Gadis Penjual Bunga

986 Kata
Empat bulan sebelumnya ....   [Ivander Adley]   Aku terpaksa harus berjalan kaki karena mobilku mogok, tepat satu kilometer lebih dari kantor. Mobil derek sudah membawanya dan mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk sampai di bengkel mengingat jalanan yang begitu macet. Itu juga salah satu alasanku berjalan kaki. Tak mau terjebak macet di dalam taxi yang sebenarnya bisa saja langsung kupesan. Tapi, lagi pula hanya satu kilometer. Berjalan satu kilometer ke kantor tak akan membuatku pingsan di tengah jalan. Aku menyusuri trotoar dengan etalas-etalase toko yang sudah mulai buka. Udara tak lagi dingin saat ini. Sinar matahari sudah mulai terasa panas. Nanti saat sampai di dalam kantor, aku yakin keringat akan membasahi tubuhku. Tadi pagi, seperti biasa aku bangun dengan sebuah kecupan di kening. Menandakan Kira lah yang bangun lebih awal. Aku tersenyum, menatap mata bulat menawan yang dimilikinya lalu mengucapkan selamat pagi padanya. Aku ingat betul pertemuan awalku dengan Kira. Waktu itu aku tengah menaiki lift menuju lantai di mana ruang kerjaku berada, tapi begitu pintu lift menutup secara otomatis, seseorang menghalaunya dengan menyodorkan tangan. Sontak pintu lift langsung kembali membuka dan seorang gadis dengan rambut ikal tergerai masuk dengan santainya. Aku tak mengenalnya waktu itu. Wajahnya benar-benar asing. Kalau pegawai baru, setidaknya aku tahu. Singkat cerita sebuah insiden terjadi, lift tiba-tiba berguncang dan sesaat setelahnya berhenti bergerak. Tangan kananku langsung meraih tombol untuk membuka pintu, tapi nihil. Tak ada apapun yang terjadi. Kami terjebak. Selama terjebak, Kira benar-benar diam. Dia seolah bersikap biasa saja. Tak ada sedikitpun ketakutan yang terlihat di wajahnya. Hingga akhirnya aku membuka pembicaraan dengan kalimat, "kau baik-baik saja?" Kira menoleh dengan santai ke arahku lalu menjawab, "sebentar lagi akan normal," ucapnya. Namun, rupanya kenyataan tak sesuai ekspektasi, kami terjebak di dalam lift selama berjam-jam hingga pada akhirnya menghabiskan waktu dengan mengobrol.   Brak ....   "Maaf ...," ucapku spontan begitu menyadari kalau aku baru saja menabrak seseorang. Bunga yang ada di tangannya jatuh dan berceceran. "Maaf, saya benar-benar tak sengaja!" "Sebaiknya begitu, anda sudah merusak stok bunga terakhir saya," ujar gadis itu kesal. Keningnya berkerut. "Ya ampun, biar saya ganti semuanya," tawarku. Berharap gadis itu mau menerimanya sebagai permintaan maaf. "Tak perlu," jawabnya kesal sembari memunguti bunga yang ada di jalanan. "Ayolah, saya tak sengaja. Saya benar-benar merasa bersalah." Gadis itu diam, lalu kembali ke dalam toko bunga. Aku masuk ke dalam tanpa disuruh, berusaha mengganti rugi yang telah kurusak, atau setidaknya berusaha mendapatkan maaf dari gadis itu. "Hey! Ayolah, biarkan saya mengganti yang rusak," ucapku pada gadis itu yang kini tengah menyortir bunga yang tadi rusak olehku. Tampak buruk. Banyak bunga yang tak lagi memiliki kelopak utuh. Sial, ini semua salahku. "Hey!" panggilku lagi setelah sekian menit tak juga mendapatkan jawaban. Gadis itu menghentikan kegiatannya, lalu menatap lekat ke arahku. "Sebaiknya Anda pergi sekarang!"kerasnya. Dia benar-benar kelihatan sangat marah dengan apa yang terjadi. "Tapi ...." Ucapanku terhenti oleh tatapannya yang benar-benar tajam. "Pergi atau saya panggilkan teman saya!" "Baik, saya pergi. Yang jelas, saya sudah berusaha minta maaf," ucapku masih melihat ke arahnya, kemudian berbalik meninggalkan toko bunga ini. Terdengar bunyi lonceng begitu aku membuka pintu depan. Aku berdiri di depan pintu, menoleh sekali lagi ke arah pintu kaca yang menampilkan gadis itu. Gadis yang kasar. Aku melangkah menjauhi toko bunga menuju kantor yang letaknya tinggal beberapa puluh meter lagi. "Selamat pagi, Pak!" panggil seseorang saat aku membuka pintu kaca. Seorang wanita dengan blazer berwarna abu-abu yang dikenakannya. "Pagi, Nensi." Aku memanggil nama gadis itu. Dia adalah salah satu anggota tim strategis di devisi yang kupimpin. Bekerja sekitar dua tahun yang lalu dan sejauh ini, dia yang paling rajin dan bisa diandalkan. "Bagaimana kabar Anda, Pak?" tanya Nensi padaku. Kami berjalan beriringan menuju ruanganku yang ada di lantai tiga. "Seperti yang kau lihat." Gadis itu tersenyum menanggapi jawabanku. Tak ada pertanyaan lagi setelahnya hingga akhirnya aku yang giliran bertanya. "Bagaimana denganmu?" tanyaku spontan. Sebenarnya, aku tak terlalu menyukai basa basi semacam ini dan lebih suka bicara secara to do poin, tapi untuk menghargainya tak ada salahnya untuk bertanya kabar, kan? "Baik, Pak. Oh ya, laporan yang saya berikan kemarin sudah bapak cek semua?” tanya gadis itu. “Oh, saya hampir lupa. Masih ada di meja. Nanti saya cek. Kemarin banyak berkas yang harus saya urus.” “Tak masalah, Pak,” ujarnya sambil menyelipkan rambut hitamnya ke telinga. Pintu lift terbuka, kami masuk ke dalamnya. Tak ada siapapun yang masuk setelah kami. Jadi, sampai di lantai tiga hanya ada kami berdua di dalam lift ini. Kami keluar begitu sampai di lantai tiga lalu berjalan ke ruang kerja masing-masing.   ***   “Saya memesan bukan untuk mendapatkan bunga seperti ini! Ini sampah, kau tahu!” teriak Vigo dari ruangannya. Suaranya sangat keras, sampai-sampai terdengar dari ruanganku meskipun ada sekat kaca yang yang memisahkan ruangan ini dengan area luar sana. Aku memutuskan keluar dari ruanganku karena penasaran dengan apa yang terjadi padanya sampai teriak-teriak seperti itu. Sungguh, suaranya membuatku sulit untuk berkonsentrasi. Aku berjalan perlahan ke arah meja kerja Vigo. Suaranya semakin keras terdengar, memarahi seseorang yang entah siapa itu. Apa dia tak malu berteriak-teriak seperti itu di kantor? Ya ampun. Aku melihat sesosok gadis dengan rambut sebahu tengah menunduk sambil membawa buket bunga. Tunggu, sepertinya aku mengenalnya. Aku mendekati mereka dan berdehem. Spontan gadis itu dan Vigo menoleh ke arahku. Mata gadis itu melotot dan Vigo menundukan pandangan. “Anda!” ujarnya sambil menunjuk ke arah wajahku.” Aku tak berekspresi sedikitpun untuk menanggapinya. “Dia yang merusak bunganya, Pak. Jika bukan karenanya, bunga yang Anda pesan tak akan rusak seperti sekarang ini.” Dia mengadu, menyalahkanku atas kekacauan yang terjadi. “Tunggu, kau yang memesan bunga dari gadis ini?” “Iya, Pak,” jawab Vigo. “Baik, saya yang akan mengurusnya. Dan kau, bisa ikut ke ruangan saya!” Gadis itu menatapku kaget. Mungkin bertanya-tanya siapa aku dan kenapa aku memintanya mendatangi ruanganku. “Sekarang!” lanjutku. Kali ini lebih tegas untuk membuatnya menuruti perintahku. “I-iya, Pak,” jawabnya tergagap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN