[Ivander Adley]
“Jadi bunga yang kau bawa itu pesanan Vigo?”
“Vigo?” Dia bingung.
“Pria yang tadi memarahimu dengan tak sopan.”
“Ya, dan saya tak akan mendapatkan amarah darinya kalau Anda tidak merusak bunga yang saya bawa.” Gadis itu melipat tangan di d**a.
“Okay, saya kan sudah meminta maaf padamu. Lagi pula saya tidak sengaja menabrakmu.” ucapku membela diri. Gadis itu masih tampak kesal padaku.
“Saya bisa membebaskanmu dari amukan pria itu jika kau menerima dua syarat dari saya.” Gadis itu menaikkan alis. Tampak penasaran dengan syarat yang hendak kuajukan. “Bagaimana?” lanjutku.
“Syarat apa?”
“Pertama, kau memaafkan saya ....”
“Itu mudah,” ujarnya memotong ucapanku. Padahal jelas-jelas aku belum selesai bicara.
“Dan yang kedua, ajari saya untuk merangkai bunga. Istri saya suka sekali dengan bunga dan sepertinya dia akan sangat menghargai jika saya sendiri yang merangkainya.” Gadis itu tampak berpikir. Mungkin mempertimbangkan beberapa hal yang tak kupikirkan.
“Saya bisa saja kembali menyerahkanmu pada Vigo dan tutup kuping dengan masalahmu. Tapi, asal kau tahu saja, dia bukanlah orang yang ramah, dan mungkin saja akan melakukan hal yang tak akan pernah kau pikirkan sebelumnya.” Aku tak memberikannya pilihan. Dan mengenai Vigo, aku jujur soal dia. Dia adalah orang paling ribet yang pernah kukenal.
“Setuju, kapan Anda ingin mulai?” tanya gadis itu. Sepertinya dia mantap dengan pilihannya.
“Besok. Karena ulang tahun istri saya akan segera digelar beberapa minggu lagi. Saya ingin membuat pesta yang megah dengan rangkaian bunga yang saya pasang sendiri.”
Aku yakin, pasti Kira akan menyukainya. Dia begitu suka dengan bunga dan aku tahu betul seperti apa seleranya.
“Baik! Jam berapa?”
“Setelah saya pulang kerja, mungkin setengah lima. Satu jam setiap hari sampai saya mahir. Oh ya, tenang saja, saya akan membayarnya. Anggap saja les merangkai bunga.”
Gadis itu mengangguk. Menyetujui persyaratan yang kuajukan. Sebenarnya, ini adalah ide spontan yang tiba-tiba keluar dari otak dan entah kenapa sepertinya akan menyenangkan bisa memberi kejutan pada Kira.
“Okay, kau boleh keluar. Abaikan Vigo jika dia mengatakan sesuatu padamu. Saya yang akan bicara padanya.”
“Baik, Pak.”
“Tunggu!” Dia berbalik begitu mendengar ucapanku.
“Namamu?”
“Nara, Nara Alexandra. Anda bisa menemui saja di Fleur de Nara,” ucap gadis itu dengan logat Perancis yang begitu kental saat menyebutkan kalimat terakhirnya. Jelas, dia memiliki darah Eropa.
“Okay.”
Gadis itu membuka pintu kaca, lalu keluar dari ruanganku. Aku menyandarkan kepala pada kursi, lalu memutarnya. Vi-go, untuk apa pria itu memesan bunga?
Aku keluar dari ruangan, menuju pantri untuk membuat kopi. Perusahaan kami memiliki OB yang bebenarnya bisa diperintahkan untuk membuatkan minuman apapun. Namun rasanya tak seenak buatanku. Lagi pula OB yang baru tak terlalu mahir membuatkan pesananku. Pintu terbuka, dan aku memergoki Vigo yang tengah mencium tangan Nensi.
“Pak!” ucap Nensi tampak canggung menyadari kehadiranku. Tentu saja gadis itu langsung menarik tangannya lalu menyembunyikannya di belakang tubuh.
“Abaikan kehadiran saya!” kataku untuk membuat mereka tak lagi merasa canggung. Mereka memang memiliki hubungan spesial. Mungkin sejak beberapa bulan yang lalu. Entahlah, yang jelas aku baru menyadari kedekatan mereka sekitar beberapa bulan yang lalu.
“Maaf,” ujar Nensi.
“Tak perlu minta maaf. Lanjutkan saja dan abaikan kehadiran saya,” ucapku lalu menekan tombol pada termos untuk mengeluarkan air panas. Aroma kopi langsung tercium di hidungku, benar-benar nikmat.
“Ngomong-ngomong, bunga itu untuknya?” tanyaku menatap ke arah Vigo sembari mengaduk kopi dengan sendok.
“Apa?” tanya Vigo terdengar kaget.
“Okay, lupakan! Maaf mengganggu kalian.” Aku tersenyum ke arah mereka lalu membawa kopiku pergi meninggalkan pantri. “Good luck, Nensi!” ujarku di balik pintu yang telah kututup. Aku menahan tawa saat berjalan menuju ruanganku. Membayangkan bagaimana dua orang itu yang saat ini pasti merasa canggung satu sama lain.
Aku membuka pintu, lalu berhenti di tengah-tengah pintu ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna biru tua berada di ruanganku tengah berdiri menghadap kaca jendela.
“Ayah!” Sosok itu pun langsung menoleh dan tersenyum. Aku berjalan mendekat. Meletakkan kopi di atas meja kerja, lalu memeluknya dengan sangat erat.
“Sejak kapan Ayah di sini?” tanyaku melepaskan pelukan.
“Sejak kau keluar dari ruangan ini.”
“Ya ampun. Duduk!” aku mempersilakannya untuk duduk di sofa nyaman yang berada di pojok ruangan. “Mau kuambilkan minum?” tanyaku sembari duduk di sampingnya.
“Tak perlu, Ayah hanya sebentar di sini.”
“Bagaimana kabar Ibu?”
“Sehat. Dia lagi senang memasak sekarang. Mencoba berbagai macam resep baru dari youtube.” Ayah tersenyum setelahnya.
“Sudah lama aku tak pulang ke rumah.”
“Ya, dua bulan?” Ayah menaikkan sebelah alisnya.
“Mungkin, weekend ini aku usahakan untuk pulang. Kangen juga sama Dito.”
“Kapanpun kau mau, pintu rumah selalu terbuka buat kamu.”
“Ngomong-ngomong, ada urusan penting kah, Ayah tiba-tiba ke sini?”
“Tak ada, hanya kangen sama jagoan Ayah. Tadi Ibu Ayah ajak kemari, tapi menolak. Kau tahu sendiri, kan, bagaimana dia kalau perjalanan jauh menggunakan mobil?”
“Ya, aku paham,” jawabku sambil mengingat kondisi saat pertama kali mengantarku ke kota ini saat awal kuliah dulu. Benar-benar ide buruk mengajaknya bepergian jauh.
“Bagaimana kabar istrimu?”
“Baik-baik saja.“
“Maksudnya ... kau tahu lah. Ibumu mau menanyakan ini tapi katanya tak enak.”
“Oh ... kami berdua masih sama-sama sibuk, Yah.” Aku tahu arah pembicaraan ini. Tak ada yang salah dengan pertanyaan Ayah. Wajar jika mereka menanyakan perihal momongan pada kami yang sudah menikah selama hampir dua tahun. Aku memutuskan untuk menikah muda saat itu. Saat aku berada di puncak karir, beberapa bulan setelah aku diangkat sebagai seorang manajer di tempatku bekerja. Kira juga mengambil keputusan yang besar. Dia membatalkan kesempatannya untuk ke newyork dan memilih untuk tetap di sini bersamaku. Mungkin saat ini dia akan lebih bersinar jika dulu pergi ke newyork bersama agency yang menawarinya untuk berkarir di sana.
“Van!” Suara Ayah memecah lamunanku seketika.
“Ya?”
“Kau bengong?” Sebelah alisnya naik.
“Ayah tadi bilang apa?”
“Tak apa, hanya mendoakan kalian hal yang baik.”
Percakapan kami berlanjut hingga makan siang tiba, karena dia memang datang saat waktu makan siang hampir tiba. Aku mengajaknya makan di luar. Sebuah restoran favoritku yang letaknya dekat dengan kantor. Kami melanjutkan perbicangan di sana hingga akhirnya, Ayah pulang setelah memberikan sebuah gelang yang sangat cantik. Katanya dari Ibu untuk Kira. Ibu memang sangat menyukai Kira. Dia bahkan memanggil Kira sebagai Angel, karena menurutnya paras ayu Kira bagaikan malaikat, serta bagaimana dia memperlakukan Ibu benar-benar membuat Ibu terkesan. Nanti malam akan kuberikan gelang ini padanya. Semoga saja dia menyukainya.