"Pagi, Sayangku."
Gibran tahu kalau detik ini Lara tengah terlelap. Namun, ia tetap menyapa kekasihnya. Lelaki itu memilih duduk di samping kiri hospital bed dengan hati-hati. Niatnya Gibran ingin mencuri ciuman pada bibir Lara, karena kebetulan gadis itu sudah tidak menggunakan ventilator lagi. Hanya tinggal tersisa selang oksigen di bawah hidung. Akan tetapi, belum juga mencium, Lara sudah keburu membuka mata.
"Aih, malah melek lagi. Baru juga mau nyium."
Lara memasang wajah cemberut di depan Gibran. Sebenarnya ia masih menyimpan rasa kesal pada pria itu. Meski mengalami cedera kepala ringan, tetap saja Lara masih ingat dengan insiden pelukan antara Gibran dan Rinka yang membuat dirinya masih menyimpan amarah sampai sejauh ini.
"Tuh kan, kalau lihat aku pasti langsung cemberut mukanya. Kamu kenapa, sih? Masih marah ya sama aku? Kamu tau nggak, aku adalah orang pertama yang khawatir akan keadaan kamu, loh. Harusnya kamu seneng dong dikhawatirin sama aku."
Lara memang senang-senang saja Gibran khawatir padanya. Namun, Lara akan tetap bersikap seperti ini selagi pria itu masih belum tegas para Rinka.
"Kamu kangen nggak sih sama pacarmu yang ganteng ini?"
"Enggak," jawab Lara mantap. Refleks Gibran menertawakan jawabannya.
"Ya ampun, Ra, Ra. Bener-bener kamu, ya? Kamu dendaman banget sih sama pacar sendiri? Masa iya kamu nggak sedikit pun kangen sama aku? Oke, aku paham kamu pasti masih marah atas insiden malam itu. Aku janji aku akan jelasin semuanya, tapi nanti ya kalau kondisi kamu benar-benar udah pulih. Sekarang kamu harus istirahat total. Jangan banyak gerak dan jangan banyak bicara dulu. Oke, Sayang?"
Lara hanya diam menatap kekasihnya. Sebenarnya banyak yang ingin ia bicarakan dengan lelaki itu, tapi sepertinya ia harus menuruti perintah Gibran untuk beristirahat total agar kondisinya cepat membaik.
Lara perlahan kembali memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Perlahan ia merasakan ada sentuhan lembut mendarat pada puncak kepalanya. Gadis itu tahu kalau detik ini Gibran tengah asyik mengusap-usap halus puncak kepalanya.
"Tidur yang nyenyak, Sayang. Aku mau cari sarapan dulu," bisik Gibran.
Lelaki itu pun bergerak meninggalkan kamar perawatan Lara, demi mencari sarapan di kantin rumah sakit.
Ketika Gibran baru saja berlalu, Lara kembali membuka kedua matanya. Ia merasa bimbang dengan situasi hatinya saat ini. Sejak semalam ia merasa sangat takut dan cemas. Ketika baru saja sadar, hal pertama yang ia lihat adalah wajah mengerikan seorang perawat wanita yang sempat menerornya di dalam mobil sebelum kecelakaan itu terjadi.
'Kamu harus menghabisi nyawa-nyawa yang aku targetkan untuk melunasi dendam kesumatku.'
Lara masih sangat ingat dengan ucapan perawat itu semalam, ketika dirinya baru saja sadar. Ia sama sekali tidak paham dengan maksud dari ucapan misterius tersebut. Kalau Lara harus menghabisi nyawa orang, itu sama saja ia harus menjadi seorang pembunuh. Lara sangat tidak ingin melakukan hal keji itu.
"Aku harus gimana? Aku harus minta tolong ke siapa ...?" Lara bingung dan nyaris putus asa.
Ingin sekali ia bercerita pada Gibran atau Rasya, tapi ia bingung harus memulainya dari mana. Lara berniat akan bangun. Ia ingin duduk bersandar meski dirinya belum sepenuhnya yakin kalau ia akan mampu. Namun, Lara justru merasakan ada keanehan pada kedua kakinya.
"Kakiku kenapa? Kok nggak bisa digerakin kayak biasanya?"
Perlahan Lara menyingkap selimut yang menutupi kakinya tersebut. Kondisi kedua kakinya itu tengah terbalut perban. Semakin ia mencoba menggerakkan, justru rasanya sangat sakit.
"Aduh, sakit banget. Kakiku kenapa ...? Gibran ...." Gadis itu memanggil nama kekasihnya. Karena kondisinya yang masih lemah, Lara tidak memiliki daya yang kuat untuk mengeluarkan suara yang lebih keras apalagi berteriak.
"Suster, tolong. Tolongin saya, Sus." Kali ini Lara memanggil-manggil perawat dengan tenaga yang masih tersisa.
***
"Lahap bener makannya? Doa dulu nggak tuh?" Rasya menghampiri Gibran yang tengah asyik melahap nasi goreng di kantin rumah sakit.
"Ya doa dong. Gue tuh lagi kelaparan. Elo kalau mau pesen, ya tinggal pesen. Nanti bayar sendiri tapi ya?" Gibran kembali melanjutkan acara makannya.
"Sambil lo makan, gue mau ngomong sesuatu yang penting nih."
Gibran hanya melirik Rasya sekilas kemudian meneguk air putih di sebuah gelas panjang yang telah tersedia di sebelahnya.
"Ngomong penting apaan? Mau bahas soal kelumpuhan Lara? Gue belum bahas masalah ini ke dia, belum tepat aja waktunya."
"Gue bukan mau bahas masalah itu. Gini loh, gue dapat gambaran kalau penyebab Lara kecelakaan itu karena diteror oleh salah satu makhluk tak kasat mata."
Aksi mengunyah Gibran lantas terhenti ketika mendengar pernyataan mengejutkan dari Rasya.
"Serius lo? Makhluk apaan emang? Apa motifnya gitu sampai neror Lara segala?" tanya Gibran tak cukup sekali.
"Entah ada motif apa, gue belum berhasil menemukan jawabannya. Yang gue tau, dia ini hantu perawat. Dia sengaja meneror Lara pas Lara lagi nyetir malam itu, endingnya Lara jadi kecelakaan."
Gibran mendadak ingat dengan hantu perawat yang ada dalam mimpinya. Kenapa bisa kebetulan begini? Apakah hantu perawat yang dimaksud oleh Rasya itu adalah hantu perawat yang berada dalam mimpinya?
"Lo juga pernah mimpiin dia, ya?" tebak Rasya. Ia lagi-lagi dapat membaca pikiran Gibran.
"Gimana ya, Sya, gue bingung deh. Itu makhluk maunya apa, sih? Dia punya urusan apa sampai-sampai mengincar Lara? Dia juga ngomong kalau nggak akan ngelepasin Lara gitu aja sebelum Lara membunuh orang-orang yang gue sama Lara sayangi? Itu maksudnya apa coba? Dia ingin Lara jadi pembunuh, begitu?"
Rasya sendiri pun belum tahu menahu apa tujuan utama hantu perawat itu meneror Lara.
"Waktu itu juga gue sempet lihat ada hantu perawat gitu di tengah-tengah koridor. Pas gue mau mencoba berinteraksi, dia tau-tau ngilang. Menurut feeling gue sih, hantu perawat yang gue lihat di koridor waktu itu, sama dengan hantu perawat yang meneror Lara."
Gibran mendadak jadi kehilangan nafsu makan gara-gara membahas masalah serius yang menyangkut pautkan keselamatan kekasihnya ini.
Ponsel milik Rasya tiba-tiba berdering nyaring. Lelaki itu lantas menerima panggilan telepon dari salah seorang suster di rumah sakit ini.
"Iya, Sus? Ada apa, ya? Apa ada hal darurat?"
"Dok, pasien ICU di kamar nomor 3, dia nangis-nangis, Dok."
"Pasien ICU kamar nomor 3?"
"Sya, itu kan kamar Lara. Dia kenapa, Sya?" Gibran langsung panik ketika ia baru sadar kalau pasien yang dimaksud adalah Lara.
"Oke, Sus, saya akan segera ke sana. Tolong ditenangkan sebentar ya, Sus." Rasya pun memutuskan sambungan telepon.
"Sya, Lara kenapa?!" Kepanikan Gibran belum juga reda.
"Kata perawat, dia nangis-nangis, Ran. Kayaknya Lara mulai sadar sama kelumpuhannya."
Gibran mengusap wajahnya kasar. Ia segera berdiri dan bergegas meninggalkan meja kantin.
Tak butuh waktu yang lama untuk kembali menginjakkan kaki di ruang ICU. Detik ini Gibran tengah menuju kamar nomor 3. Dari depan pintu, ia dapat melihat jelas di dalam sana Lara tengah kacau, karena pintu kamar itu terbuat dari kaca.
"Kenapa kaki saya nggak bisa digerakin, Sus? Kaki saya kenapa? Saya nggak lumpuh kan, Sus?" Berkali-kali Lara meminta penjelasan dari kedua suster di depannya. Namun, sejak tadi dua suster itu hanya sibuk menenangkannya. Mereka tak kunjung menjelaskan apa-apa pada Lara.
"Mba tenang dulu, ya, Mba. Biar nanti Dokter Rasya langsung yang akan menjelaskannya ke Mba."
"Gimana saya bisa tenang? Kaki saya nggak bisa digerakin, Sus. Apa saya lumpuh? Saya nantinya nggak bisa jalan kan, Sus?"
"Kamu nantinya pasti bisa jalan seperti semula. Tapi butuh proses penyembuhan dulu, Ay," kata Gibran yang detik ini posisinya tengah berdiri di belakang kedua suster tersebut.
Gibran memberi isyarat pada kedua suster itu untuk pergi meninggalkan ruangan ini, dan membiarkan dirinya yang mengambil alih untuk menenangkan Lara.
Setelah para suster pergi, lelaki itu bergerak menghampiri kekasihnya. Gibran lalu membantu Lara untuk duduk bersandar. Tak pikir panjang, ia lalu membawa Lara ke dalam pelukan. Membiarkan gadis itu menangis sepuasnya dalam dekapan.
"Silakan nangis sepuas kamu. Nanti kalau udah enakan, aku akan jelasin semuanya."
Seketika Lara melepaskan diri dari pelukan pria itu. Lantas ia menatap Gibran penuh menuntut.
"Jelasin sekarang aja, napa?! Aku ini sebenarnya kenapa? Aku lumpuh, kan?"
Kedua tangan Gibran bergerak untuk menangkup wajah kekasihnya yang telah basah akan air mata itu.
"Kata Rasya, kamu mengalami cedera saraf tulang belakang akibat kecelakaan kemarin itu. Hal ini menyebabkan kamu mengalami kelumpuhan pada kedua kaki kamu. Tapi, itu baru menurut prediksi Rasya aja. Untuk lebih jelasnya nanti kamu akan di-rontgen biar jelas. Kalau misalkan kamu lumpuh, jangan khawatir dan panik, aku dan Rasya akan berusaha semampu kami untuk membantu proses penyembuhan kamu."
Ada hati yang hancur ketika mendengar penjelasan itu. Namun, Lara merasa agak sedikit tenang karena ada kemungkinan ia masih bisa sembuh dan dapat berjalan kembali.
"Tapi gimana sama pekerjaanku, Ran. Gimana nanti aku ngajarnya kalau aku lumpuh begini?"
"Jangan buru-buru memikirkan pekerjaan dulu, Ay. Nanti aku akan coba bilang ke kepala sekolah, ya. Mudah-mudahan beliau bisa memaklumi kondisi kamu saat ini."
Gibran kembali mendekap Lara setelah ia susah payah untuk menenangkan gadisnya yang tengah kacau itu.
Tbc ...