CHAPTER 74: Mungkin Konyol, Pa.

451 Kata

            “Terserah. Itu urusan kamu. Papa nggak mau campur urusan hidup kamu. Atur sendiri. Mulai besok, kamu gantiin Papa di kantor. Papa mau istirahat panjang. Kalau Papa sudah sembuh, kamu jadi wakil Papa,” jawab Papa sedikit ketus. Namun meskipun nadanya kurang enak di dengar, sebuah restu telah keluar dari mulutnya. Ia memalingkan wajahnya yang dikuasai perasaan malu, berusaha untuk tidak memandang Adi secara langsung.             “Eh?” seru Adi terkejut.             Adi tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Selama ini kata-kata ayahnya adalah perintah yang tidak pernah bisa dibantah. Satu-satunya peraturan yang berlaku di rumah adalah kehendak ayahnya. Keinginan pribadi maupun perbedaan pendapat yang bertentangan dengan kehendak ayahnya tidak akan diizinkan tumbuh subur. Ay

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN