"Kapan kamu mau jelasin ke aku tentang insiden pelukan itu? Kamunya lupa atau pura-pura lupa sama janji kamu?" Lara menagih janji Gibran waktu itu.
Posisi gadis itu saat ini tengah duduk di kursi roda. Di belakangnya ada Gibran yang setia mendorong kursi roda tersebut menuju ke tempat mana pun yang Lara mau. Mereka memilih untuk mengunjungi taman rumah sakit karena Lara merasa suntuk berada di kamar terus.
Ketika sampai di taman, Gibran memilih duduk di salah satu kursi kayu panjang di sana. Ia duduk tepat di depan Lara. Kemudian pria itu meraih kedua tangan kekasihnya untuk ia genggam dengan hangat.
"Jadi malam itu, Rinka tau-tau datang ke ruangan aku. Dia cerita, katanya dia sedih karena kedua orang tuanya itu memaksa dia untuk segera menikah dengan pria pilihan mereka. Karena Rinka suka sama orang lain, jadi otomatis dia nggak mau dan merasa tertekan. Entah awalnya gimana, tau-tau Rinka meluk aku, dan aku bingung harus apa. Aku hanya mencoba untuk menenangkan Rinka, tapi justru aku malah refleks balas pelukannya dia."
Lara tiba-tiba saja menyingkirkan kedua tangan Gibran yang sejak tadi menggenggam jemarinya. Mendengar penjelasan seperti itu hatinya benar-benar terasa panas.
"Harusnya kamu segera singkirin dia dari pelukan kamu, dong! Aku tau, orang lain yang disukai sama Rinka itu kamu. Kamu sebagai laki-laki itu harus tegas. Kamu udah punya pacar, tapi masih aja temenan sama perempuan yang jelas-jelas punya perasaan ke kamu. Dasar aneh!" Lara memilih meluapkan emosinya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca karena ia nyaris menangis.
Seandainya Lara tahu bahwa Rinka terang-terangan akan merebut Gibran darinya, mungkin gadis itu sudah sangat frustrasi menghadapi masalah ini. Namun, Gibran tidak ingin memberitahukan hal itu pada Lara. Ia hanya tidak mau Lara jadi kepikiran terus-terusan dan malah mengganggu proses pemulihannya.
"Aku harus gimana, sih? Aku dan Rinka kerja di rumah sakit yang sama, Ra. Dan kita udah lama berteman. Apa aku harus jaga jarak dengan Rinka supaya kamu percaya kalau di antara kita nggak ada apa-apa? Atau mungkin aku harus memutuskan hubungan persahabatanku dengan Rinka?" Gibran meminta Lara memberikan pendapat karena ia sendiri bingung harus mengambil keputusan yang lama.
"Kalau itu menjadi jalan satu-satunya, ya kenapa enggak? Kalau misalkan aku tau-tau nyuruh kamu untuk pindah kerja ke rumah sakit lain, belum tentu kamu setuju, kan? Makanya menjauhi Rinka dan memutuskan tali persahabatan kalian adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini." Lara terpaksa menjadi pribadi yang kejam di mata Gibran, karena ia sudah cukup lelah cemburu terus terhadap kedekatan Gibran dengan Rinka.
Lelaki itu terdengar membuang napas kasar. Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Lara, karena Gibran sendiri juga sudah lelah terus-terusan dicurigai oleh Lara.
"Oke, aku akan menjauhi Rinka dan memutuskan tali persahabatan kita," sanggup Gibran mantap.
"Jangan cuma di mulut aja, tapi harus ada surat perjanjiannya. Aku cuma nggak mau nanti ujung-ujungnya kamu akan melanggar, meski kamu bilang semua itu nggak sengaja. Kalau kamu sampai melanggar, konsekuensinya aku akan pergi dari kehidupan kamu." Ancaman Lara kali ini tak main-main. Sudah cukup ia memberikan kesempatan berkali-kali pada Gibran. Pada faktanya lagi-lagi ia harus merasakan panasnya kobaran api cemburu karena Gibran terus-terusan melibatkan Rinka ke dalam hubungan mereka.
"Oke, aku akan segera buat surat perjanjiannya." Lagi-lagi Gibran menyanggupi dengan mantap karena ia sudah tidak ingin bertengkar lagi dengan Lara. Ia memilih mengalah karena Gibran sadar sebagai seorang lelaki ia harus bersikap dewasa menghadapi tingkah emosian kekasihnya.
Lara memilih menyudahi pertengkaran ini. Ia lalu fokus menatap betapa indahnya bunga-bunga yang berada di taman tersebut.
"Ay," panggil Gibran sambil membelai salah satu pipi kekasihnya.
Lara beralih menatap Gibran ketika lelaki itu terlihat tengah menatapnya hangat.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Gibran.
"Minta apa dulu, nih? Jangan yang aneh-aneh mintanya." Lara hanya khawatir kalau Gibran akan meminta hadiah cium di tempat umum seperti ini.
"Kita kan sebentar lagi nikah. Dan setelah nikah, aku tentunya akan jadi suami kamu. Menurut kamu, pantas nggak sih seorang istri nantinya akan memanggil suaminya dengan sebutan Ran, Ran, Ran, terus? Lama-kelamaan jadi rantang susun." Gibran masih sempat-sempatnya bergurau padahal sudah cukup jelas pembicaraannya itu adalah bahasan yang serius.
"Ya aku harus panggil apa gitu? Aku udah biasa manggil kamu dengan nama langsung." Lara meminta pendapat.
"Ya panggil Sayang, atau Mas, atau Abang, Kak, Beb, Abi, atau apalah yang penting nggak manggil namanya langsung, loh. Itu terkesan nggak sopan, Ra. Coba nanti kalau kita udah punya anak, terus di depan anak, kamu masih terbiasa manggil aku pake namaku langsung, itu sama aja ngajarin nggak bener, Ra. Nanti kalau anak-anak ikutan manggil Ran, Ran, Ran, kayak kamu, ribet kan urusannya?"
Lara memilih merenungkan kata-kata Gibran. Sedari dulu ia sudah terbiasa memanggil Gibran dengan namanya langsung. Kalau sekarang tahu-tahu harus memanggil Gibran dengan sebutan yang disebutkan oleh pria itu tadi, Lara merasa lidahnya belum terbiasa.
"Sama Rasya aja, kamu manggil 'Kak'. Masa sama pacar sendiri, kamu manggil namanya langsung? Padahal aku sama Rasya kan seumuran. Kamu juga usianya lebih muda lima tahun dari aku, harusnya kamu manggil aku jangan langsung namanya aja, dong." Gibran lagi-lagi protes karena selama ini ia merasa dibeda-bedakan dengan Rasya.
"Kenapa baru sekarang kamu mempermasalahkan perkara ini? Bukannya kita udah jalan dua tahun? Awal pertama kita ketemu, kita itu udah berantem duluan. Jadi waktu itu aku ogah aja manggil kamu pake sebutan 'Kak' atau apa. Dan kebiasaan itu nggak terasa berlanjut sampai sekarang. Kalau kamu merasa keberatan aku panggil pake nama langsung, kamu maunya aku panggil apa?"
Dulu, pertama kali Lara bertemu dengan Gibran, ia hampir saja tertabrak mobil pria tersebut. Bukannya meminta maaf, Gibran justru menyalahkan Lara karena tidak lihat-lihat dulu ketika akan menyeberang. Dari situlah mereka kenal, dan hobinya selalu bertengkar jika tak sengaja dipertemukan. Dari dulu Lara tak pernah memanggil Gibran dengan embel-embel 'kak' atau sebagainya, karena waktu itu ia terkesan membenci Gibran. Sampai akhirnya mereka saling suka, jadian, menjalani hubungan pacaran sampai dua tahun, Lara sudah kebiasaan memanggil Gibran langsung dengan namanya.
"Karena kita orang Jawa, jadinya panggil aku dengan sebutan Mas Gibran. Ojo wani-wanine protes. Paham ora?"
Lara mengulum bibir menahan tawa. Lidahnya masih terasa kaku jika ia harus membiasakan diri memanggil Gibran dengan panggilan 'Mas' mulai detik ini.
"Oke, Ma ... M-Mas Gibran," sanggup Lara terbata-bata.
"Awas kalau keceplosan manggil Ran, Ran, Ran lagi. Aku jitak kepalamu pake rantang susun punyanya Mama," ancam Gibran.
***
"Hai, Ran," sapa Rinka pada Gibran yang tak sengaja berpapasan dengannya di tengah-tengah koridor.
Situasi Gibran tengah mendorong kursi roda Lara. Gibran memilih tak menjawab sapaan Rinka karena ia sudah berjanji akan menjauhi wanita itu demi menjaga hubungannya dengan Lara.
"Ngapain pake acara berhenti? Ayo, jalan lagi!" perintah Lara ketus. Ia merasa sebal saja karena Gibran pakai acara berhenti ketika berpapasan dengan Rinka.
Gibran tak punya pilihan lain selain menuruti perintah kekasihnya. Ia kembali mendorong kursi roda milik Lara, perlahan meninggalkan Rinka tanpa berucap apa-apa.
Hal ini jelas saja membuat Rinka geram. Ia sudah menduga pasti Lara telah berhasil mencuci otak Gibran agar lelaki itu menjauhinya.
"Akan aku buktikan hari ini Gibran akan berpaling darimu, Lara."
Rinka mulai mengatur napasnya. Perlahan mulutnya mulai bergerak-gerak. Ia tengah merapalkan mantra yang telah diajarkan oleh dukunnya untuk memikat Gibran. Sambil tatapannya tak pernah lepas memandang punggung pria tersebut, Rinka mengucapkan mantra pemikat itu berkali-kali. Sampai bacaan yang ke tujuh, ia tersenyum kecut karena Gibran mulai bereaksi aneh.
"Argh ...!" Di jauh sana Gibran tiba-tiba mengerang kesakitan. Napas pria itu sesaat tercekat. Leher serasa dicekik kuku-kuku tajam. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipisnya. Seketika Gibran memegangi bagian kepala. Sakit mendera tiba-tiba menyerang kepalanya. Membuat pria itu menggeram bahkan sampai terkulai tak berdaya di lantai rumah sakit.
"M-Mas Gibran, kamu kenapa?!" Lara memutar wheel rim pada kursi rodanya sehingga posisinya sekarang menghadap Gibran. Ia panik bukan main ketika melihat sang kekasih tengah kacau di lantai koridor sambil mengerang kesakitan.
"Suster, tolongin Dokter Gibran, suster!" Lara berteriak memanggil para perawat untuk menolong kekasihnya. Para perawat yang mendengar teriakan Lara, berbondong-bondong datang demi memberikan pertolongan.
"Ini Dokter Gibran kenapa, Mba?" tanya salah seorang perawat.
"Saya nggak tau, Sus. Dia tiba-tiba begini," jawab Lara dalam kondisi menangis.
Ada tiga perawat yang datang. Mereka mencoba membantu memapah Gibran. Namun, ketika Gibran baru saja berdiri, ia tiba-tiba terjatuh karena kedua kakinya terasa sangat lemas, tak bisa berjalan sama sekali. Hal ini membuat ketiga perawat itu panik, terlebih Lara.
"Ya ampun ... Dokter Gibran kenapa, Dok?"
Gibran tak mampu menjawab. Ia hanya sanggup menahan rasa sakit yang detik ini mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
"Cepat ambilkan kursi roda. Dan minta bantuan perawat laki-laki untuk membantu mengangkat Dokter Gibran," perintah salah satu perawat kepada temannya.
"Mas Gibran kenapa, Mas ...? Jangan bikin aku khawatir dong, Mas." Lara hanya sanggup menangis. Dengan kondisinya yang lumpuh seperti ini ia sama sekali tak bisa memberikan bantuan apa-apa.
Di jauh sana Rinka masih merapalkan mantra tanpa lelah. Syaratnya ia harus merapalkan mantra itu sampai 77 kali, barulah ilmu pelet itu benar-benar akan menguasai jiwa Gibran. Pun Rinka merasa tetap tenang meski di depan sana Gibran tengah kelojotan menahan rasa sakit. Karena sebelumnya sang dukun sudah memberitahu bahwa target akan mengalami kesakitan terlebih dahulu, selagi mantra itu sedang dirapalkan.
"Ya Allah, Ran. Elo kenapa, Ran?!" Rasya tiba-tiba datang dan langsung panik melihat kondisi Gibran yang tengah kacau.
"Tolongin Mas Gibran, Kak. Dia tiba-tiba begini," adu Lara.
Rasya mengambil alih untuk mendekati Gibran. Ia memposisikan Gibran untuk terlentang. Lantas ia mencoba menekan d**a pria tersebut. Tatapannya justru tertuju pada Rinka yang tengah berdiri di jauh sana.
Rasya mendengar jelas dengan mantra yang tengah Rinka rapalkan sedari tadi. Ia lalu membuang napas berat ketika tahu dengan perbuatan Rinka. Rasya putuskan untuk membaca ayat kursi demi menolong Gibran. Ketika ayat kursi itu selesai Rasya bacakan, ia lalu membantu Gibran untuk duduk. Kemudian berbisik di telinga sahabatnya itu.
"Lo denger suara gue? Coba ikuti instruksi dari gue. Baca syahadat sama sholawat sekarang," perintahnya.
Gibran pun mengangguk. Ia lalu mulai membaca syahadat kemudian dilanjutkan dengan sholawat, meski suaranya terdengar lemah.
"Ulangi terus, Ran, sampai badan lo bener-bener enakan seperti semula."
Gibran pun kembali menurut. Ia membaca syahadat dan sholawat sampai berkali-kali. Perlahan rasa sakit di sekujur tubuhnya pelan-pelan mulai hilang. Ia lalu mengucap kalimat hamdallah ketika rasa sakit itu sudah benar-benar hilang.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Kamu nggak apa-apa kan, Mas?" Lara lega bukan main ketika melihat kondisi Gibran yang sudah pulih. Begitu pun dengan para perawat yang sejak tadi panik menghadapi Gibran.
Dokter anak itu memang sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi. Namun, dampaknya ia merasa tubuhnya menjadi sangat lelah dan lemas.
Rasya pun berdiri sambil memapah Gibran. Ia lalu membantu Gibran untuk duduk di kursi roda yang telah disediakan oleh perawat tadi. Pria itu kemudian meminta para perawat untuk mengantar Gibran dan juga Lara ke ruang perawatan Lara untuk beristirahat.
Rasya memutuskan untuk menghampiri Rinka. Terlihat Rinka menatapnya tajam sambil kedua tangannya mengepal. Ia merasa sangat marah, karena Rasya berani-beraninya ikut campur dan menggagalkan rencananya.
Tbc ...