Part 21. Telepon Terakhir

1324 Kata
"Kamu akan segera mati, Lara." Lara terbangun dari tidurnya. Penyebab ia terbangun karena dirinya merasa ada seseorang yang berbisik sesuatu di telinganya. "Nggak ada siapa-siapa perasaan. Tadi yang ngomong, siapa ya?" Lara menatap sekeliling. Ia tak menemukan siapa-siapa di kamar inapnya. Namun, pikirannya mulai kalut karena ia tadi merasa ada yang berbisik di telinganya. Mendadak ia jadi teringat dengan hantu perawat yang kerap kali datang menerornya. "Ya Allah, mana aku lagi sendirian. Takut aja kalau 'dia' tiba-tiba nongol dan neror aku lagi." Sambil menahan rasa takut, Lara putuskan untuk meraih ponsel miliknya yang terletak di meja nakas. Ia lalu mencoba menghubungi Gibran, tapi lelaki itu tak kunjung mengangkatnya. Lara menduga kalau acara tahlilan di rumah orang tua pacarnya belum selesai. "Aku coba hubungi Aida aja deh." Lara putuskan untuk menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu. Ia tersenyum lega ketika Aida menerima panggilan teleponnya. "Halo, Cah Ayu. Ono opo to? Kangen yo?" "Gaya lo sok ngomong jawa, Da, tapi logat lo kedengaran kaku." "Lah, yo ben atuh. Gue ini kan keturunan Janda alias Jawa-Sunda, jadi ya kalau gue ngomong jawa, endingnya logatnya kedengaran aneh. Lo ada perlu apa telepon gue? Mau curhat? Lo berantem lagi sama Gibran?" Lara memutar bola mata malas. Mungkin karena ia hobi bertengkar dengan Gibran, Aida sampai mencurigainya kalau detik ini ia dan sang pacar sedang bermasalah. "Bukan, Da. Gue pengen minta bantuan lo buat nemenin gue di sini. Gue takut, nih. Lo lagi sibuk nggak?" "Lo takut sama apaan, sih? Sama suster ngesot ya? Oke, gue mau otw ke sana, ya. Ini gue masih di cafe. Niatnya emang mau nemuin lo kok. Dan ntar malem gue juga mau nginep di situ, gantian sama Gibran, kasian dia." "Thanks banget ya, Da, lo udah bersedia buat nginep sini nanti. Gue nanti bilang ke Gibran biar dia tidur di rumah aja, nggak perlu ke sini. Gue tunggu kedatangan lo ya, Da, bye." Lara pun memutuskan panggilan telepon. Kemudian ia mulai mengetik pesan untuk Gibran. Ia meminta Gibran untuk tidak perlu datang ke rumah sakit karena sudah ada Aida yang akan menjaganya malam ini. Setelah mengirim pesan, Lara kembali meletakkan ponselnya di meja nakas. Karena merasa jenuh mau berbuat apa, gadis itu berniat untuk tidur kembali. Baru juga memejamkan mata, ia tiba-tiba mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dan bergegas masuk. "Eh, suster." Lara kembali membuka mata dan mendapati ada seorang perawat wanita tengah bergerak menghampirinya. Ketika suster tersebut telah sampai di sampingnya, Lara merasa seperti ada yang aneh. Tatapan suster tersebut terlihat kosong. "Ada apa, Sus? Mau ngecek infus saya, ya? Masih banyak kayaknya." Suster tersebut menggeleng lemah. Ia lalu melakukan hal yang benar-benar membuat Lara terkejut. "Sus ...!" Lara berusaha menyingkirkan kedua tangan suster tersebut dari lehernya. Cekikan itu terasa makin kuat. Membuat Lara kesulitan untuk bernapas. "Sus, le-lepas!" Berkali-kali Lara memukuli tangan suster itu. Ia mencoba membebaskan diri. Namun, makin ke sini tenaganya makin terkuras. Leher terasa benar-benar sakit dan ia mulai kewalahan untuk bernapas. Lara hanya sanggup menangis di sisa-sisa kesadarannya. Ia melihat suster tersebut tersenyum penuh misteri. Gadis itu hanya mampu berdoa meminta perlindungan dalam hati. Pergerakannya sudah mulai melemah. Lara memilih pasrah jika memang ia harus pergi dengan cara seperti ini. 'Siapa kamu sebenarnya? Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini?' tanya Lara dalam hati. *** Aida baru saja sampai di rumah sakit. Ia lalu bergegas menuju kamar inap sahabatnya. Ketika di koridor, ponselnya tiba-tiba berdering. Rupanya ia mendapat telepon dari Gibran. "Ada apa, Ran? Kangen sama Lara kok teleponnya ke aku." "Bukan gitu, Da. Aku dari tadi telepon Lara kok nggak diangkat, ya? Apa dia lagi tidur? Aku mendadak perasaannya jadi nggak enak nih." "Lagi tidur paling. Ini aku lagi otw ke kamarnya. Tadi Lara telepon, aku suruh cepat ke sini, tapi karena jalanan macet, jadi baru nyampe deh. Tapi tenang aja, malam ini aku akan nginep di sini jagain dia. Kamu istirahat di rumah aja, Ran. Jangan terlalu terforsir. Nanti ujung-ujungnya kamu sakit juga." "Ya udah, aku titip Lara sama kamu, ya. Kalau ada apa-apa, langsung kabari aku." "Oke. Siap, Pak Bos." Aida memutuskan sambungan telepon. Beberapa langkah kemudian, ia akhirnya sampai di ruang perawatan Lara. "Nah kan bener. Ni bocah pasti molor. Pantesan aja Gibran ngomel gegara teleponnya nggak diangkat." Aida mendapati Lara sedang terlelap dengan nyenyak. Ia memilih duduk di sofa yang berada di sana. Daripada suntuk menunggui orang tidur, Aida gunakan waktu untuk berselancar di dunia maya demi menghilangkan rasa jenuh. Saat sedang asyik scroll-scroll beranda i********:-nya, Aida merasa ada yang aneh dengan Lara. Bermenit-menit ia berada di sini, tapi dirinya sama sekali tak mendengar suara dengkuran Lara. Biasanya sahabatnya itu hobi sekali mendengkur ketika sedang tidur. "Lo udah tobat, Ra, nggak jadi tukang ngorok lagi?" tanya Aida pada Lara. Tapi sahabatnya itu sama sekali tidak merespons. "Pulas banget tidurnya tuh anak. Lo ngantuk berat atau gimana, Ra?" tanya Aida lagi. Karena tak kunjung ada respons, Aida memilih bergerak menghampiri Lara. Saat dirinya berada di dekat Lara, Aida mulai merasakan ada sedikit kejanggalan. Kenapa wajah Lara terlihat begitu pucat? "Ya Allah, dingin banget lo, Ra?" Aida baru saja mengecek dahi Lara yang terasa sangat dingin. "Gue merasa ada yang aneh, deh. Ra, bangun, Ra." Aida mencoba membangunkan Lara dengan cara mengguncang-guncangkan tubuh Lara dengan pelan. "Ra, lo kenapa nyenyak banget tidurnya? Atau jangan-jangan ...?" Aida lalu mengecek bawah hidung Lara, denyut nadi, bahkan memeriksa detak jantung Lara. Hatinya benar-benar rontok saat dirinya tahu bahwa sahabat dekatnya itu telah tiada. "Innalilahi wainnailaihi roji'un. Ya Allah, Ra ... lo kenapa pergi begitu aja, Ra? Bangun, Ra, bangun." Aida kembali mengguncang-guncangkan tubuh Lara sambil menangis. Sungguh ia merasa ini seperti mimpi saja. Aida buru-buru menghapus air matanya dan ia segera memencet tombol call nurse demi meminta bantuan pada perawat untuk segera datang. Beberapa menit kemudian, ada dua orang perawat dan dokter jaga yang datang. Mereka langsung mengambil alih untuk memeriksa kondisi Lara. Dan meminta Aida untuk menunggu di depan kamar. Aida memilih duduk di kursi tunggu yang letaknya tak jauh dari kamar inap Lara. Ia duduk dengan perasaan kacau. Aida masih ingat jelas tadi ia sempat berbicara via telepon dengan Lara. Sungguh ia tidak menyangka kalau itu adalah kali terakhir ia berbicara dengan sahabatnya. "Ya Allah, Ra ... kenapa lo pergi secepat itu, Ra? Gue harus ngomong apa sama Gibran?" Aida merasa benar-benar bingung. Ia tidak tahu bagaimana caranya memberitahu kabar buruk ini pada pacar sahabatnya itu. "Dokter!" Aida beranjak berdiri dan bergegas menghampiri dokter yang baru saja keluar dari kamar inap Lara. Terlihat dokter wanita itu menatap Aida tak terbaca. "Teman saya, serius meninggal, Dok?" Aida masih merasa tak percaya saja dengan fakta yang ada. "Iya, Mba. Mba Lara sudah tidak ada. Dan kami menemukan ada keanehan di tubuhnya." Perkataan dokter tersebut sukses membuat Aida penasaran. "Keanehan apa, Dok?" "Mba Lara ini seperti habis dicekik orang, Mba. Di bagian leher, kelihatan sekali bekasnya." Aida sangat tercengang sekaligus marah dan tak terima. Siapa orang yang sudah berani menyekik Lara bahkan sampai menyebabkan gadis tersebut kehilangan nyawa? "Tega banget sih orang yang udah nyekik sahabat saya?! Apa rumah sakit ini nggak ada sistem keamanannya?! Bisa-bisanya ada pembunuh masuk, tapi nggak ada yang tau!" Aida mulai terbakar emosi. "Maaf, Mba, ini semua di luar kendali kami sebagai petugas medis. Pihak keamanan pun juga nggak mungkin harus selalu memeriksa siapa-siapa saja yang masuk ke rumah sakit ini. Kami akan segera cek rekaman cctv supaya lekas tau siapa pelakunya, Mba. Dan kami juga akan melakukan autopsi tehadap jasad pasien, supaya benar-benar yakin penyebab meninggalnya karena apa." Aida sudah keburu malas mendengar alasan dokter tersebut. Ia memilih kembali lagi ke kamar Lara. Dan sebentar lagi Lara akan segera dipindahkan ke kamar jenazah. "Lara ... maafin gue, Ra. Gue nggak bisa jagain lo dengan baik. Seandainya gue datang lebih cepat, mungkin lo nggak akan berakhir seperti ini, Ra ...." Aida memeluk jasad Lara sambil senantiasa menangis dan menyesal karena tidak datang tepat waktu. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN