Maureen Tan menjadi pusat perhatian saat ini. Ya dia mendapat pandangan heran dari orang disekelilingnya karena saat ini dia tengah mengikuti salah satu turnamen yang biasanya diikuti para peserta pria.
Turnamen balap motor.
Kali ini Mo mengikuti turnamen sudah atas izin keluarga besarnya. Bahkan saudara Mo ikut hadir menyaksikan Mo bertanding hari ini.
"Adik kecil, jangan berbangga diri dulu. Kalahkan mereka maka kamu akan mendapat hadiah dari kakak," Larry menghampiri tempat istirahat para peserta untuk menyemangati salah satu peserta yang dia kenal.
Larry memberikan dukungan untuk salah satu calon adik iparnya.
Ivo juga datang menyaksikan pertandingan Mo. Dia datang bersama tunangan-nya.
"Tenang saja Kak. Jangan lupa janjimu untuk memberikan aku jabatan di pabrik," Mo menaikkan alis matanya naik turun. Mencoba mengajak Larry bercanda.
Tentu saja Mo hanya bercanda. Mo sudah melamar melalui jalur seleksi saat perusahaan keluarga Larry membuka lowongan penerimaan karyawan baru.
"Sayang sekali karena kak Grit tak izinkan calon suami kakak melakukan nepotisme. Fokus saja pada pertandingan hari ini, Mo."
Inggrit ternyata sudah berdiri di belakang punggung Larry. Larry menoleh ke arah belakang dan memundurkan tubuhnya.
Larry mengalungkan lengannya di pinggul Inggrit.
"Cie cie. Mesranya pasangan calon. Udah sana segera lamaran," kekeh Mo mengambil helmet yang berada di atas meja.
"Lamarannya tunggu kakak lelaki Larry menikah lebih dulu," sahut Inggrit tersipu malu.
Mo memberikan senyum kecut lalu melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh.
"Kita kembali ke kursi penonton yuk," ajak Larry berkata lembut pada kekasihnya.
Inggrit membiarkan tangan Larry tetap melingkari pinggulnya saat mereka melangkah bersama menuju podium dibawah tatapan heran dari orang-orang di sekitar mereka.
*****
Arena balap ...
Mo sudah duduk manis di atas motor balapnya. Semua kostum untuk peserta sudah dia pakai ditubuhnya.
Motor Maureen juga berdiri sejajar dengan motor lainnya.
Para peserta sudah siap dengan kendaraan mereka diposisi masing-masing.
#Semoga aku menang# Mo memanjatkan doa sebelum memuntir setir motor sebelah kanan.
Membunyikan suara gas motor seperti para peserta balap lain.
Saat bendera dikibarkan, Mo menginjak pedal gas diikuti memuntir setir kanannya hingga motor Mo meluncur dengan kecepatan tinggi di area balap.
Motor merah Mo terlihat unggul berada di posisi depan saat Ivo memfokuskan pandangan melihat jalannya turnamen.
Motor para peserta balap saling kejar mengejar hingga hampir mencapai garis finish.
Fokus Mo hanya tertuju ke arena balap.
Mo mengendarai motornya gila-gilaan dengan menginjak pedal gas hingga mentok saat matanya melihat garis finish begitu dekat dengan posisinya. Motor Mo akhirnya meluncur bagai angin melewati garis finish.
Dia menjadi satu-satunya peserta wanita yang ikut berpartisipasi.
Ya akhirnya pertandingan balap motor dimenangkan oleh Maureen Tan.
"Selamat ya Mo," Inggrit Tan menghambur untuk memeluk Maureen, adik bungsunya itu.
Maureen membalas pelukan serta ucapan selamat Inggrit dengan anggukan.
"Selamat ya calon karyawan," ledek Larry sambil tersenyum kecil.
Maureen terkekeh geli.
"Calon b***k," sahut Mo memeletkan lidahnya ke arah Larry.
Untung saja, Inggrit tak melihat kelakuan tak sopan adiknya itu. Andai dia melihat, sudah pasti Inggrit akan mengomentari sikap urakan seorang Mauren Tan.
*****
Dengan perasaan bangga Mo mengangkat tinggi piala yang dia terima di atas panggung acara.
Mo memamerkan senyum lebarnya ke arah kamera saat diminta berpose bersama piala yang baru saja gadis itu raih.
Turnamen kali ini diikuti oleh para peserta yang berasal dari kalangan atas. Dan juga acara ini hanya sebagai ajang penyaluran bakat namun teknis acara dibuat setara pertandingan sungguhan.
*****
Selepas acara ...
"Mo, kamu mau ikut Kakak makan siang?" Ivo berdiri di samping adiknya, menawari adik kecilnya untuk makan siang bersama.
Maureen tentu saja terkejut dihampiri pasangan Ivo.
Tunangan Ivo menatap ke arah Mo dengan tatapan mata bak seekor pemburu.
Ekor mata Mo mencuri lirik ke arah tunangan Ivo dan seketika dia merasa jijik mendapati tatapan mata lapar dari pria m***m yang adalah tunangan kakak perempuannya.
"Sorry Kak. Aku masih ada acara bersama teman-teman. Lain kali saja ya," tolak Maureen memberi senyum simpul ke arah kakaknya.
Pria itu mendengus mendengar penolakan Maureen. Dan Mo masih bisa mendengar helaan napas tunangan kakaknya itu.
Mo melihat kekecewaan yang terlihat jelas di wajah Ivo. Tentu saja Mo merasa bersalah menolak tawaran kakaknya tapi mau bagaimana lagi, Mo antipati saat ada tunangan Ivo.
Dia takut dan jijik.
"Kita akan bersenang-senang di rumah nanti malam. Bersama papa dan mama juga," bisik Mo di telinga Ivo.
Wajah Ivo kembali bersemangat saat adiknya menjanjikan untuk mengadakan pesta di rumah mereka. Memang mereka sudah cukup lama tidak berkumpul bersama.
Setelah Ivo berpikir sejenak, Ivo menyetujui usul adiknya.
"Oke. Kakak balik dulu ya Mo. Ingat, jangan mau diajak pergi dengan cowok yang tidak kamu kenal," Ivo memberi pesan sebelum pergi menjauh bersama tunangannya.
Maureen Tan menghela napas lega setelah bebas dari pandangan m***m tunangan Ivo.
"Hei, kamu kenapa?"
Rupanya kesialan belum usai dialami oleh Maureen. Buktinya ada pria m***m lain yang menghampirinya saat Maureen baru sempat menghela napas lega.
Mo memutar tubuhnya hingga dia bisa memberikan tatapan sinisnya ke pria yang sok akrab dengannya.
"Ada apa Brian? maaf ya aku sibuk," ujar Mo dengan wajah masam.
Brian terlihat ingin mengusik Mo lagi.
"Kamu kenapa judes sama aku, Mo. Apa aku ada salah sama kamu."
Brian memberikan wajah tanpa dosa yang menjadi andalannya saat merayu Mo.
"Alah, kamu tidak udah berlebihan. Salah kamu itu banyak Brian. Tuh, lihat para deretan mantan pacar yang sudah kamu buang," telunjuk Mo terarah ke segerombolan gadis muda yang berpakaian kurang bahan di sudut pintu.
Tatapan beberapa gadis terang-terangan menatap ke arah Brian dan Mo.
Brian ikut melihat ke arah telunjuk Mo dan dia hanya melempar senyum menggodanya kepada para deretan mantan kekasihnya.
"Mereka itu memang layak dibuang. Gampang didapatkan berarti murahan," kekeh Brian meneguk habis soda yang ada di genggaman tangannya.
Mo menelusuri tubuh Brian dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Mo tak mendapati hal yang memikat dari sosok Brian.
#Pria tua itu jauh lebih keren dari Brian# kekeh Mo menertawakan tingkat percaya diri Brian yang kelewat narsis.
"Asal kamu tahu ya Brian, aku juga bukan cewek baik seperti anggapan kamu selama ini. Aku baru saja menghabiskan malam panjang bersama pria yang jauh lebih keren darimu," Mo sengaja berbisik agar tak ada kuping lain yang ikut mendengar pembicaraan ini.
"Hahahaha, mana mungkin kamu mau melakukan one night stand dengan pria itu. Siapa pria itu kalau memang benar kamu sudah bermalam bersamanya," Brian berbicara dengan suara lantang seolah-oleh dia merasa marah.
Brian mungkin memang marah karena dia sudah kalah dalam taruhan bersama anggota geng bila memang apa yang Maureen ucapkan benar adanya.
#Cih, masa Mo mau ONS sama pria asing# otak Brian menyangkal ucapan Mo.
"Aku pria itu," Nicholas merangkul lengannya di pinggang Maureen.
Sedari tadi Nicho sudah melihat Mo diganggu oleh tunangan kakak perempuan Mo maupun Brian.
Maureen menoleh ke arah pria yang sudah lancang memegang tubuhnya. Saat dia menoleh dan mendapati sosok Nicholas yang merangkulnya, hati kecil Mo kembali tenang.
Niat untuk memberontak akhirnya dia urungkan.
"Nicho ... Nicho ... jangan suka berkhayal. Kekasihmu itu Bella. Sejak kapan kalian berhubungan. Lagipula aku tahu selera wanita milikmu Nicho. Pastinya Mo tidak masuk dalam kriteria wanita yang kamu jadikan kekasih," kekeh Brian pada ketua anggota geng.
Amarah Mo naik ke ubun-ubun. Dia membenci pria seperti Brian. Pria pesolek yang suka merayu gadis.
"Nicho sayang, untuk apa kita meladeni Brian. Lebih baik kamu bawa aku pergi dari sini," ujar Mo dengan suara lembut.
Sengaja bersuara seperti Bella yang pelan dan lembut.
Nicho dibuat terkejut dengan sikap Mo yang berubah sembilan puluh derajat terhadap dirinya tapi dia berhasil menguasai diri.
#Wanita ini memang cocok bersanding dengan Kings# pikir Nicho.
"Baiklah sayang," Nicho menghela tubuh Mo agar ikut bergerak pergi menjauh.
Tentu saja Mo dengan senang hati menyambut akting Nicho dengan senyum bahagia di wajahnya.
Brian menatap punggung Nicho yang bergerak menjauh dengan umpatan kesal. Dia tidak suka dipermalukan di hadapan wanita
#Awas saja kalian berdua. Akan aku balas kalian#
*****
Setelah Nicho dan Mo sudah berada di area parkir. Mo memuntir jari tangan Nicho yang masih merangkul pinggangnya.
"Wadidaw," pekik Nicho mengusap jari-jemari yang habis mengalami penyiksaan.
"Awas matamu, jangan sampai aku colok," Mo menunjuk dua jari ke mata Nicho.
Nicho beringsut mundur menjauh tiga langkah.
"Nah bagus. Cukup sampai di sini saja kita berjumpa. Jangan sok akrab denganku. Tadi hanya kamuflase semata," ujar Mo dengan bersedekap.
Nicho hanya mengangguk saja sambil mengusap jari tangannya yang masih nyeri.
"Dan maaf untuk tanganmu itu," Mo tersenyum lebar sebelum masuk ke dalam mobil.
Tak berapa lama kemudian mobil yang Mo kendarai bergerak pergi.
#Mampus kamu kak. Dapat macan betina seperti Mo# Nicho menertawakan nasib kakak sulungnya.
Padahal Kings tak pernah mengingat lagi kejadian beberapa waktu yang lalu bersama Maureen Tan.
Bagi Kings itu hanya sekadar perjumpaan tak disengaja.
Tapi bagi Tuhan, itu dinamakan takdir.
*****