Bab 1 Menara Mawar
Ruangan berbentuk persegi panjang di setiap dinding di pajang lukisan-lukisan indah dibuat oleh gadis berkulit putih, rambut berkuncir kuda yang sekarang sedang duduk di kursi dan satu buah kanvas berdiri tegak di hadapannya serta alat lukis di atas meja.
Gerakan kuas di atas kanvas menciptakan sebuah bangunan menjulang tinggi dengan cat warna dan menjadikan gambar itu seperti nyata.
"Yura!!" Panggil seorang dari ambang pintu dengan raut wajah bahagia, Yura menoleh dan menatapnya terheran-heran.
"Ada apa Cana?"
"Pak Adipati mengundangmu untuk makan malam dan dia akan mendatangi kontrak kerja sama dengan Galery Rose, ini yang aku tunggu-tunggu" Yura tidak sedikitpun merasa antusias karena dia tau siapa Adipati yang dimaksud sekretaris itu, yang sudah ia anggap sahabatnya.
"Batalkan, aku tidak mau pergi bilang saja aku sedang sakit" Tentu saja Yura menolak. Jika semua itu berkaitan dengan keluarga Adipati, dia menolaknya.
"Ini kesempatan besar, oh ayolah!" Nadanya memohon tapi Yura tidak akan mengubah keputusannya.
"Katamu kamu ingin memperkenalkan semua karya lukisanmu untuk semua orang, maka dari itu ini Galery Rose harus bisa terkenal di dunia." Jelas Cana terlihat wajah memelas, Yura sudah biasa melihatnya.
"Hm...oke, aku bakalan dateng."
Cana tersenyum puas bangga pada dirinya sendiri karena berhasil membujuk sahabatnya itu, Cana tidak tau apa pun tentang Adipati.
"Nanti kamu pake dress yang aku beli." Yura yang baru saja selesai melukis dan meminum secangkir teh hangat tersentak.
"Untuk apa kamu beli?ini bukan hari ulang tahunku."
"Tidak, aku membelikannya agar kamu terlihat cantik saat malam nanti." Cana memperlihatkan dress biru muda bercorak bunga.
Yura menghela nafas kasar, 'Ada apa dengan Cana hari ini?kenapa dia sudah membuatku badmood' Gerutu Yura dalam hati.
"Aku kesana untuk makan malam bukan pergi ke acara kondangan" Udah Yura gak tahan lagi sama sikap Cana yang teralu berlebihan.
"Ini Elimited edition jadi Cana beliin."
"Iya deh, makasih na." Mau gak mau Yura harus menerima dan memakainya. Dari dulu Cana memang seperti itu.
###
Seorang lelaki berjas hitam dan pengawal pribadi berada di samping kiri dan kanannya melangkahkan kakinya masuk ke dalam Galery Rose.
Semua orang yang berada di sana memandangnya dengan mulut menganga.
"Ganteng banget!"
"Ganteng kek orang Korea."
"Ini mah mirip idol kpop."
"Kak Andra!!" Teriak penggemarnya.
Orang-orang membicarakannya karena wajah lelaki itu begitu tampan tak lupa kaca mata bewarna hitam sudah terlihat jelas bahwa dia adalah seorang lelaki yang terkenal dengan lagu ballad yang selalu ia nyanyikan.
"Akhirnya, dia datang juga."
Yura sendiri tidak tau kalau ada tamu datang dan yang datang itu adalah idolanya.
"Kenapa kamu gak bilang?"
"Ya maaf, tapi kalau aku kasih tau pasti kamu bakalan punya seribu banyak alasan." Marah?tentu Yura marah.
"Aku atasanmu jadi semua itu harus disetujui olehku, jadi jangan menerima tamu sembarangan tanpa seijinku." Cana diam, ia tau ini salah tapi ini hanya untuk membahagiakan sahabatnya itu.
"Maaf Yura."
Yura menghela nafas panjang dan sekarang dia harus menemui lelaki itu, dia juga penasaran siapa lelaki itu.
Ceklek...
Suara pintu terbuka terlihat lelaki memakai jas rapi di hadapannya, tentu saja Yura terkejut dan tentu saja jantungnya berpacu cepat saat idolanya datang.
Yura melirik Cana yang tersenyum. Bisakah Yura pergi dari sini, dia sudah tidak kuat untuk berteriak. Apalagi dia mental yupi gampang mlyeot. Yura menghela nafas panjang dengan ekspresi wajah biasa saja.
"Lukisannya bagus, aku mau beli." Yura melihat lukisan yang di maksud dan benar itu baru saja dia lukis tetapi lukisan itu sedikit belum jadi.
Yura menahan rasa canggung "hmm itu lukisannya belum jadi."
"Ya sudah selesaikan, aku akan membayarnya." Tentu saja Yura menyetujuinya dan melanjutkan lukisan menara mawar.
"Mleyot gak?" Bisik Cana dan Andra tidak mempedulikan mereka berdua lebih melihat lukisan-lukisan dipajang di dinding.
"Pake nanya lagi, mleyotlah masa nggak." Tangan Yura saja gemetar tapi tetap di tahan agar tidak salah apalagi yang beli adalah idolanya.
Andra tetap memperhatikan Yura yang begitu cantik dimatanya tapi saat itu tangan Yura gemetar tentu saja Andra terkekeh.
"Itu kenapa tanganmu bergetar?" Sontak Yura terkejut, detak jantungnya berpacu cepat. 'Tahan Yura, ayo kamu pasti bisa!' batin Yura.
"Memang seperti ini caraku melukis." Mulut Andra berbentuk 'O'. Yura dengan cepat menyelesaikan lukisan itu.
"Karyamu bagus, harganya berapa?"
"Berapapun jumlahnya aku terima." Yura tak bisa tahan senyumannya dan Andra memberikan sejumlah uang tapi Yura tidak tau berapa Andra mengasihnya.
"Oke, biayanya segitu." Setelah itu Andra dan pengawalnya keluar dari ruangan. Andra tak bisa menahan tawanya.
Yura bisa bernafas lega dan teriak kegirangan, Yura tidak tau saja apa yang dikasih Andra.
"Apa kamu tidak ingin membukanya?" Amplop itu tebal, Yura juga penasaran berapa isinya.
"Yaudah aku buka."
Pada saat Yura buka ternyata isinya lumayan banyak tapi Yura melepas amplop itu dan keluarlah 2 kecoa dari dalam sana.
"Astaghfirullah." Tentu saja Yura berteriak dan berlari di ruangan dan banyak pajangan lukisannya miring karena ulahnya sendiri. Cana hanya melihat Yura yang sangat ketakutan.
Kecoa pun terbang mengarah ke Yura dan hinggap di bajunya, sudah pasti Yura berteriak. Cana hanya diam tidak melakukan apa-apa karena Cana sudah biasa melihat Yura yang sangat takut dengan hewan kecil itu.
Yura berlari ke arah Cana dan kedua kecoa itu berlari keluar dari jendela. Cana langsung menutup jendela itu.
"Cana hebat." Yura mengancungkan jempolnya, Cana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biasa aja, kamunya aja yang teralu piknik."
"Panik na bukan piknik." Memang Cana kalau ngomong typo apalagi di chat, Yura hanya geleng-geleng kepala aja abis main kejar-kejeran sama kecoa.
"Iya itu maksudnya."
"Ya udah aku mau pulang."
Cana mengangguk dan mengingatkan kepada Yura "Ingat nanti malam kamu ada janji untuk bertemu pak Adipati."
Yura hanya mengangguk, dia mana mau pergi menemui lelaki yang sudah berkhianat kepada ayahnya. Apalagi saat ayahnya sudah bangkrut tidak ada yang membantunya dan saat itulah ayahnya depresi lalu di bawa kerumah sakit, saat itulah ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Dan ibunya meninggal di saat Yura dilahirkan.
#
Malam ini Yura datang ke rumah keluarga Adipati dan banyak orang yang menyambut kedatangannya. Yura tak mau lama dan bergegas masuk ke ruangan makan.
Hidangan makanan sudah rapi di atas meja. Yura duduk dan dihadapannya ada Adipati tersenyum melihat kedatangannya.
"Makasih sudah datang."
"Iya, aku datang kesini karena anda mengundangku. Sebenarnya aku tidak mau." Juteknya.
"Katanya kau ingin berkerjasama?"
"Tidak jadi." Yura tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga penghianat walaupun Adipati ini pernah membantunya saat ia keserempet motor saat itu Yura masih menangis atas kematian ayahnya.
"Baiklah, kalau kau butuh apa-apa beritahu saya."
"Tidak perlu."
Adipati tidak mau bicara apapun dan memilih memakan makanannya. Ingin menjelaskannya tapi Yura tidak mau menanggapinya.