Meet her, again

1706 Kata
[Ivander Adley] Di sini hampir seperti ruang kedap suara. Maksudku, ruanganku. Aku sedang berbicara mengenai ruanganku. Dari sini bahkan tak terlalu terdengar kebisingan yang ada di luar sana, seperti suara ketikan keyboard mechanical, suara telpon yang sesekali berdering ataupun suara obrolan para pegawai yang terdengar begitu bising jika dilakukan oleh beberapa orang sekaligus. Ruangan ini hening, hanya ada suara keyboarku dan suara embusan napasku sendiri, dan detak jantungku kalau aku mau lebih fokus mendengarkannya. Aku mendongak begitu mendengar suara ketukan pintu. Rupanya ada Nency yang langsung masuk begitu aku mengangguk ke arahnya. Ruanganku memang hanya dibatasi oleh sekat kaca, sehingga apapun yang kulakukan di dalam sini pasti tanpak dari luar, ya meskipun ada beberapa bagian yang sengaja dibuat menggunakan kaca buram. Tapi dari tempat dudukku saat ini, aku bisa melihat dengan jelas siapa saja yang akan masuk. "Ada apa?" tanyaku ketika Nency telah berada di depanku. Pakaiannya seperti biasa, selalu formal. Jas hitam dan rok selutut dengan rambut yang dikuncir kuda tak terlalu tinggi. Kacamata sesekali membingkai mata coklat Nency. Mata yang menurut Vigo begitu indah sampai sampai-sampai membuat pria itu tergoda untuk mengencaninya. Nency memilki garis keturunan Iran, dan itu dapat dilihat dari hidung dan matanya, serta rahangnya yang tegas. "Ada beberapa dokumen yang harus bapak tandatangani, mengenai optimasi pemasaran produk Mikup yang tak lama lagi akan diluncurkan," ujarnya sambil menyodorkan dokumen ke arahku dengan tangan yang gemetaran. Wait, kenapa dia gemetaran? Apa aku membuatnya takut? Atau bahkan gerogi? "Kau baik-baik saja, Nency?" tanyaku memastikan kalau wanita itu tak sakit. "Y ... eah. Saya baik-baik saja," jawabnya setelah menelan saliva. "Tanda tangan di sini dan di sini," kata Nency. Aku menandatanganinya setelah membaca beberapa poin yang ada lalu usai semuanya telah kutandatangani, Nency meninggalkan ruanganku setelah berterima kasih. Aku menatapnya yang berjalan ke luar dengan langkah cepat seperti biasanya. Wanita itu memang melakukan segala sesuatu dengan cepat dan menurutnya lebih cepat lebih baik, untuk efisiensi waktu. Tepat puku; dua belas siang, Vigo mengetuk pintuku. Dan tanpa kupersilakan masuk, dia langsung masuk dengan PDnya. Anak itu memang sudah biasa melakukan hal itu. Dia mendekat dan aku bisa melihat dengan jelas ada luka di bibir Vigo. Tepatnya di ujung bibirnya. Dan setelah dilihat lebih jauh, rupanya bukan hanya di bibir, tapi di buku jarinya juga terdapat luka. "Kau habis berkelahi?" tanyaku penasaran karena melihat kondisi Vigo saat ini. Vigo yang menyadari aku barusaja mengobservasi luka-lukanya langsung mengangkat tangan kanan dan melihat ke arah buku jarinya dan tersenyum. "Ya, semalam kami hampir dirampok," jelas Vigo. "Bagaimana bisa? Dan yang kau maksud kami itu ... kau dan Nency? " tanyaku berharap mendapatkan penjelasan yang jauh lebih rinci dibanding penjelasan singkat yang nantinya malah akan timbul pertanyaan berikutnya. "Yeah, aku dan Nency. Kami semalam hampir kerampokan. Untungnya aku berhasil mengalahkan mereka dan ada yang menolong kami," jelasnya. "Kau dan Nency baik-baik saja?" "Ya, hanya luka kecil saja dan untungnya Nency baik-baik saja." "Syukurlah," kataku menanggapi. "Oh ya, mau makan siang bareng? Aku, Nency, Vincent dan yang lainnya akan mencoba makan di restoran sebelah yang baru buka beberapa hari yang lalu. Kata orang-orang seafood di sana enak." Vigo mengajakku yang spontan kutolak karena, pertama : Aku sudah membawa bekal, kedua : Aku tak terlalu tertarik denganresoran itu, dan yang ketiga : Jika aku ikut, makananku siapa yang akan memakannya? Mustakhil jika aku membawanya kembali ke rumah. Yang ada, Kira akan ngambek dan tak mau lagi membawakanku makanan. "Aku tak bisa. Kira sudah membawakanku bekal," kataku sambil menunjukan kotak makan berwarna hitam yang kubawa padanya. "Oh ya ampun, andai aku punya istri," kata Vigo mengeluh. "Bukannya kau akan menikah dengan Nency?" tanyaku iseng, padahal Vigo tak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. "Yeah ... tapi dia masih belum mau dalam waktu dekat, katanya dia masih belum siap," ujar Vigo. "Oh, ya. Tadi aku melihat di berita, kalau Kira telah memberikan verifikasi mengenai kejadian MFW waktu itu." Vigo memberitahu. "Yeah, aku belum melihat tayangannya dan tak tertarik untuk melihat," ujarku. "Why?" "Aku tak menyukai apa yang diberitakan media lebih baik aku menanyakan sendiri pada orangnya. Itu lebih valid." "Benar juga." Vigo membenarkan ucapanku. Aku membuka kotak makan usai Vigo meninggalkan ruanganku dan langsung melahap makanan yang ada di dalamnya kurang dari lima belas menit. Dan seperti biasa, makanan Kira selalu enak. Aku memotretnya dan mengirimkan gambar padanya. "Seperti biasa, masakanmu selalu enak. Terima kasih." (Emotikon mencium) Aku keluar dari ruangan setelah menutup kotak makan dan memasukannya ke dalam tas khusus. Pergi ke toilet untuk mencuci tangan. Drrttt .... sebuah pesan masuk ke ponselku saat tanganku masih basah. Praktis aku mengeringkannya dengan beberapa lembar tiussue dan menilik pesan yang baru saja masuk. Kira. "Aku senang kau menghabiskannya." "Tentu, mana mungkin aku menyisakkan makanan seenak itu," balasku sambil berjalan menuju ruanganku. "Pak!" terdengar suara dari belakang. "Maaf, pak. Ada paket untuk Anda," ujar seorang resepsionist padaku sambil membawa sebuah kotak kecil yang katanya pesananku. "Oh, terima kasih," ucapku dengan senyuman. "Sama-sama." Aku memasukkan ponsel lalu melanjutkan perjalanan ke arah ruanganku. Akhirnya pesananku tiba juga. Sudah sekitar sebulan aku memesan benda ini dan akhirnya aku mendapatkannya. Aku meletakkan kotak itu di dalam tas kerjaku, lalu kembali melanjutkan percakapanku dengan Kira yang tadi terhenti. Dan benar saja, Kira membalas chatku. "Kamu mau request apa untuk besok?" tanyanya. "Apa saja, asal buatanmu akan kumakan. Dikasih racun juga kumakan," kataku bercanda. "Itu nggak lucu, Mas." "Hehe ... maaf kalau kamu nggak suka sama dark jokes," balasku. "Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Kira. "Mungkin agak malam. Soalnya aku ada janji." "Oh, okay. Makan di rumah, ya!" "Iya, tunggu aku pulang, ya!" "I love you." "Aku hanya mengirimkan emoticon mencium padanya. * * * Dua minggu sebelum ulang tahun Kira. Aku berkendara menuju Fleur de Nara yang letaknya tak jauh dari kantorku. Sebetulnya, aku bisa saja jalan kaki ke sana, tapi karena mobilku ada di basement, jadi aku harus mengambilnya dulu. Mungkin akan diparkir di depan Fleur de Nara yang untungnya memiliki area parkir lumayan luas. Seingatku, toko bunga itu buka sekitar setahun yang lalu. Aku ingat ada karangan bunga sebagai ucapan selamat atas bukanya toko itu dan lumayan aneh sih, toko bunga yang diberi karangan bunga. Sudahlah. Aku menyimpan nomor gadis itu. Menamainya dengan nama Fleur de Nara, karena siapa tahu aku perlu memesan bunga untuk Kira secara mendadak, jadi aku bisa menelponya dengan cepat. Niatku tadi mau menghubunginya lebih dulu tapi karena sangat dekat, jadi aku lebih dulu sampai bahkan sebelum aku menemukan kontaknya. Aku keluar dari mobil, berjalan ke arah pintu masuk yang masih tertera tanda OPEN di atas gagang pintu. Ketika aku membuka pintu, suara lonceng terdengar. Tempat ini sepi. Seolah tak ada karyawan yang menungguinya. Aku berjalan-jalan sambil melihat bunga-bunga yang ada di sini . Dan pandanganku tertuju pada bunga lili yang tampak sangat cantik. Aku menunduk, berusaha mencium aromanya, hingga akhirnya aku sadar ada kaki bersepatu flat berwarna biru pudar di dekatku. Aku menengok dan rupanya ada Nara di sana. Dia tersenyum ke arahku, menampilkan gigi rapi dan putihnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan bandana bunga yang menghiasi rambut ikal sebahunya. "Anda sudah datang," ujarnya sebagai pengganti sapaan. "Sesuai janji saya. Dan maaf karena melebihi perjanjian awal. Ada hal urgent yang harus saya urus," jelasku padanya sambil berdiri tegap menatap ke arah gadis itu. Tinggi kami setara jadi tak ada yang perlu menunduk atau mendongak. "Tak apa. Oh ya, mau langsung belajar sekarang?" tanya gadis itu. "Tentu, Atau mungkin karena ini pertama kali, aku perlu tahu banyak mengenai peralatan dan jenis-jenis bunga dulu," kataku. "Okay." Nara menjelaskan mengenai benda-benda apa saja yang dia gunakan untuk merangkai bunga. Selain itu dia juga menjelaskan mengenai bagaimana cara merangkainya hingga menjadi sebuah rangkaian yang padu. Katanya, merangkai bunga itu bagaikan membuat karya seni. Kita harus memahami dulu karakteristik bunganya dan memilih bunga yang pas untuk dirangkai dengan bunga lainnya. Semuanya harus pas sehingga tercipta rangkaian yang cantik. Merangkai bunga juga harus disesuaikan dengan kegunaan. Maksudnya disesuaikan dengan acara yang akan digelar. Misalnya aku yang ingin membuat kejutan ulang tahun kira di malam hari, harus memilih bunga yang memiliki warna elegan dan lebih soft agar terkesan menarik. Dia juga memperkenalkanku hampir semua jenis bunga dan memberitahuku bunga mana saja yang bagus dirangkai dengan bunga jenis tertentu. "Ngomong-ngomong, istri Anda akan berulang tahun kapan?" tanya Nara melirik ke arahku sembari berkutat dengan bunga di tangannya. Dia begitu cekatan dalam menyusun rangkaian. "Sekitar dua minggu lagi. Tanggal dua puluh satu Agustus." "Leo, pribadi yang kreatif, percaya diri, dominan, dan mampu mencapai apa pun yang diinginkan dalam setiap bidang kehidupan. Itu keren," ujarnya menebak-nebak kepribadian Kira. "Hampir benar secara keseluruhan. She is so ... amazing girl," ujarku pada Nara yang hanya dibalas dengan senyuman. "Nara! Aku mau pergi ke rumah Kikan dulu," ujar seorang pria di depan pintu. Kikan? Kenapa ada banyak nama Kikan akhir-akhir ini? "Ya ... jangan terlalu lama, bantu aku untuk menutup toko!" ujar Nara setengah berteriak. "Ya," jawab pria itu lalu menghilang ditelan pintu. "Rekan kerjamu?" tanyaku spontan. "Yeah, Anda akan sering melihatnya selama di sini. Namanya Lintang." "Okay.' Aku mengerutkan dahi. "Selesai!" ujarku sambil memperlihatkan rangkaian bunga yang kubuat pada Nara. Dia langsung mengeceknya dengan teliti dan wajahnya mengernyit. Aku yakin masih banyak yang miss, karena ini masih awal sekali aku mencoba merangkai bunga. "Masih banyak yang perlu diperbaiki, but ... mungkin lama-lama Anda akan terbiasa kalau sering merangkainya," ujar Nara. "Yeah, I think it's not bad for beginner," ujarku tersenyum kecut karena jujur saja itu buruk. Sangat jauh dibanding punya Nara yang sudah selesai beberapa menit yang lalu. "Yeah," jawabnya seolah terpaksa. Dan itu membuatku menahan tawa. Aku melirik ke arah jam tangan dan rupanya sudah jam setengah tujuh malam. Aku di sini selama satu jam setengah? Astaga. "Oh, sudah jam setengah tujuh. Saya harus pulang,' kataku berjalan ke arah bunga lily yang tadi menarik perhatianku. "Dan ... saya mau ini. Kau bisa membungkusnya?" Aku menunjuk ke arah bunga lili yang masih berupa buket bunga berukuran besar. "Oh, tentu saja," Dengan cekatan, Nara langsung membungkus beberapa tangkai bunga lily dan memberikannya padaku. "Berapa?" "400 ribu," ujarnya. Dengan sigap, aku langsung mengeluarkan kartu ATM dan membeikan padanya. "Dua hari lagi saya akan ke sini, terima kasih atas bunga dan les privatnya," ujarku. "Sama-sama, semoga istri Anda suka dengan bunganya," ujar Nara sembari memberikan kartu ATM-ku, dan setelahnya aku keluar dari toko dan pergi meninggalkan toko bunga ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN