Part 11. Suami Sahabat Sendiri

1476 Kata
"Hendra?!" Rinka cukup terkejut karena tamu tersebut adalah Hendra. Dan tadi sang ibu sempat bilang kalau pria itu adalah calon suaminya. "Loh, kalian sudah saling kenal, to? Duh, bagus kalau gitu. Jadi Mama nggak perlu repot-repot untuk mendekatkan kalian." Sasmita merasa cukup senang karena putrinya sudah kenal dengan pria yang sebentar lagi akan ia jadikan menantu. "Mama tadi bilang apa? Dia calon suamiku? Nggak salah?" Menurut Rinka, jelas sangat salah kalau ibunya itu berniat menjodohkan dirinya dengan Hendra yang statusnya adalah suami Vina. Kalau Vina sampai tahu, sudah dipastikan hati sahabatnya itu akan hancur. Dan Rinka juga tidak mau hubungan persahabatannya hancur hanya gara-gara perjodohan ini. "Kamu duduk dulu sini, Nak. Kita ngobrol-ngobrol dulu," pinta Sasmita dengan lembut. Demi rasa hormatnya kepada sang ibu, Rinka putuskan untuk ikut bergabung bersama mereka. Ia memilih duduk di samping ibunya. Tatapan tak bersahabat lantas Rinka suguhkan untuk membalas tatapan hangat dari Hendra. "Menurut Mama, Nak Hendra ini anak yang baik, pekerja keras, dan mapan. Jadi Mama dan Papa sangat setuju kamu menikah dengan Nak Hendra, Rin." Rinka menatap ibunya tak terbaca. Bagaimana mungkin orang tuanya itu setuju dirinya menikah dengan suami orang? Atau mungkin saja Sasmita dan sang suami tidak tahu dengan status Hendra? "Mama tau nggak sih sama status pria ini? Dia suami orang, Ma. Lebih tepatnya, suami Vina, sahabat Rinka sendiri," jelas Rinka memberitahu. Akan tetapi, ekspresi Sasmita ketika tahu dengan status Hendra, terkesan biasa-biasa saja, seolah-olah sudah tahu akan hal ini. "Bukannya seorang pria memiliki istri lebih dari satu itu sah-sah aja, kan?" Hendra buka suara, meminta pendapat Rinka. Lelaki memiliki istri lebih dari satu memang sah-sah saja. Namun, mana mungkin Rinka bersedia menikah dengan suami sahabat sendiri. "Tapi sayangnya aku nggak sudi nikah sama kamu. Aku masih mikirin perasaan Vina. Kamu tega banget sih mau mengkhianati Vina?! Dia punya salah apa sama kamu?!" Rinka mulai kesal dengan keputusan Hendra yang ingin mencari istri lagi. Apalagi istri yang diinginkan oleh Hendra adalah dirinya. "Rinka, kamu ini belum tau tentang masalah yang sebenarnya. Di dalam pernikahannya dengan Vina, Nak Hendra ini adalah korban. Mantan istrinya dulu meninggal karena disantet oleh Vina. Dan Nak Hendra bersedia menikah dengan Vina, itu juga karena terkena peletnya Vina itu. Beruntung sekali Nak Hendra ini kenal sama papamu. Langsung deh Nak Hendra dibawa ke salah satu teman Papa yang merupakan seorang ustaz. Dia langsung diobati, dan sekarang alhamdulilah sudah terbebas dari pengaruh ilmu peletnya Vina." Kalau tentang Vina yang memelet Hendra, Rinka jelas sudah tahu. Tapi tentang Vina yang sudah menyantet mantan istri Hendra bahkan sampai meninggal, Rinka baru saja tahu dan ia benar-benar sangat terkejut. Sahabatnya yang selama ini ia kira baik itu nyatanya memiliki kepribadian yang kejam. "Masa sih, Vina kayak gitu? Selama ini Rinka tau banget Vina kayak apa orangnya." Rinka tetap tidak percaya kalau sahabatnya itu adalah orang jahat. "Dia itu pinter akting, Rin. Aku tau semua dari Pak Ustaz. Beliau ngasih tau kalau selama ini Vina udah pake ilmu hitam untuk menghancurkan keluargaku," sahut Hendra. "Makanya, Rin, Nak Hendra ini berniat menceraikan Vina, lalu setelah itu dia akan menikahi kamu. Nggak akan langsung menikahi kamu gitu aja kok, Rin. Yang tadi itu Nak Hendra cuma bergurau. Gimana, kamu setuju kan menikah sama Nak Hendra setelah nanti resmi bercerai dari Vina?" Sasmita sangat berharap putrinya itu akan setuju dengan rencananya. Rinka tak habis pikir kenapa ibunya begitu ngotot ingin ia menerima perjodohan ini. Kalau dijodohkan dengan seorang bujang, mungkin Rinka masih bisa menerima. Namun, kalau pria yang dijodohkan dengannya itu adalah suami sahabat sendiri, Rinka sungguh merasa keberatan. "Maaf, Ma, bukannya Rinka mau jadi anak durhaka buat Mama sama Papa. Tapi Rinka nggak mau nikah sama Hendra. Meski dia nanti cerai dari Vina, Rinka sama sekali nggak mau. Salah satu alasannya, karena Rinka nggak mau jadi pengkhianat untuk sahabat Rinka sendiri." Jawaban Rinka sudah mantap. Ia memilih pamit menuju kamarnya di lantai atas. *** "Untuk sementara, kamu bisa tinggal di kamarku yang dulu. Anggap aja kamar sendiri, ya?" Gibran membawa Lara ke kamarnya yang dulu yang berada di rumah orang tuanya. Sore ini Lara sudah dibolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dan sesuai kesepakatan kemarin, Lara akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Wirawan, selagi kondisi gadis itu masih lumpuh. Sebelumnya, Lara belum sekali pun masuk ke kamar Gibran yang satu ini. Kalau kamar di rumah pribadi Gibran, Lara sudah sering bolak-balik karena ia rajin bersih-bersih di rumah sana. "Kamu nyimpen lukisan aku di kamar ini?" Lara mendapati ada lukisan bunga yang terpajang di dinding yang berada di atas ranjang. "Ya, buat kenang-kenangan aja. Meskipun kamar ini sekarang jarang aku pake." Gibran menyeret koper milik Lara menuju lemari pakaiannya. Ia berniat menata baju-baju Lara di bagian yang masih kosong. "Eh, Mas, biar aku yang nata sendiri. Kamu nggak perlu," cegah Lara. Ia merasa malu karena ada beberapa pakaian dalam di dalam koper tersebut. "Kenapa, sih? Kamu memangnya bisa nata sendiri? Ini lemarinya tinggi, loh." Gibran melanjutkan aktivitasnya menata baju-baju Lara di lemari pakaiannya. Dan ia tidak sadar kalau yang baru saja ia ambil adalah pakaian dalam milik Lara. "Aku cuma malu aja, Mas. Di situ kan banyak onderdil aku. Itu yang lagi kamu pegang juga termasuk onderdil," kata Lara sambil menunduk karena ia merasa cukup malu. Gibran baru sadar yang ia pegang saat ini adalah sebuah benda yang biasa digunakan untuk membungkus d**a wanita. Entah kenapa dadanya jadi berdebar-debar tak karuan. "Idih, ngapain pake acara malu? Besok, kalau kita udah nikah, misal kamu lagi sakit, benda ini juga bakalan aku cuciin. Biasa aja kali, Ra." Setelah selesai membereskan pakaian Lara di dalam lemari, Gibran putuskan untuk mengajak Lara keluar kamar. Mereka bergerak menuju dapur dan berbincang-bincang ringan dengan Asri sambil menunggu waktu Maghrib tiba. "Bi Asri masak apa, Bi?" tanya Gibran pada asisten rumah tangga di rumah orang tuanya tersebut. Asri baru saja selesai memasak. Dan saat ini ia sedang membereskan dapur. "Masak opor ayam kampung, Mas. Kan bibi tau hari ini Mas Gibran mau ke sini, jadi bibi masakin menu kaporitnya Mas dong," jawab Asri. "Yang bener itu favorit kali, Bi. Kenapa kepleset jadi kaporit? Bibi ada-ada aja." Gibran paham betul kalau asisten rumah tangga yang satu ini jago melawak. Meski terkadang melawaknya itu garing. "Yo pokoe ngunu lah, Mas. Piye, Mas sama Mba mau makan sekarang opo nanti nunggu Ibu pulang?" "Kalau Lara nanti aja, Bi. Nanggung banget bentar lagi Maghrib," sahut Lara. "Kalau Gibran sebenarnya pengennya sekarang sih, Bi. Udah keburu laper kalau ada opor. Tapi nanti aja deh nunggu Mama pulang. Makan itu bagusnya kan bareng-bareng. Makan sendiri nggak enak lah." Gibran terpaksa harus menahan rasa laparnya sejenak, karena ia ingin makan bersama dengan sang ibu. Hal sederhana yang akhir-akhir ini jarang Gibran lakukan bersama orang tuanya. Maklum, Gibran sekarang sudah tidak lagi tinggal di sini. Mereka juga punya kesibukan sendiri-sendiri. "Yo wes, sambil nunggu Ibu pulang, Mas sama Mba duduk-duduk dulu atau nonton opo dulu gitu. Palingan sebentar lagi Ibu pulang kok," saran Asri. Gibran lalu mengajak Lara ke ruang tengah. Ia kemudian membopong Lara dan memindahkan gadis itu duduk di atas sofa. Mereka duduk berdampingan sambil menonton film kartun di televisi. Sedang asyik menonton, Lara tiba-tiba merasa ada yang menggelitik pundaknya. Ia lantas menatap Gibran dengan sebal. Dirinya sangat yakin kalau ini adalah perbuatan jahil pria itu. "Kalau nonton, ya nonton aja, Mas. Nggak usah jahil gitu napa tangannya?" protes Lara. Gibran justru menatap Lara aneh. "Tanganku nggak ngapa-ngapain perasaan." Lara baru sadar kalau tangan kanan Gibran tengah menggenggam tangannya. Sementara tangan yang kiri, berada di atas paha pria itu. Sampai detik ini Lara masih merasa ada tangan yang masih menggelitik pundaknya. Ia memutuskan untuk menoleh. Dirinya sangat terkejut karena di pundaknya kini ada tangan misterius dengan kuku-kuku hitam dan panjang. "Aaa ...!" Lara menjerit ketakutan kemudian refleks menyembunyikan wajah pada d**a Gibran. Hal ini jelas membuat Gibran kaget. Nyaris saja jantungan karena jeritan Lara tadi benar-benar keras. "Ada apa, sih? Kamu lihat apa?" tanya Gibran cemas. "Ono opo to, Mas?! Kok Mba Lara teriak-teriak ngunu?" Bi Asri lari dari dapur dengan tergopoh-gopoh. Ia pun mendengar jelas suara teriakan Lara tadi. "Nggak tau, Bi. Lara tiba-tiba aja teriak dan langsung ngumpetin mukanya di sini. Mungkin ... dia habis lihat nganu." Gibran sengaja tak memperjelas ucapannya. "Nganu apaan?" Lara mendongakkan kepala dan menatap Gibran dengan raut wajah takut. "Nganu pokoknya. Memangnya kamu lihat apaan tadi?" "Tadi aku pikir, tangan kamu yang ngelitikin pundakku. Tapi ternyata ... tangan misterius, kukunya item-item dan panjang gitu," jelas Lara ketakutan. "Oh tangan misterius to. Palingan ada yang pengen kenalan sama kamu. Btw, enak banget ya si tangan misterius itu. Belum apa-apa udah berani grepe-grepe kamu. Aku juga pengen kali." Lara refleks menoyor kepala Gibran, karena ia merasa gemas dengan kekonyolan pria itu. Sedang ketakutan begini, Gibran malah sibuk bercanda. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN