bc

Sejak Malam Itu ....

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
HE
escape while being pregnant
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
pregnant
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
bold
childhood crush
secrets
love at the first sight
affair
addiction
like
intro-logo
Uraian

Dominic terbangun di atas ranjang dengan wanita di sampingnya, yang paling tidak habis pikir olehnya, wanita itu adalah tunangan dari adik laki-lakinya sendiri.

.

“Sudah bangun, Jalang?” tegur Dominic.

.

Ditatapnya dengan tajam wanita yang tidak lain adalah tunangan adik laki-lakinya sendiri. Athena Moretti, dan tidak pernah ada dalam pikiran Dominic bisa terjebak dalam situasi menjijikkan seperti yang saat ini terjadi.

.

“D-Dominic?” suara Athena parau, nyaris tidak terdengar, “kenapa aku ada di sini? Apa yang terjadi?”

.

“Kau tidak pernah puas hanya dengan satu pria, ya?” bisik Dominic. Jemarinya yang kasar mencengkeram dagu Athena, memaksanya untuk menatap mata kelam itu.

“Setelah memohon-mohon pada adikku untuk segera menikahimu, sekarang kau merangkak ke ranjangku di malam pesta pertunangan kalian sendiri?”

.

Sejak malam itu, semuanya tidak lagi sama bagi Athena dan Dominic ....

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Tidur Dengan Tunangan Adikku?
Dominic terbangun, lelaki itu mengerang rendah, mencoba menghalau perasaan tidak nyaman yang dia rasakan. Kepalanya terasa berat, dan seluruh sendinya seolah terkunci oleh beban yang tidak masuk akal. Dominic mencoba menggerakkan bahu, namun lengannya menyentuh sesuatu yang lembut di sampingnya. Sesuatu yang hangat dan bernapas. Kerongkongannya terasa kering, lalu dia memaksakan kedua kelopak matanya untuk terbuka lebar, melawan cahaya pagi yang menyeruak dari balik tirai beludru. Pikirannya yang kabur mulai memproses keadaan sekitar, langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran barok itu terasa berputar di matanya. Ia menoleh perlahan. Di sisi lain tempat tidur yang luas, di bawah gumpalan selimut satin abu-abu gelap, ia melihat hamparan rambut cokelat panjang yang berantakan. Jantung Dominic berdegup kencang saat menyadari ada seseorang yang menemaninya semalam. Seorang wanita, ya, wanita, tidak salah lagi. Dengan gerakan kaku dan tubuh yang masih terasa lemas, Dominic beringsut pelan dari tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Kakinya menyentuh lantai yang dingin, mengirimkan sensasi kejut ke seluruh sarafnya. Ia melangkah dengan gontai menuju sofa kulit di sudut ruangan, tempat sebuah botol wiski dan gelas kristal masih tergeletak di atas meja bar kayu. Ia meraih botol itu, mendengar denting gelas yang terdengar seperti ledakan di kesunyian ruangan, membuat seluruh nyawanya langsung terkumpul di tubuhnya. "Sial!" umpat Dominic seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dominic pun duduk di sofa, menatap tajam ke arah sosok yang masih terlelap di ranjangnya. Ingatannya gelap. Seluruh ingatannya menjadi hitam gelap total. Ia mencoba menggali fragmen semalam, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang mengerikan. Sesuatu yang brutal telah terjadi, sesuatu yang terasa dipaksakan oleh keadaan atau takdir, dan dia—Dominic Valerius—adalah orang terakhir yang seharusnya berada di posisi ini. Dan dia lah yang akan menjadi tertuduhnya setelah ini, benar kan? Tidak lama setelahnya, Dominic memerhatikan ada pergerakan di atas kasur, wanita itu sepertinya mulai terusik dengan suara dentingan gelas tadi. “Sudah bangun, Jalang?” tegur Dominic. Suara Dominic terdengar rendah, berat, dan penuh dengan kebencian yang begitu jelas. Athena tersentak hingga hampir jatuh dari pinggiran ranjang. Di sudut ruangan, duduk seorang pria di atas kursi lengan berbahan kulit. Dominic Valerius masih mengenakan kemeja hitam yang berantakan dengan kancing atas yang terbuka, menampakkan gurat rahang yang mengeras. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi sisa wiski yang diminumnya tampak bergoyang pelan. Ditatapnya dengan tajam wanita yang tidak lain adalah tunangan adik laki-lakinya sendiri. Athena Moretti, dan tidak pernah ada dalam pikiran Dominic bisa terjebak dalam situasi menjijikkan seperti yang saat ini terjadi. “D-Dominic?” suara Athena parau, nyaris tidak terdengar, “kenapa aku ada di sini? Apa yang terjadi?” Dominic bangkit berdiri. Langkah kakinya yang tegas di atas karpet Persia terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Athena. Dominic berhenti tepat di hadapannya, merendahkan tubuh hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tatapannya sedingin es, menguliti harga diri Athena tanpa ampun. “Kau tidak pernah puas hanya dengan satu pria, ya?” bisik Dominic. Jemarinya yang kasar mencengkeram dagu Athena, memaksanya untuk menatap mata kelam itu. “Setelah memohon-mohon pada adikku untuk segera menikahimu, sekarang kau merangkak ke ranjangku di malam pesta pertunangan kalian sendiri?” “Tidak… aku tidak mungkin melakukannya,” isak Athena. Air mata mulai membanjiri pipinya. “Aku tidak ingat apa pun, Dominic. Aku bersumpah.” Dominic tertawa, sebuah tawa yang meremehkan, “Aktingmu luar biasa. Tapi sayangnya, tubuhmu tidak bisa berbohong. Kau menikmatinya, bukan? Kau haus akan kekuasaan keluarga ini sampai-sampai rela menukar kehormatanmu demi berada di bawah tubuhku.” Sumpah demi apapun, dia membenci kebohongan, dan menurutnya Athena sedang berbohong, dia ingin membuat seolah Dominic lah manusia paling berengsek di dunia ini! Dominic melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Athena terlempar ke samping. Dominic kemudian merogoh saku celananya dan melemparkan selembar cek ke atas ranjang. “Pakai pakaianmu dan pergi dari sini sebelum Julian melihat calon istrinya berubah menjadi sampah di kamar kakaknya sendiri.” Belum sempat Athena membalas, suara gaduh terdengar dari balik pintu jati yang tebal itu. Langkah kaki yang cepat dan suara tawa wanita yang melengking mendekat. Dominic membeku sesaat, matanya berkilat waspada. Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap Athena dengan raut yang lebih gelap dari sebelumnya. Tanpa peringatan, ia menyambar lengan Athena dan menyeretnya menuju dinding lemari rahasia yang tersembunyi di balik panel kayu. “Masuk ke dalam dan jangan bersuara,” perintah Dominic dingin. Tangannya mencengkeram leher Athena, tidak sampai mencekik, namun cukup kuat untuk membuat wanita itu tahu bahwa ia sedang tidak bermain-main. “Jika kau mengeluarkan satu suara saja, aku sendiri yang akan memastikan kakak-kakakmu hanya akan menemukan namamu di batu nisan,” lanjut Dominic. Pintu kamar didobrak dari luar tepat saat panel rahasia itu tertutup, menyisakan Athena dalam kegelapan total yang menyesakkan. Suasana di balik panel kayu itu terasa amat menyesakkan. Athena memeluk tubuhnya sendiri, berusaha meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di dalam kegelapan yang pekat, indra pendengarannya menjadi satu-satunya penyambung dengan dunia luar. Brak! Pintu kamar terbuka lebar. Suara tawa genit Cynthia menyapa ruangan itu, diikuti langkah kaki yang lebih berat. "Dom? Kau sudah bangun?" suara Nyonya Valerius terdengar dibuat-ibu, penuh kepura-puraan. "Kami mencarimu sejak tadi. Oh, lihat dirimu, kemejamu berantakan sekali. Apa kau melewatkan malam yang panjang dengan seorang wanita, hm?" tanya Nyonya Andrew Valerius, istri kedua dari ayahnya. Dominic menjawab dengan gumaman rendah yang dingin, "Ada apa? Tidak biasanya kalian menyerbu kamarku sepagi ini." "Kau bilang aku bersenang-senang dengan wanita? Jawabannya, ya, aku bersenang-senang, dan aku sangat menikmatinya. Sekarang jawab, mau apa kalian menyerbut ke dalam area paling pribadi milikku?" cecar Dominic lagi. "Kami mencari Athena," kali ini suara Julian yang terdengar. Nadanya terdengar cemas, namun bagi Athena yang sedang bersembunyi, suara itu kini terdengar seperti sembilu. "Dia menghilang setelah acara pertunangan semalam berakhir. Dia tidak ada di kamarnya, dan ponselnya tidak aktif." Di balik dinding, jantung Athena berdegup kencang. Ia teringat rasa sakit di tubuhnya dan tuduhan Dominic. Bagaimana jika Julian tahu apa yang sebenarnya telah menimpa dirinya? Apa Julian masih mau menerimanya setelah dirinya justru ditiduri oleh kakak laki-lakinya sendiri. Kepala Athena terasa mau pecah memikirkan segala hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi. "Lalu kenapa kalian mencarinya di kamarku?" tanya Dominic ketus. Athena bisa membayangkan pria itu sedang berdiri dengan wajah datar, menatap mereka satu per satu dengan kebencian yang sama besarnya. "Ponselnya terakhir kali terdeteksi di area sayap bangunan ini, Dom," sahut Cynthia dengan nada curiga yang kental, "kau tidak melihat calon adik iparmu yang cantik itu merangkak masuk ke sini, kan?" "Jangan konyol," potong Dominic cepat. "Aku tertidur karena alkohol semalam. Jika wanita itu cukup bodoh untuk tersesat di mansion ini, itu bukan urusanku! Aku tidak akan pernah menyentuh barang yang bukan milikku, jika kalian mencurigai hal kotor seperti itu, maka buang saja otak kalian!" Keheningan yang tegang menyelimuti ruangan. Athena menahan napas, jemarinya meraba lantai kayu yang dingin hingga ia menyentuh sesuatu yang keras dan kecil, sebuah kancing kemeja perak. Ia meremas benda itu, mencoba mencari kekuatan, seolah benda itu adalah bedan yang bisa menyelamatkan dirinya. Tiba-tiba, suara dering ponsel yang nyaring memecah ketegangan. Bukan ponsel Dominic, melainkan ponsel milik Julian. "Halo? Alessandro?" Julian menjawab telepon itu dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat sopan, hampir gemetar. "Ya, kami masih mencarinya. Dia belum kembali ke rumah? Aku mengerti... tidak, Alessandro, jangan khawatir, kami akan mencarinya ke seluruh penjuru mansion." Suara Julian terdengar semakin menjauh dari pintu kamar. "Itu kakak laki-laki tertuanya," bisik Julian kepada ibunya yang masih berada di dalam ruangan, "Alessandro Moretti menelepon. Dia bertanya kenapa adiknya belum sampai di rumah. Dia terdengar sangat marah. Jika Moretti sampai datang ke sini dengan pasukan keamanannya, kita bisa dalam masalah besar." Nyonya Valerius mendengus, "Biarkan saja Jaksa itu datang. Jika dia menemukan adiknya sedang bersembunyi di suatu tempat karena mungkin saja sudah melakiukan sesuatu yang memalukan, maka Moretti-lah yang akan menanggung akibatnya." Dominic mendesis, "Keluar. Sekarang. Sebelum aku kehilangan kesabaran." Langkah kaki mereka akhirnya menjauh, diikuti bunyi pintu yang ditutup dengan keras. Athena merosot di lantai lemari yang gelap. Alessandro mencarinya. Kakak tertuanya yang sangat protektif itu sudah menyadari ada yang tidak beres. Pintu panel rahasia terbuka tiba-tiba. Cahaya lampu kamar kembali menusuk matanya. Dominic berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kakakmu akan meratakan tempat ini dalam satu jam," ucap Dominic tanpa emosi. "Pakai pakaianmu. Aku akan membawamu keluar lewat pintu belakang sebelum para algojo Moretti datang dan melihat kondisimu yang menjijikkan ini."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
684.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
924.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
329.6K
bc

Not just, the Beta

read
331.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook