, kesal sebab tak dapat jawaban.
" Izinkan saja pada ibumu" Ucap luna.. Suaranya berat menahan tangis.
Firasat ku tak enak, kalau sudah begini luna akan mendebat ku soal uang belanja. Rupanya 2 tahun berlalu dia belum bisa menerima kalau uang belanja ibuku yang pegang.
Tapi wajar saja, sebab kata ibuku. Luna suka mengirimkan uang kepada ayah ibunya. Sehingga dua juta yang ku berikan padanya untuk jatah makan orang serumah tak pernah cukup.
Padahal setahuku luna juga tak membeli sayur. Dia menanamnya di kebun samping rumah.
Dasarnya saja istri culas, hanya memikirkan keluarganya.
"Pijitin aku" Perintahku tegas. Inilah salah satu caraku mengeluarkan luna dari persembunyiannya. Sebab semarah apapun dia tak pernah menolak perintahku.
Benar saja tak sampai satu menit aku bisa merasakan tangannya yang keras menyentuh kulit punggungku.
___________________________________________