Bab 24 Rencana

1037 Kata
Keesokan paginya Andra menemui kakaknya Naya, wanita itu mana mau tinggal bersama Andra apalagi di sana ada adik tirinya yang sangat bahagia karena berhasil menjadi manager di perusahaan ayahnya yang berada di Korea. Pertepatan dengan ulang tahun ayahnya tetapi Naya malah diculik, entahlah siapa yang tega memisahkan seorang anak dengan orangtuanya dan juga adik kandungnya. "Sekarang apa yang akan kakak lakukan untuk membongkar semua kedok mereka?" "Kakak sudah menyusun rencana." Naya menjelaskan panjang lebar dan tentunya Andra setuju tapi kalau rencana ini gagal maka Andra harus membongkar semua ini dengan bukti-buktinya sekaligus, agar ayahnya percaya. "Semoga ide ini lancar." Andra tersenyum tapi rasanya kalau rencana itu bisa jadi gagal karena mereka tidak bisa tetap di satu tempat dan tentunya mereka bisa saja bertemu entah itu dimana. "Tapi bener kakak udah gak apa-apa kan?" "Kakak udah gak apa-apa cuman masih sedikit trauma." "Oke, tapi kakak diem dirumah ini jangan kemana-mana, aku udah perketat pengawasan." "Jangan berlebihan seperti itu dek." "Gak bisa, kalau kakak nanti ketemu sama mereka dan berbuat jahat lagi, ya mana bisa aku diam aja." Celoteh Andra, dia gak mau kehilangan kakak kandungnya dan kalau emang benar kakak tirinya itu jahat pasti juga Andra akan dibuat jahat tapi lelaki itu malah berusaha terlihat tidak terjadi apa-apa. "Oke deh kakak denger tapi jangan khawatir sama kakak aja, orang yang kamu cintai itu juga harus kamu jaga." "Dia sudah kujaga dan sama seperti kakak diperketat keamanannya." Naya hanya tersenyum melihat adiknya ini yang khawatir dengan orang yang berada didekatnya dan yang sangat sayangi. Sampai kapanpun Andra adalah lelaki yang baik hatinya tidak hanya di kamera saja terlihat tapi memang benar kenyataannya dia seperti itu. "Di jaga ya jangan sampai lepas kalau hilang susah dicarinya." Andra terkekeh melihat kakaknya yang dulu pernah menjadi guru lesnya dan Andra yang suka sekali bercerita tentang dirinya saat di SMA dan seperti apa dia menyukai kakak kelasnya yang bernama Yura. Sampai Andra pernah kena bully gara-gara dia gak berani nembak perempuan dan sampai akhirnya dia melihat Yura yang sedang bercerita didepan kelas. Tentunya Yura itu dulu sangat fams di sekolah dan incaran para lelaki. Oleh karena itu Andra mundur karena banyak lelaki yang lebih tampan darinya. "Udah aku gak mau inget masa lalu." "Dulu karena kurang tampan kamu nyerah dan sekarang cewenya malah deket sama kamu, kalau bisa diserusin gaslah dek sebelum orang lain yang ambil." "Aku masih mikir-mikir dulu kak, apalagi karena masalah ini udah bikin aku takut kehilangan dia." "Yura itu anaknya penakut tapi kalau gak dilawan rasa takutnya dia diam dan dia gak akan nyerah gitu aja sampai dia berhasil karena itu membuat dirinya semakin berani." "Tapi akhirnya Yura bisa keluar dari gedung itu dan kenapa kakak gak keluar bareng Yura?" "Kakak udah liat kok kalau dia udah keluar tapi saat kakak tau kalau orang yang menyuruh Yura keluar itu juga sama seperti keluarga kita, dia adalah orang jahat dan bisa saja dia menyelakai Yura." "Kakak tau siapa dia?" "Kakak gak tau namanya yang jelas dari banyaknya penjaga kalau mereka memanggil dengan nama 'Mister D' dan lelaki itu juga sama memakai topeng hitam." "Jadi lelaki bertopeng itu tidak hanya satu?" "Mereka ada dua tapi dilihat-lihat mereka tidak kembar dan saat Yura kerumahmu apa ada yang membuat Yura curiga?" "Entah, tapi kalau ada sesuatu Yura langsung cerita, dia sudah gak punya siapa-siapa lagi didunia ini apalagi dia itu gak gampang percaya sama orang lain." "Masih tetep kek dulu ya dek." "Iya, sampai sekarang sifatnya itu masih sama walaupun ada perbedaan tapi Yura tetap selalu ada di hati." Naya tertawa melihat adiknya ini yang sangat bucin dengan gadis bertahun lamanya sampai dia pernah di kenali oleh seorang gadis dia gak mau malah tetap memilih Yura. "Yaudah kak aku mau pulang dulu kasian dia pasti nyariin aku dari tadi." "Jangan kegeeran dek." "Gak apa-apa percaya aja dulu." Naya pun mengantar adiknya sampai pintu depan bagaimanapun adiknya ini sangat membantunya selama ini. # Yura masih berada di ruang tengah sudah pasti dia menunggu kedatangan Andra dan kalau pun mantannya itu datang lihat saja Yura tidak akan segan untuk memukulnya lagi. Yura juga kepikiran tentang apa yang terjadi tadi malam setau dia hanya tidur tidak melakukan hal seperti itu apalagi bersama mantannya yang b******k, mana mau Yura melakukannya. Itu saja sudah dibuat kaget saat lelaki itu hampir mengambil keperawanannya kalau pun itu sampai terjadi Yura gak bisa berbuat apa-apa dan juga lelaki itu gila dengan uang. Dipikir Yura mau apa diperlakukan hanya untuk memuaskan nafsu lelaki b******k seperti itu. "Heran, kok bisa ada lelaki seperti dia yang udah aku percaya kalau dia itu laki-laki yang baik tapi nyatanya dia hampir merusak masa depanku." Yura udah muak dengannya dan lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan apalagi sekarang hidupnya itu penuh dengan masalah dan saat dia sudah besar dia diculik entah karena apa yang jelas Yura aneh melihat lelaki yang jahat berubah jadi manis. "Itu penculik atau buaya sih?udah jahat tapi cara ngomong manis tapi sekalinya buat kesalahan kena baku hantam." "Assalamualaikum." Ucap lelaki tapi tak ada jawaban makanya dia langsung membuka pintu. Yura masih mengingat kejadian yang lama-lama Yura ingin kembali ke sana dan ingin membalasnya sama seperti apa yang terlihat di dahinya saat ini. "Lelaki tak punya hati." Kesal Yura tapi Yura gak sadar kalau dari tadi ada yang mengucapkan salam tapi dia sibuk dengan pikirannya sendiri. "Siapa itu laki-laki gak punya hati?" Andra yang berada di balik pintu langsung duduk di samping Yura. Tentunya Yura kaget. "Main nyelonong aja masuk." "Kamu gak denger aku ngucap salam tadi?" "Wa'alaikumsalam." "Baru sekarang dijawab." Andra hanya menggelengkan kepalanya dan Yura hanya menyengir gak tau dia kalau laki idolanya itu datang. Tapi untuk apa lagi dia kesini?. Pikir Yura tapi dia juga senang didatangi idolanya mungkin karena Yura udah biasa liatnya jadi biasa aja karena udah keseringan ketemu. "Kamu udah makan?" Harusnya yang nanya itu Yura ini malah Andra. "Belum." "Yaudah ni aku bawain tteokboki, mau?" "Kalau di tawarin mau, iyekali nolak rezeki." Andra tersenyum manis apalagi saat melihat Yura makan membuatnya semakin gemas ingin mencubit pipinya yang tembam apalagi sekarang bibirnya belepotan karena saus dengan segera Andra membersihkannya. "Kalau makan pelan-pelan jangan tergesa-gesa." Jantung Yura kembali berdetak kencang, baru pertama kalinya Andra seperti ini. Siapa sih yang gak baper diperlakukan seperti seorang pasangan padahal mereka hanya teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN