bc

We Both Lying

book_age16+
157
IKUTI
1K
BACA
possessive
family
love after marriage
scandal
drama
sweet
cheating
lies
secrets
tricky
like
intro-logo
Uraian

Kehidupan rumah tangga Kira dan Ivan berlangsung harmonis, penuh cinta, rasa percaya dan kasih sayang. Mungkin mereka mengira itu akan terjadi selamanya, tapi anomali terjadi. Rasa yang sebelumnya begitu indah perlahan memudar dan menjadi hampa.

Mereka tak lagi saling percaya. Rahasia yang disimpan keduanya begitu gelap hingga membuat mereka enggan untuk saling mengungkapkan. Namun, rupanya takdir berkata lain. Ivan mengetahui rahasia yang selama ini disimpan sang istri sehingga membuat keduanya mau tak mau harus membuat sebuah perjanjian untuk melindungi keluarga masing-masing.

Akankah biduk rumah tangga mereka tetap utuh setelah rahasia terkuak? Atau hanya menjadi duri dalam daging yang akan menghancurkan hidup keduanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
PILOT
[Kirana Gantari]   Rona oranye langit senja menemaniku duduk di tepi danau. Bias cahaya lampu yang berasal dari gedung-gedung tinggi tampak indah dipandang, meskipun dingin menelusup melalui mantel tebal yang kugunakan. Bahkan bisa terlihat uap dari udara yang baru saja kuembuskan. Aku menoleh ke kanan, mendapati sepasang kekasih yang tengah memadu asmara. Tangan mereka bertautan sembari menikmati pemandangan indah danau buatan ini. Suara ponsel memecah lamunanku, membuat tangan kananku spontan merogoh saku untuk meraih ponsel di dalamnya. Janu? “Kau di mana?” tulisnya. “Di tepi danau, dekat tugu. Ada apa?” tanyaku buru-buru membalas. “Aku ke sana, ya? Pekerjaanku sudah selesai.” “Okay, hati-hati di jalan.” “Tentu, sayang,” tulisnya lalu diakhiri emoticon mencium. Baiklah, sekarang ada seseorang yang harus kutunggu. Aku selalu ke tempat ini kala suntuk. Aku malas berada di rumah. Rasanya seperti di neraka. Mengunci diri di kamar rasanya percuma saja jika suara-suara di dalam otakku tak mau berhenti berbicara. Keluar dari apartemen akan jauh lebih baik. Menikmati suasana lain dan terhindar dari suara berisik di dalam kepalaku. Suara lain terdengar. Bukan dari kepala, tapi dari perutku. Aku lapar. Belum makan sejak makanan terakhir yang masuk tadi pagi. Dan sekarang –aku mengangkat jam tangan—jam setengah enam. Aku menengok ke belakang. Mencari-cari pedagang yang mungkin saja dapat kuhampiri. Di samping tugu yang menjulang tinggi tampak seorang penjual kebab. Tanpa pikir panjang, aku mendekat untuk menghilangkan rasa lapar yang mendera. Jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempatku duduk tadi. Sambil berjalan ke sana, aku merogoh saku mantel, lalu celana. Bodoh! Aku tak membawa uang rupanya. Seketika aku menghentikan langkah. Ya ampun, kenapa kau begitu bodoh, Kira! Satu-satunya alat pembayaran yang kumiliki hanyalah saldo transportasi online. Tak bisa untuk membayar makanan ataupun yang lainnya. Aku mengembuskan napas panjang, kesal dengan kecerobohan yang kubuat sendiri. “Rupanya kau di sini?” Aku menengok sosok yang baru saja menepuk pundakku. “Janu!” panggilku pada pria pemilik manik coklat itu. Rambutnya terlihat rapi dengan bantuan pomade. “Kenapa kaget? Bukannya aku sudah bilang akan ke sini?” tanya pria itu lalu tanpa ragu menggandeng tanganku. “Tanganmu dingin. Sudah berapa lama di sini?” “Emm ... sekitar satu jam lebih.” Aku hanya menjawab salah satu dari pertanyaannya. “Ayo kita makan! Aku belum makan malam,” ajaknya sambil menarik tanganku. Dalam hati, aku bersyukur dengan ajakan ini. Sungguh, rasa lapar ini sudah tak bisa ditahan lagi. Aku tak mau pingsan, hanya karena belum makan. Aku mengikutinya sampai ke mobil. Sebuah Mercedes hitam tua yang mungkin usianya sudah jauh lebih tua dari kota ini. Tapi jagan salah, mobil ini memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Hasil dari modifikasi yang dilakukan oleh teman Janu. Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba pria itu menyerobot, dan membukanya terlebih dahulu. “Ya ampun, aku bisa membukanya sendiri.” “Tidak jika bersamaku, anggap saja dirimu putri saat bersamaku.” “Dan kau seorang kesatria dengan mobil ini?” tanyaku sambil menaikkan sebelah alis. “Tentu saja. Bukankah itu yang kau sukai, Tuan Putri.” Dia tersenyum, lalu menutup pintu mobil. Mobilnya selalu wangi. Dengan aroma menyegarkan lavender yang tak terlalu menyengat. Mungkin setelah ini akan tergantikan oleh aroma parfume yang kupakai. Bukan masalah besar, kecuali dia punya gadis lain yang akan memprotes bau parfume wanita yang memenuhi bagian dalam mobil. “Mau makan di mana?” “Restoran langganan kita,” jawabnya tanpa menoleh. Fokusnya tetap pada jalanan yang tak terlalu ramai. “Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu,” ucapku menoleh ke arahnya. Anting yang kukenakan bahkan terasa bergoyang karena gerakan menoleh yang cepat. “Ada apa?” tanya Janu menoleh sesaat sebelum akhirnya kembali menatap jalanan yang mulai gelap. “Aku tak membawa dompet. Jadi, boleh pinjam punyamu dulu? Nanti kukembalikan.” Aku tersenyum simpul. Ada rasa malu yang terselip dalam senyuman ini. Bukannya menjawab, Janu malah menutupi bibirnya dengan punggung tangan. Dia menahan tawa? “Ya ampun, Kira!” Akhirnya tawanya lepas. “Jadi cuma itu yang mau kau katakan?” Aku mengangguk. “Astaga, bukannya kau sering membayar makananku?” Aku mengangguk lagi. “Jadi kenapa kau pusing memikirkan hal itu? Anggap saja saat ini giliranku yang membayar,” ucapnya diselingi senyum yang menawan. Satu hal yang baru dari wajahnya. Rupanya dia baru saja bercukur. Jambangnya terlihat bersih. “Okay,” jawabku singkat. Ini akan jadi pertama kalinya seseorang membayarkanku makan. Kami turun di depan sebuah restoran yang tak terlalu mewah. Makanannya juga memiliki harga standar. Satu hal yang menjadi daya tarik tempat ini adalah, seafood-nya yang sangat enak. Selesai makan kami kembali ke dalam mobil. Berbincang sejenak mengenai hal-hal yang terjadi hari ini. Termasuk mengenai pekerjaan Janu sebagai bar tender. Dia menggeluti pekerjaan itu sejak setahun terakhir dan banyak hal yang bisa dia ceritakan mengenai harinya. Misalnya saja, waktu itu dia pernah menceritakan mengenai seorang pria kaya yang mabuk dan menceritakan segala masalahnya pada Janu. Soal istrinya yang kabur bersama pria idaman yang masih muda. Ironi, tentu saja. Atau seorang pria mabuk dengan segala talenta yang katanya dia miliki tapi masih saja menganggur. Entahlah, aku suka mendengar cerita-cerita yang Janu dapatkan dari orang-orang. Hal itu menjadi pengingat jika semua orang memiliki masalah. Jadi ... jika kau memiliki masalah yang besar, ingatlah kalau masih ada orang yang memiliki masalah lebih besar dari masalahmu. “Hari ini tak ada yang bisa kuceritakan. Aku diizinkan pulang lebih awal oleh Bos. Sisi baiknya, aku bisa mengajakmu makan dan kau tak perlu kelaparan lagi. Tuhan selalu menempatkanku di saat yang tepat untukmu,” ucapnya lalu menggenggam tangan kananku. Memutar-mutar cincin yang ada di jari manis lalu menatap mataku. “Hampir, hampir tepat.” Dia mengangkat tanganku lalu mengecupnya. Aku menyandarkan tubuh padanya, lalu memeluk tubuhnya erat-erat. Aroma maskulin dapat tercium jelas di hidungku. Aku selalu menyukai aroma tubuh Janu. Begitu menenangkan sekaligus memabukkan. “I love you,” ujarnya lalu mencium keningku. “I love you too,” aku membalasnya lalu melihat ke arah mata indah yang bersembunyi di balik bulu mata tebalnya. “Keluar!” teriak seseorang dari luar mobil. Aku menoleh dengan cepat ke luar jendela dan mendapati seseorang yang kukenal berada di luar dan menatap kami dengan tatapan pembunuh. Aku menatap tajam ke arah pria berjaket hitam itu yang masih saja mengetuk-ngetuk kaca mobil. Bahkan semakin keras seolah akan memecahkanya jika kami tak keluar. Janu menatap tajam ke arahnya. Aku tahu, pertemuan ini tak akan bagus. Bahkan begitu berbahaya. Aku menatap mata Janu, lalu berkata, “aku akan keluar. Kau bisa pergi sekarang.” “Tapi ....” Dia menghentikan ucapan saat melihatku menatap semakin dalam. Sepertinya dia paham isyarat yang kuberikan. “Kau bisa pergi, i’ll be fine. I promise.” Aku meyakinkannya. “Telepon aku nanti!” katanya sebelum aku membuka mobil. Tak ada jawaban yang kuberikan. Karena aku keburu keluar dari dalam mobil dan kembali merasakan hawa dingin yang beberapa saat lalu melingkupiku. Aku menatapnya. Tangan yang satunya kananku menutup mobil dengan keras. Terdengar suara mesin mobil yang dihidupkan lalu melaju meninggalkan kami. “Ada apa?” “Kau pergi dari rumah,” jawabnya. “Bukan urusanmu!” ujarku lalu berlalu meninggalkannya. “Kau lupa dengan perjanjian kita?” Seketika aku tersentak. Menghentikan langkah, lalu menoleh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Air Mata Maharani

read
1.4M
bc

Turun Ranjang

read
585.8K
bc

I Love You Dad

read
293.6K
bc

Long Road

read
148.4K
bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Pengganti

read
304.0K
bc

T E A R S

read
317.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook