Part 10. Rencana yang Gagal

1598 Kata
"Sejak kapan kamu berubah seperti ini, Rin? Kamu meminta bantuan dukun untuk menaklukkan Gibran? Kamu udah nggak punya iman lagi?!" Rasya bertanya dengan nada suara tinggi. Karena ia cukup geram dengan kenekatan Rinka. Dokter gigi itu memilih duduk di kursi kerjanya. Rinka sangat sebal karena Rasya berani-beraninya menggagalkan rencananya. Padahal ia sudah mengeluarkan uang banyak untuk membayar dukun itu. "Rin, tolong jawab pertanyaan aku!" desak Rasya. "Ngapain aku harus susah-susah jawab pertanyaan kamu?! Bukannya kamu udah tau isi pikiranku?!" Rinka tak kalah nyolot. "Rin, aku tau perasaan kamu ke Gibran seperti apa. Tapi bukan berarti kamu bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Gibran." Rinka beranjak berdiri dan menatap Rasya tak terbaca. "Memangnya kenapa kalau aku nekat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Gibran? Masalah buat kamu? Ini hidup aku, ya terserah aku dong mau polah kek gimana." Rinka yang sekarang bukanlah Rinka yang dulu. Ia sudah tidak mau lagi mendengar apa pun nasihat Rasya. "Sadar, Rin, sadar. Meminta bantuan dukun untuk menyelesaikan masalah kamu, itu bukan suatu pilihan yang benar, Rin. Mereka itu telah bersekutu dengan iblis. Kamu memangnya nggak takut dengan kemurkaan Allah nantinya?" Rinka merasa muak mendengar ceramah Rasya. Ia tiba-tiba saja menyeret tangan Rasya dan bergerak menuju pintu, kemudian membuka pintu tersebut. Rinka terang-terangan mempersilakan Rasya untuk keluar dari ruangannya. "Aku nggak butuh ceramah kamu. Aku juga nggak mau kamu terlalu ikut campur urusanku. Tunggu apalagi, silakan keluar," usir Rinka. Rasya tak habis pikir dengan perubahan sikap Rinka sekarang. Ia juga tidak menyangka kalau sahabatnya ini sampai nekat meminta bantuan dukun, hanya karena berkali-kali patah hati. Memang Rasya belum pernah merasakan yang namanya patah hati itu seperti apa. Namun, ia sangat menyayangkan dengan tipisnya iman Rinka saat ini. "Maaf, Rin, untuk kali ini kayaknya aku harus ikut campur urusan kamu. Karena urusan ini ada sangkut pautnya dengan Gibran dan Lara. Aku nggak mau mereka kenapa-kenapa hanya karena keegoisan kamu." Rasya bergegas pergi setelah ia berjanji akan melibatkan dirinya ke dalam urusan pribadi Rinka. *** Dokter umum itu bergerak menuju ruang perawatan Lara untuk mengecek kondisi kedua sahabatnya di sana. "Kak Rasya." Lara segera menoleh ke arah pintu ketika Rasya baru saja masuk ke kamar inapnya. Posisi Lara masih duduk di atas kursi roda. Di depannya ada Gibran yang tengah duduk bersandar di atas sofa. Pria itu masih merasa lemas dan lelah, tetapi tidak separah tadi. "Gimana kondisi Gibran, Ra?" tanya Rasya. Ia memilih duduk di tepi ranjang Lara. Kemudian mulai fokus memeriksa kondisi Gibran dari kejauhan. "Ya kayak gini, Kak. Masih lemes katanya. Tadi gimana ceritanya Mas Gibran bisa begitu, sih? Ngeri banget. Tiba-tiba aja kesakitan parah gitu. Aku kan khawatir banget tadi." Bagaimana tidak khawatir. Semua orang yang menyaksikan Gibran kesakitan tadi pastinya khawatir setengah mati. Gibran berniat membenarkan posisi duduknya. Namun karena ia masih lemah, Rasya bergegas menghampiri dan membantunya. "Pelan-pelan, Ran. Tenaga lo belum pulih betul." Gibran hanya ingin duduk dengan posisi biasa. Tapi untuk sekedar mengubah posisi saja, ia butuh bantuan orang lain. Pria itu sejak tadi berpikir keras kira-kira apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya. "Gue sebenernya kenapa sih, Sya? Apa mungkin gue kena guna-guna?" tebak Gibran. Rasya merasa bingung harus menjelaskan bagaimana. Sebenarnya ia tidak ingin membuka aib orang lain. Namun, Rasya merasa baik Gibran atau pun Lara harus tahu akan hal ini, supaya untuk ke depannya mereka bisa lebih hati-hati. "Nanti setelah Isya', lo ke rumah gue, ya. Lo harus di-ruqiyah. Mulai sekarang, lo harus rajin dzikir, Ran. Pagari diri lo supaya nggak mempan sama ilmu hitam atau semacamnya," saran Rasya. "Berarti memang ada orang yang sengaja guna-gunain gue ya, Sya? Siapa orangnya?" Gibran penasaran dengan orang tersebut. "Iya, Kak. Siapa sih orangnya? Supaya kita lebih hati-hati, kalau suatu saat kita ketemu sama orangnya," imbuh Lara. "Eum ... orangnya itu Rinka." Gibran dan Lara refleks saling tatap ketika mengetahui bahwa dalang di balik kekacauan ini adalah Rinka. "Rinka berniat memelet elo, Ran. Tadi lo kesakitan seperti itu karena Rinka lagi ngebacain mantra untuk memikat lo. Kalau gue nggak datang tepat waktu, mungkin sekarang lo udah berhasil Rinka kuasai." Sungguh, baik Gibran merasa sangat tidak menyangka kalau Rinka akan berbuat senekat itu. Hal ini membuat Lara menjadi sangat khawatir. Ia sangat takut kalau besok-besok Rinka akan mencoba memelet Gibran lagi. Pastinya Lara tidak mau kalau ujung-ujungnya ia ditinggalkan oleh Gibran, hanya karena lelaki tersebut terbuai dengan ilmu pelet yang dikirim oleh Rinka. "Mas, kamu pindah rumah sakit aja mending, ya? Kalau kamu di sini terus, otomatis kamu akan sering ketemu Rinka. Aku takutnya dia berbuat macam-macam lagi ke kamu." Lara mulai menunjukkan sisi kekhawatirannya. "Kamu nggak perlu takut begitu, Ra. Aku jamin, setelah ini Rinka nggak akan berani lagi untuk memelet Gibran. Tadi aku udah komunikasi sama dukunnya Rinka lewat batin. Aku mengancam akan melenyapkan jin-jin peliharaan dia, kalau dia berani membantu Rinka lagi. Nanti juga aku akan ajari Gibran bacaan untuk menangkal sihir. Buat jaga-jaga aja, takutnya Rinka mencoba meminta bantuan ke dukun lain." Rasya berusaha meyakinkan Lara kalau semua akan baik-baik saja. Namun, tetap saja gadis itu merasa was-was karena ia tak ingin kehilangan Gibran. "Bener-bener Rinka, ya? Dia seperti bukan Rinka yang dulu, Sya. Dulu Rinka nggak begini, loh. Selama ini, gue selalu menolak Rinka dengan cara yang halus. Gue nggak habis pikir, dia sampai senekat ini." Ada rasa bersalah yang mendera di benak Gibran, karena secara tidak langsung Rinka jadi begini karena dirinya. Namun, apa mau dikata. Yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Sampai kapan pun ia akan sukar membalas perasaan Rinka, karena hatinya sudah termiliki oleh perempuan lain. "Kamu sih terkadang suka tebar pesona ke Rinka. Dia jadinya kegatelan, kan?!" Lara kembali terbakar api cemburu. Ia main menyalahkan Gibran saja. "Kamu ini ya, hobi banget nyalahin aku. Bukannya aku sok tebar pesona, tapi memang aku udah memesona dari sananya," bela Gibran. "Ya kalau dari dulu kamu nggak pernah ngeladenin Rinka, dia nggak akan ngelunjak seperti sekarang ini. Kamu dipeluk aja mau, gimana dia nggak tertantang?!" Lara masih saja sibuk menyalahkan Gibran. Hal ini membuat Rasya heran dengan tingkah mereka yang kerap kali ribut-ribut tak jelas begini. "Kalian tuh kalau sehari nggak ribut, kayaknya ada yang kurang, ya? Dah sono diterusin, aku mau keliling bangsal dulu." Rasya pun pamit, memberi ruang pada Gibran dan Lara untuk melanjutkan pertengkaran lagi. *** "Gue udah bayar mahal ke dukun itu, tapi ujung-ujungnya gue gagal buat ngedapetin Gibran, Vin." Rinka tengah mengadu pada sahabatnya tentang kekesalan yang ia alami hari ini. Bagaimana tidak kesal, semua rencananya gagal total gara-gara campur tangan Rasya. Tadi Rinka sempat menemui dukunnya lagi. Meminta bantuan agar dukun itu bisa menyingkirkan Rasya. Namun, dukun tersebut menolak karena Rasya bukan lawan yang sebanding. Padahal Rinka sudah menguras separuh dari tabungannya untuk membayar dukun tersebut. "Ya, mana gue tau sih kalau rencana lo akan digagalin sama temen lo sendiri. Kalau gue, semua rencana gue bener-bener lancar. Gue keluar uang banyak, tapi gue bener-bener puas sama hasilnya. Hendra jatuh ke pelukan gue, tanpa ada satu pun orang yang curiga kalau dia udah kena pelet gue." Vina justru sibuk memamerkan keberhasilannya dalam urusan memelet pria. Hal ini jelas membuat Rinka makin bete saja. "Gue merasa ditipu sama dukun lo itu. Nggak lagi-lagi deh gue main dukun." Rinka merasa sangat kapok. "Terus, rencana lo sekarang apa? Mau balik ngejar Gibran pake cara sehat lagi? Udah siap, hatinya dibikin patah lagi, hem?" Rinka sendiri juga bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Selama ada Rasya, rencana liciknya itu pasti akan gagal. "Gue kayaknya nggak ada pilihan lain selain menerima perjodohan itu." Wajah Rinka berubah menjadi sedih bercampur khawatir. Ia sudah tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan Gibran. Sementara jika ia berani menolak rencana perjodohan orang tuanya, sudah dipastikan kedua orang tuanya tersebut akan marah. "Malang banget sih nasib lo, Rin, Rin. Kalau tetap nggak ada jalan keluarnya, ya saran gue mending lo nurut aja apa kata orang tua. Gue yakin, orang yang akan dijodohin sama lo, pasti orangnya lebih ganteng dan mapan dari Gibran." Vina memberikan dukungan agar sahabatnya itu mau menerima perjodohan tersebut. Dikarenakan Vina merasa kasihan dengan nasib Rinka yang selalu saja gagal untuk mendapatkan Gibran. "Gue suka Gibran bukan dilihat dari ganteng atau mapannya dia, Vin. Tapi gue suka sama Gibran, ya karena suka aja. Tulus dari hati. Bukan karena tampang atau materi," jelas Rinka. "Iya, iya. Gue paham maksud lo. Alangkah lebih baiknya, lo coba dulu deh kenalan sama pria pilihan kedua orang tua lo. Siapa tau cocok, Rin. Daripada lo kerjaannya ngarepin yang nggak pasti, ya mending jalanin yang udah pasti aja." Rinka hanya sanggup merenungkan saran dari Vina. "Eh, gue kayaknya harus cepet balik. Bentar lagi Hendra pulang ngantor." Vina tiba-tiba pamit. "Gue juga mau balik. Udah malem. Takut Mama nyariin. Gue anterin lo pulang, ya?" tawar Rinka. Vina dengan senang hati menerima tawaran Rinka. Karena kebetulan sekali, ia tidak membawa mobil. Setelah mengantarkan Vina, Rinka bergegas pulang ke rumah. Sampai di rumah, ia merasa seperti ada tamu. Di halaman rumah terparkir sebuah mobil yang Rinka sendiri tidak paham itu mobil siapa. Rinka pikir mungkin mobil tersebut milik si tamu. "Eh, Rin. Udah pulang kamu, Nak? Kenalan dulu sini sama calon suami kamu." Langkah Rinka terhenti ketika sang ibu memintanya untuk berkenalan dengan seorang pria muda yang detik ini tengah duduk di sofa ruang tamu. Niatnya tadi Rinka akan langsung masuk ke kamarnya, tanpa perlu menyapa tamu ibunya itu. Ia sama sekali tidak tahu kalau tamu tersebut adalah seorang pria yang rencananya akan dijodohkan dengannya. "Apa kabar, Rin? Lama nggak ketemu." Rinka merasa cukup familier dengan suara pria ini. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN