
Serena Lee punya dua kabar buruk.
Pertama, rumah peninggalan ibunya akan disita dalam empat belas hari.
Kedua, satu-satunya cara menunda penyitaan itu adalah… memiliki surat nikah.
Masalahnya?
Dia jomblo.
Dengan sisa kewarasan yang menipis, Serena memutuskan meminta bantuan Theo—mantan pacarnya yang sekarang jadi atlet tim nasional voli. Pria yang dulu hampir menjadi masa depannya.
Theo setuju menikahinya.
Gaun sudah siap.
Dokumen lengkap.
Mental… setengah siap.
Lalu di hari akad—
Theo tidak datang.
Yang datang justru Samudra Raditya.
Teman SMP yang dulu sering kabur dari rumah karena ayahnya tukang selingkuh dan menjadikan sofa ruang tamu Serena sebagai tempat pengungsian.
Sekarang dia berubah menjadi direktur muda sukses, tampan menyebalkan, dan entah kenapa berdiri santai di depan KUA seperti ini bukan kejadian aneh.
Dengan waktu tinggal hitungan jam sebelum rumahnya benar-benar disita, Serena melakukan hal paling nekat dalam hidupnya.
Dia menikahi Sam.
Pernikahan kontrak.
Tanpa cinta.
Tanpa drama.
(Spoiler: ternyata penuh drama.)
Karena suami barunya memasak seperti chef hotel bintang lima, mengisi kulkas tanpa izin, terlalu posesif soal kesetiaan, dan bersikap seolah pernikahan ini sungguhan.
Belum sempat Serena memahami kenapa jantungnya mulai tidak aman setiap Sam memanggilnya “istri”—
Theo kembali.
Dengan alasan yang terlambat.
Dengan tatapan yang masih sama.
Dan dengan keyakinan bahwa Serena seharusnya menikah dengannya.
Sekarang Serena harus menghadapi mantan yang ingin merebutnya kembali…
Dan suami kontrak yang tiba-tiba berubah sangat tidak kooperatif.
Karena Samudra Raditya punya satu aturan sederhana tentang pernikahan:
Dia tidak percaya pada pengkhianatan.
Dan dia juga tidak pernah menyerahkan apa yang sudah menjadi miliknya. Termasuk istrinya.

