"Vin, bagi tips dong, supaya laki-laki yang gue suka, jadi berpaling ninggalin pacarnya dan ngejar-ngejar gue. Perasaan dulu laki lo udah punya istri, kan? Terus gimana ceritanya lo bisa dapetin dia dengan mudah?"
Siang ini Rinka tengah hange out bareng dengan teman lamanya yang bernama Vina. Kebetulan hari ini ia tidak ada jadwal praktik di rumah sakit, jadi daripada suntuk di rumah, Rinka memutuskan untuk ngopi bareng di salah satu cafe bersama sahabatnya itu.
"Lo kenapa tiba-tiba nanya begitu? Jangan bilang kalau lo masih demenan sama Gibran, terus lo pengen Gibran ninggalin pacarnya demi lo?" tebak Vina. Sejauh ini ia sudah tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu pada Gibran.
Rinka mengangguk polos sebagai jawaban. Lantas jawabannya itu justru ditertawakan oleh Vina.
"Bego banget sih lo jadi perempuan? Ya ampun, Rin, Rin. Selama bertahun-tahun lo demen sama orang yang salah, Rin."
"Eh, Vin, lo itu sama ya kayak gue. Jadi ngapain juga lo harus ngetawain gue. Lo dulu cinta mati kan sama Hendra, padahal lo sendiri tau, Hendra itu udah punya istri. Sekarang, gue mau tanya, lo pake cara apa sehingga Hendra tau-tau jatuh ke pelukan lo, dan lebih memilih ninggalin istrinya demi lo?" Yang Rinka butuhkan adalah tips dari Vina. Bukan malah jadi bahan tertawaan sahabatnya itu.
"Lo serius pengen tau, gue pake tips apaan untuk dapetin Hendra? Gue melet dia lah. Kalau nggak dipelet, belum tentu Hendra jadi tergila-gila sama gue."
Tadinya Rinka berniat menyeruput americano coffe miliknya, tetapi ia urungkan ketika mendengar tips dari Vina.
"Pelet? Maksudnya ... lo minta bantuan ke dukun?" tanya Rinka lebih detail.
"Iya, dong. Gue punya kenalan dukun profesional. Kalau lo mau, nanti gue akan ajak lo ke sana."
Tampak Rinka berpikir-pikir lagi. Ia tidak menyangka kalau Vina ternyata hobi meminta bantuan pada seorang dukun.
"Nggak jadi ah. Gue masih takut dosa, Vin. Itu sama aja musyrik, kan?" Rinka mulai menikmati kentang goreng miliknya.
"Yaelah, ngapain pake acara takut dosa, Rin? Cuma minta bantuan ke dukun, satu-satunya cara agar laki-laki jadi takluk ke kita. Coba kalau lo lebih memilih ngejar Gibran pake cara sehat, yang ada lo sakit hati terus, lama-kelamaan kejiwaan lo yang nggak sehat."
Rinka membenarkan perkataan Vina. Selama bertahun-tahun ini, ia hanya merasakan sakit hati karena memilih mengejar Gibran dengan cara yang sehat. Namun, haruskah ia mengikuti jejak Vina demi mendapatkan apa yang selama ini ia idamkan?
"Gue coba pikir-pikir dulu deh, Vin."
"Ya udah, coba lo mantepin hati dulu, Rin. Tapi percaya deh sama gue, kalau lo serius dan yakin, dukun itu pasti juga akan serius bantuin lo. Dan, hasilnya nanti jelas akan memuaskan. Gibran akan langsung klepek-klepek ke lo. Yang ada di pikiran dia nanti cuma elo doang, nggak ada yang lain."
Rinka benar-benar tergiur dengan keuntungan yang didapat jika ia mantap meminta bantuan pada dukun tersebut. Semua karena hasutan Vina.
"Kira-kira ada syarat yang aneh nggak? Semisal minta tumbal apa gitu. Biasanya dukun kan suka minta yang aneh-aneh, Vin. Semisal kayak kita harus menyerahkan salah satu anggota keluarga kita untuk dijadikan tumbal." Rinka mulai khawatir kalau nantinya ia harus mengorbankan seseorang untuk dijadikan tumbal, seperti cerita-cerita yang ia dengar dari orang.
"Nggak, sih. Tenang aja, dukun gue itu nggak akan minta tumbal yang model gitu, kok. Paling nanti lo disuruh ngejalanin ritual sama ngapalin mantra gitu. Dukun yang ini mintanya bayaran gede, Rin. Tapi gue jamin deh, peletnya itu langsung cespleng."
Kalau untuk urusan biaya, berapa pun Rinka akan keluarkan jika memang benar nanti peletnya akan berhasil membuat Gibran bertekuk lutut padanya.
"Oke deh. Gue bersedia, Vin," sanggup Rinka mantap.
Vina sempat tak percaya kalau Rinka tahu-tahu akan memberikan jawabannya sekarang. Padahal jelas-jelas tadi Rinka meminta waktu untuk memikirkan hal ini lagi.
"Lo serius, Rin? Ya udah, setelah ini kita langsung ke sana aja. Lo ada fotonya Gibran nggak buat sarana peletnya nanti?"
"Ada, dong. Gue punya banyak fotonya Gibran, meski Gibran nggak punya foto gue satu pun." Rinka curhat tentang bagaimana ia mengagumi Gibran selama ini.
"Ciye ... lo bener-bener pengagum rahasia sejati, ya? Tenang aja, kalau nanti lo udah berhasil melet Gibran, gue jamin seisi kamarnya Gibran pasti hanya akan ada foto-foto lo."
Rinka sangat berharap kalau rencananya kali ini berhasil. Ia sudah tidak sabar membuat Lara menangis kehilangan, karena Gibran nanti akan lebih memilih dirinya dan meninggalkan gadis itu.
***
"Halo, anakku. Apa kabar, Sayang?" Petang ini Fatmawati datang menjenguk Lara di rumah sakit.
Fatmawati ini adalah ibunya Gibran. Ia sudah biasa memanggil Lara sebagai anaknya, karena sebelumnya ia telah mendapat amanah dari mendiang kedua orang tua Lara untuk menganggap gadis itu sebagai anaknya.
Posisi Lara saat ini sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Beberapa jam yang lalu, ia telah melakukan tes rontgen, dan memang benar ada cedera saraf tulang belakang yang menyebabkan dirinya mengalami lumpuh seperti sekarang ini. Tadinya Lara merasa sangat putus asa dan depresi. Beruntung Gibran selalu ada untuknya dan tak pernah lelah memberikan support. Hal ini membuat Lara menjadi lebih tenang dan mulai belajar menerima kenyataan pahit ini.
"Mama ke sini kok nggak bilang-bilang dulu, sih?" tanya Gibran pada ibunya. Posisi lelaki itu kini tengah berdiri di samping kiri Lara. Ia baru saja membantu Lara untuk duduk.
"Harus gitu, mama laporan dulu ke kamu kalau mau ke sini? Memangnya rumah sakit ini punyanya kamu? Bagaimana anakku, kamu sudah enakan, Nak?" Fatmawati lebih fokus untuk menanyakan kabar Lara.
"Alhamdulillah, udah mendingan kok, Ma. Makasih banyak ya, Ma, udah nyempetin waktu buat jenguk Lara ke sini."
"Eh, Cah Ayu, harusnya kamu marah sama mama, karena mama baru menjenguk kamu hari ini. Semua ini gara-gara Gibran." Fatmawati langsung melirik anak laki-lakinya dengan tatapan peringatan.
"Apaan sih, Ma? Kok gara-gara aku jadinya?" Gibran merasa jadi korban fitnah oleh ibunya.
"Ya gara-gara kamu, dong. Harusnya mama itu sudah menjenguk Lara dari kemarin. Tentunya pas Lara baru masuk rumah sakit. Ini malah mama baru datang sekarang, soalnya mama baru tau kalau Lara lagi dirawat di rumah sakit. Dan mama juga taunya dari Rasya, bukan dari kamu."
Gibran merutuki kebodohannya sendiri. Dari kemarin ia terlalu fokus memikirkan kondisi Lara. Jadi dirinya sampai lupa tidak mengabari ibunya kalau Lara habis kecelakaan.
"Maaf, Ma, Gibran benar-benar lupa. Gibran terlalu panik mikirin kondisi Lara, sampai-sampai Gibran jadi lupa nggak hubungin Mama."
Mendengar pria itu begitu menghawatirkan keadaannya, hal ini membuat hati Lara jadi berbunga-bunga. Ia memilih menunduk demi menyembunyikan senyum bahagianya. Meski sampai sekarang Lara belum mendapatkan penjelasan dari Gibran tentang insiden pelukan bersama Rinka waktu itu, tapi dengan sikap manis Gibran akhir-akhir ini, seolah-olah membuat Lara sadar bahwa Gibran sangat mencintainya.
"Ya mama paham sama rasa khawatir kamu, tapi seenggaknya kamu jangan lupa untuk mengabari keluarga kalau ada apa-apa sama Lara. Oh iya, kamu yang kuat ya, Nak. Percaya sama mama, kamu nanti pasti bisa sembuh dan berjalan seperti dulu lagi. Jangan depresi, jangan putus asa. Manut apa kata dokter supaya kamu bisa cepat sembuh dan berjalan lagi." Fatmawati sudah tahu tentang kelumpuhan yang dialami oleh Lara saat ini. Ia mengetahui hal ini dari Rasya. Dan sebagai pengganti ibu yang baik bagi Lara, wanita itu secara terang-terangan memberi dukungan modal untuk Lara.
"Makasih banyak ya, Ma, Lara pasti kuat kok. Lara akan rutin menjalankan fisioterapi sesuai perintah dokter."
"Nah, itu baru anak Mama. Eh iya, besok kalau kamu keluar dari rumah sakit, kamu tinggal di rumah mama aja, ya?"
Lara dan Gibran refleks saling tatap menanggapi saran dari Fatmawati yang meminta Lara untuk tinggal di rumah wanita itu.
"Gini loh, selama ini kan kamu tinggal seorang diri di rumah peninggalan orang tua kamu. Karena sekarang kamu sedang sakit, alangkah lebih baiknya kamu tinggal di rumah mama. Di sana ada Bi Asri yang akan membantu merawat kamu. Untuk sekarang ini, kamu belum bisa melakukan apa-apa sendiri, Ra. Mama hanya nggak mau nanti kamu makin nelangsa. Kalau di rumah kan ada mama, ada Bi Asri, ada Papa Wirawan, nanti juga Gibran akan mama suruh sering-sering nengokin kamu, kami semua akan bergantian merawat kamu tentunya, Nak."
Untuk sekarang ini memang Lara belum bisa melakukan aktivitasnya sendiri. Bahkan untuk sekedar ke kamar mandi pun, ia harus membutuhkan bantuan orang lain.
"Tapi Lara cuma nggak mau ngerepotin mama dan keluarga aja, Ma." Lara sadar kondisinya sekarang ini memang akan merepotkan banyak orang.
"Kamu ngomong apa, sih? Kita semua nggak merasa direpotkan sama kamu loh. Kita udah menganggap kamu seperti keluarga, Ra. Nah, gini aja, solusi terbaik adalah kita harus segera nikah, biar nanti aku aja yang akan merawat kamu sepenuhnya."
Ajakan menikah secara tiba-tiba ini sontak membuat Lara menatap kekasihnya tak terbaca. Masih teringat jelas, Gibran selalu menolak jika diajak nikah cepat-cepat oleh Lara, salah satu alasannya karena belum siap saja. Namun, lihatlah sekarang, Gibran tiba-tiba mengajaknya segera menikah. Hal ini membuat Lara merasa bahwa otak Gibran sedang geser.
"Nah, ini baru anak mama. Tau-tau ngajakin Lara nikah, kamu memangnya sudah mantap, Nak?" Fatmawati sendiri juga merasa ada yang aneh dengan Gibran.
"Udah mantap kok, Ma. Gibran merasa bersalah aja karena sering menolak ajakan Lara untuk segera menikah. Padahal pacaran kelamaan juga nggak baik kan, Ma? Jadi, daripada nanti ujung-ujungnya Gibran menyesal, nggak ada salahnya kan kalau Gibran mantap untuk menikah dalam waktu dekat ini? Gimana, Ra, kamu sendiri udah siap belum jadi ibu dari anak-anakku?"
Lara tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa malu saja jika harus menjawabnya di depan Fatmawati.
"Lara sepertinya malu nih ada mama. Nanti bahas ini lagi kalau kalian lagi berdua, ya. Sekarang yang penting Lara setuju kan tinggal di rumah mama?" Fatmawati menantikan kesediaan Lara untuk tinggal bersamanya.
Dengan berbagai pertimbangan, Lara akhirnya setuju untuk tinggal di rumah Fatmawati selagi kondisinya masih lumpuh.
Mereka kembali larut dalam obrolan-obrolan ringan. Sesekali bergurau dan tertawa bersama ketika ada hal lucu yang Gibran lontarkan. Tanpa mereka ketahui, di sudut ruangan sana hantu perawat itu tengah mengamati mereka. Ia sangat membenci wanita bernama Fatmawati tersebut. Dan ia berjanji akan membuat tawa mereka saat ini berubah menjadi tangis di kemudian hari.
'Tinggal beberapa lagi, kalian pasti akan hancur. Tidak ada lagi tawa bahagia seperti saat ini. Yang ada hanyalah tangis, dan pertumpahan darah yang akan mengiringi tangisan kalian nanti.' Sumpah Ayudia dalam hati.
Tbc ...