"Panggilan tak terjawab dari Vira sampe sepuluh kali? Buset. Gue tidur atau pingsan semalem? Bisa-bisanya ada telepon sampe sepuluh kali, gue sama sekali nggak denger? Astaga ...."
Baru bangun tidur, Gibran langsung mengecek ponselnya demi melihat sekarang jam berapa. Namun, ia justru mendapati ada history panggilan dari Vira sampai sepuluh kali. Dilihat dari jam-nya, Vira meneleponnya antara sekitar jam sepuluh malam sampai pukul dua dini hari.
Ketika semalam sampai rumah, Gibran langsung bersih-bersih badan kemudian pergi tidur. Dia bangun pun saat sudah kelewat Subuh begini. Karena efek badan yang kelelahan, Gibran benar-benar pulas tidurnya.
"Ada info apa ya si Vira sampai telepon berkali-kali begini? Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kondisi Lara?"
Niatnya Gibran ingin menghubungi Vira balik, tapi ia putuskan untuk salat Subuh terlebih dahulu karena sudah jam lima lebih.
Selesai menunaikan ibadah, Gibran lalu meraih ponselnya kembali dan mencoba menghubungi Vira. Sampai tiga kali ia mencoba menelepon suster yang ngomongnya medok itu, tapi tak sekali pun Vira angkat.
"Kayaknya Vira lagi balas dendam karena gue semalem nggak ngangkat teleponnya dia. Kira-kira ada perlu apa ya dia sampai telepon berkali-kali? Akh, daripada menduga-duga, mending gue langsung cabut ke rumah sakit sekarang."
Gibran langsung menyambar kunci mobil yang terletak di meja nakas. Ia putuskan untuk memakai jaket terlebih dahulu sebelum bergegas keluar kamar.
Lelaki yang memiliki hobi traveling tersebut memutuskan untuk memanasi mobilnya terlebih dahulu. Sambil menunggu, Gibran gunakan waktu untuk minum air putih hangat sebagai ganjal perut.
Di rumah ini, ia tinggal seorang diri. Rumah dengan lantai dua tersebut baru saja Gibran beli satu bulan yang lalu. Sebenarnya sudah dari kemarin Gibran sibuk mencari asisten rumah tangga untuk membereskan rumahnya. Tapi sampai detik ini belum juga dapat. Biasanya yang rajin bersih-bersih di rumah ini sekaligus memasakkannya adalah Lara.
Mobil Gibran telah panas, dan ia siap melaju dengan roda empatnya tersebut. Namun, baru saja memakai sabun pengaman, ponsel dalam saku celananya itu tiba-tiba berdering nyaring. Rupanya ada panggilan telepon dari Vira.
"Iya, Vir, ada apa? Apa ada perkembangan dari Lara?"
"Wes, pokoe Mas Dok cepetan ke sini yo? Mba Lara semalam wes sadar, Mas."
"Serius, Vir? Alhamdulillah." Gibran bahagia bukan main.
"Iyo, Mas. Buruan ke sini. Mba Lara ki wes kangen loh pengen dicap cip cup jidate sama Mas Dok."
"Masa iya baru sadar tau-tau kangen pengen dicap cip cup? Kamunya aja kali yang mupeng. Sekarang Lara lagi apa, Vir?" Roda empat Gibran mulai melaju keluar dari halaman rumah. Kondisi lelaki itu tengah menjepit handphone di antara telinga dan pundaknya supaya ia tetap bisa mengobrol dengan Vira sambil menyetir.
"Mba Lara tentunya lagi tiduran to, Mas. Masa iyo, baru sadar tau-tau langsung jejogetan. Mas iki pertanyaane ngadi-ngadi banget."
"Oke, oke, udahan dulu, Vir. Aku lagi nyetir. Pokoknya, segera kabari aku kalau ada apa-apa sama Lara, ya?"
Gibran memutuskan panggilan telepon, kemudian ia memilih untuk fokus menyetir agar lekas sampai ke rumah sakit.
***
"Mba Lara baru aja tidur, Mas Dok," kata Vira memberitahu Rasya.
Rasya sebagai dokter yang menangani Lara baru saja datang pagi ini.
"Dia udah bisa berinteraksi belum?" tanya Rasya.
"Udah sih, Dok. Sama aku tak tanyain apa gitu, ya bisa jawab, cuma ngomongnya masih lemah gitu, Dok."
Rasya memerhatikan Lara dari atas sampai bawah dengan seksama. Ia merasa ada yang aneh dengan Lara. Dokter itu memilih mengedarkan pandangan. Ia memiliki insting kalau ada makhluk tak kasat mata yang senantiasa menunggui Lara. Tapi sayangnya Rasya tidak menemukan keberadaan makhluk itu di sini.
'Aneh banget. Aku merasa ada yang mengikuti Lara. Tapi kenapa aku nggak bisa lihat dia, ya?'' batin Rasya.
"Ngelihatin opo sih, Mas? Kesane kayak lagi nyari-nyari hantu? Di sini ada hantune juga po?" Vira mendadak celingak-celinguk. Takut saja kalau memang benar ada hantu di ruangan ini.
"Lagian, iki kan wes pagi, moso hantu masih berkeliaran juga, sih? Opo nggak takut sama sinar matahari?" celetuk Vira.
"Yang kamu maksud itu hantu atau vampir? Ada-ada aja kamu, Vir."
Rasya tiba-tiba saja meletakkan tangan kanannya di puncak kepala Lara dengan hati-hati, karena ia tak ingin gadis itu terbangun. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Lara. Kedua mata pria itu perlahan terpejam, disertai dengan mulut yang senantiasa merapalkan doa.
Di penglihatan Rasya, ia mendapati adegan demi adegan mengerikan yang dialami oleh gadis itu. Semua terekspos jelas. Saat Lara didatangi hantu perawat sewaktu tengah menyetir. Sampai gambaran Lara mengalami kecelakaan pun terlihat begitu jelas di penglihatannya.
"Astaghfirullahal'adzim ...!"
Rasya tiba-tiba tersentak. Ia menarik cepat tangannya. Tubuh pun ikut terhuyung ke belakang. Napas pria itu memburu. Dan d**a tak luput dari rasa nyeri.
"Ono opo to, Dok? Ngageti aku wae." Vira mendadak panik setelah melihat Rasya tersentak begitu saja.
Seketika Lara terbangun karena suara di ruangan ini cukup gaduh. Gadis itu langsung bertatap muka dengan Rasya. Sesaat Lara tersenyum.
"Pagi, Kak," sapa Lara lirih.
"Tuh kan, jadi ganggu pasien tidur. Mas iki sih. Ribut wae koyo anak TK." Vira main menyalahkan Rasya saja.
"Ekhem, pagi, Ra. Gimana kondisi kamu? Sebentar ya, aku periksa dulu." Rasya lalu memeriksa Lara dengan stetoskopnya.
"Apa yang kamu rasain sekarang?" tanya Rasya pada pasiennya.
"Badanku terasa sangat remuk," keluh Lara.
"Wajarlah. Kamu kan habis kecelakaan. Bahkan sampai mengalami koma sebentar. Kamu cukup istirahat yang cukup. Pikiran yang positif, pelan-pelan kamu pasti akan sembuh. Dan menurutku luka di kepala nggak serius-serius amat. Yang lain juga cuma lecet-lecet." Rasya mulai memerhatikan kaki Lara yang masih tertutup kain selimut itu. Firasatnya mengatakan, luka yang paling parah adalah di kaki gadis tersebut.
"Iyo, Mba Lara. Fokus pemulihan dulu, yo. Jangan buru-buru mikirin pekerjaan atau apa." Vira menimpali.
Rasya dan Vira pun memilih keluar dari kamar perawatan Lara karena mereka ingin Lara beristirahat lagi.
"Sya, gimana kondisi Lara?" tanya Gibran yang tahu-tahu datang menghampiri Rasya dan Vira.
"Biar Mas Rasya wae sing jelasin. Aku mau siap-siap pulang dulu. Rasane nguantuk tenan jaga semalaman," pamit Vira.
Setelah gadis perawat itu berlalu, Rasya mulai menjelaskan perkembangan kondisi Lara saat ini pada Gibran.
"Lara kondisinya udah stabil, sih, Ran, tapi ...."
Gibran paling sebal kalau sahabatnya itu sudah ngomong ada 'tapinya'. Biasanya, pasti ada kabar buruk di balik kabar baik ini.
"Ada hal yang mengkhawatirkan dari Lara?" tanya Gibran kembali.
"Ya mudah-mudahan aja prediksi gue meleset, ya. Lara kayaknya mengalami kelumpuhan sementara. Karena kecelakaannya kemaren kan cukup parah. Saraf tulang belakangnya kayaknya cedera, dan itu yang menyebabkan Lara mengalami lumpuh. Tapi alangkah lebih baiknya nanti kita rontgen dulu biar jelas. Ya mudah-mudahan aja sih prediksi gue ini salah." Sedari dulu Rasya memiliki kemampuan membaca pikiran orang yang berada di dekatnya, serta membaca masa lalu dan masa depan orang tersebut.
"Tapi menurut pengalaman, prediksi lo nggak pernah meleset, Sya. Gue jadi khawatir sama kondisi psikis Lara. Takutnya dia belum bisa nerima kalau dia dinyatakan lumpuh, Sya."
Rasya paham betul dengan kekhawatiran yang dirasakan Gibran.
"Tenang aja. Coba dulu lo jelasin pelan-pelan ke dia. Gue yakin, Lara pasti akan belajar menerima ujian ini kok. Jangan lupa, dampingi dan kasih support terus buat dia."
Tak perlu Rasya perintahkan, Gibran pastinya akan selalu mendampingi dan menyemangati Lara. Setelah Lara mengalami kecelakaan seperti ini, Gibran merasa benar-benar menyesal karena sempat lalai menjaga Lara.
Tbc ...