Bab 2 Perayaan

1071 Kata
Setelah makan malam, Yura keluar dari rumah besar itu dan melihat sekeliling lorong lalu matanya tertuju pada lelaki yang sedang duduk di kursi taman. Dari postur tubuhnya hampir mirip dengan idolanya dan Yura hanya tau kalau itu anak sulung Adipati jadi dia tidak peduli. Keesokan paginya Yura seperti biasa datang ke  Gallery Rose. Banyak sekali orang yang melihat karyanya. Saat masuk ke dalam ruangannya ada banyak balon. Dar... Balon itu meletus dan bunga mawar ditaburkan di dihadapan Yura. Ini adalah perayaan 5 tahun Gallery Rose di bangun dan itu semua perjuangan dari nol. Yura terharu dan memeluk rekan kerjanya.Banyak kenangan tersimpan selama 5 tahun. "Makasih semuanya." Yura tersenyum. Setelah itu nanti malam mereka BBQ dirumah Yura.  "Bagaimana kerjasama?" Cana ingin mengetahuinya. "Aku tidak bekerja sama hanya makan malam." Tentu saja Cana kecewa"Kenapa gak kerjasama?ini buat karya lukisan kamu juga." "Iya tapi aku gak bisa, dia adalah seorang pengkhianat. Mana mungkin aku bisa bekerja sama." "Maksud kamu?" "Dia adalah orang yang sudah berkhianat kepada ayahku dan membuat ayahku kehilangan nyawa, hidupku hancur saat itu tapi sekarang aku bisa bangkit lagi." Air mata Yura pecah dan Cana memeluknya erat. Cana baru tau tentang ayah Yura meninggal. "Dari siapa kamu tau kalau Adipati berkhianat?" "Dari rekan kerja ayahku." Cana mengelus punggung Yura agar berhenti menangis. "Ya sudah jangan lagi dibahas, itu sudah masa lalu." Yura memberhentikan tangisannya dan Cana keluar ruangan karena ada tamu dari Jogja. Ceklek... "Assalamualaikum." "Yura!" Panggilnya tapi tak ada sahutan. Suara pintu terbuka memperlihatkan lelaki memakai turtle neck bewarna hitam. Yura yang sedang fokus dengan komputer mendongak saat namanya dipanggil, jantungnya berpacu cepat. 'Ini bisa-bisa aku kejang-kejang' batinnya di saat manik mata mereka bertemu. "Salam itu dijawab." "Wa'alaikumsalam." "Dari tadi aku panggil gak nyaut-nyaut." Belum dipersilahkan, Andra langsung duduk di sofa tunggal berwarna biru muda dan mengangkat satu kakinya di atas paha. Yura duduk di sofa panjang sambil menenangkan hatinya agar tidak gugup. "Ada apa datang kemari?" "Mau ketemu sama kamu." Jangan ditanya kalau jantung Yura baik-baik saja. "Berasa senam jantung." Gumam Yura tapi masih terdengar oleh Andra tapi lelaki itu tidak peduli. "Mm..untuk apa kamu menemuiku?" "Aku gabut, kenapa?" 'Ini Andra kan? aku baru tau di juga bisa gabut padahal jadwalnya padat.' batin Yura. Tapi beruntung juga Yura bisa liat Andra tanpa dihalangi pengawal pribadi. "Gak ada, aku bukannya mau tau tapi bukankah jadwalmu padat?" Andra terkekeh, sebenarnya itu memang benar tapi dia juga butuh ketenangan. "Iya jadwalku padat tapi sekarang aku bertanya padamu memang semua orang harus mengikuti jadwal itu tanpa istirahat?" Yura terdiam. "Iya aku tau, kupikir kamu sedang menciptakan lagu." "Itu aku sedang mempersiapkannya." Tanpa nunggu berita, Yura udah tau duluan kalau Andra sedang mempersiapkan lagu. "Bukankah itu rahasia!" "Untuk apa aku merahasiakannya dan pada akhirnya akan ketauan." Benar juga apa yang dikatakan Andra. Yura hanya diam gugup mau senyum yang ada jatuhnya kek orang gila. "Kamu udah buka uang yang aku berikan?" Yura baru ingat uang itu di dalamnya ada 2 kecoa. "U-udah kok." Udah gak mood Yura bicara tentang kecoa yang kemarin udah buat dia jantungan. "Itu ada binatang di dalamnya, kamu tau itu apa?" Tarikan disudut bibir tersenyum manis, Yura saja hampir di buat mleyot. Walaupun Yura mengidolakan tetapi tetap saja dia kesal karena lelaki itu sudah menaruh binatang menjijikkan. "Udah jangan dibahas itu di dalamnya ada kecoa." Yura sekarang udah biasa aja, tenang senam jantungnya udah mereda. "Emang kenapa?" "Gak ada, kemarin kaget aja, di dalam amplop ada kecoa." Andra tertawa kencang, 'Ternyata benar Yura takut kecoa.' batinnya. "Kalau terbang lucu." Yura hanya terkekeh. "Iya lucu." Tentu saja Yura berbohong, binatang menjijikkan saja dibilang lucu. 'Matanya katarak atau gimana?' batin Yura yang merasa aneh terhadap Andra. "Kenapa kamu gak pelihara?" Yura bersabar dengan kelakuan Andra yang rese dan ditambah ngeselin. Udah tau Yura benci kecoa tetep aja di bahas. "Duluan kabur gak sempet dipelihara." Dia gatau aja kalau Yura main kejar-kejaran dan sebelum pulang, petugas langsung membersihkan ruangan seni. Setelah 2 jam diruangan Yura, Andra memutuskan untuk pulang. "Ya sudah aku pulang udah sore." Yura berfikir bahwa Andra marah padanya karena tidak memelihara peliharaan Andra yang menurutnya itu lucu, padahal saat Andra keluar dari Gallery Rose sambil tertawa melihat ekspresi Yura yang ketakutan. Sebenarnya saat konsernya, Andra selalu melihat Yura tapi gadis itu tidak pernah nyadar jika ia di notic. Memang Andra harus menemuinya, karena merasa penasaran dengan gadis itu. Andra itu memang gabut tapi soal hati tetap setia. "Cieee yang berduaan diruangan, kamu ngapain aja?" Ini lama-lama mulutnya Cana minta sobek. "Astaghfirullah, kamu jangan berfikiran negatif." Memang otaknya Cana harus dicuci, ini akibat bergaul bareng Dena. "Aku sama Andra cuman ngomong bentar." "Bentar tapi kok sampe 2 jam." Ya gimana orang tadi Andra bahasnya tentang kecoa sampai detail di ceritaiin sama dia. "Ya abis banyakan ngobrol tapi aku seneng dan juga kesal." "Lah, gimana?coba ceritain." Cana antusias ingin mendengar percakapan Yura. Tadi memang Cana nguping pembicaraan mereka berdua tapi hanya sebentar karena tak penting. Yura bercerita panjang lebar dan membuat Cana tertawa. "Kecoa itu memang lucu." Cana tertawa puas, Yura terdiam melihat Cana yang tertawanya seperti kuntilanak, siapa yang tidak takut mendengarnya. "Matamu keknya katarak juga na, harus aku bawa kamu ke rumah sakit." "Gaklah, terus gimana hati kamu?" Cana tau sahabatnya ini mental jelly pasti tetap mleyot. "Jangan ditanya sudah pasti senam jantung, mana lagi dia senyum kan nambah ganteng." Yura aja ngebayangin itu aja udah bikin dia mleyot. "Cukup mengagumi ra ntar pas Andra punya pasangan hidup, kamunya yang sakit hati." "Iya aku tau, aku juga cuma fansnya doang tapi kalau dia sama perempuan lain aku belum siap." Yura dari dulu memang ngefans Andra apalagi suaranya yang merdu membuat kaum hawa meleleh mendengar suaranya apalagi wajah tampannya yang mempesona. "Ya sudah terserah kamu, aku tau kamu masih mengidolakannya tapi ingat batasan jangan sampe aku liat kamu di foto paparazi dan jadi rumor kalau kamu itu kekasihnya kan jadinya salah paham." "Aku pastikan tidak akan ada paparazi berkeliaran di Gallery Rose. Toh juga kita ada satpam jadi tidak ada sembarangan orang masuk." Yura orangnya bodoamat jadi dia tidak tau apa-apa tentang keamanan Gallery Rose. "Ya juga tapi kita juga harus perketat keamanan agar tidak ada orang yang mencurigakan apalagi sampai ngaku-ngaku pelanggan dan waktu itu juga kita hampir ketipu." "Iya aku tau itu, aku akan tetap periksa data keuangan." Cana mengangguk dan tersenyum lalu pergi keruang keuangan untuk memeriksa data keuangan dan saham di tempat ini, tapi bukankah manager keuangan yang punya pekerjaan?entahlah apa yang akan diperbuat oleh Cana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN