"Huh, hari ini benar-benar hari yang menjengkelkan. Kenapa Gibran tega banget mempermainkan aku, sih?!" Rinka baru saja memasuki kamarnya. Ia lalu duduk di pinggiran tempat tidur dengan kesal. Seharusnya, jika saja Gibran tak berubah pikiran, mungkin detik ini Rinka tengah bersenang-senang dengan pria itu.
Ia lalu melepas kemejanya dan hanya menyisakan tank top putih yang membalut tubuh atasnya. Rinka pun bergerak menuju meja rias dan menatap dirinya dari balik cermin. Ia terbilang cukup cantik dan memiliki tubuh yang bagus. Dirinya sangat heran kenapa Gibran bisa-bisanya tidak tergoda sedikit pun dengan pesonanya.
"Aku memang harus benar-benar menyingkirkan gadis sialan itu. Tapi gimana caranya, ya? Aku cuma nggak ingin nanti ketahuan polisi. Kalau minta bantuan dukun, pasti Rasya akan menggagalkan semuanya."
"Aku akan membantumu."
Tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang sukses membuat Rinka kaget bukan main. Ia merasa tidak ada siapa-siapa yang masuk ke kamarnya. Tapi kenapa tiba-tiba terdengar suara wanita di dalam kamar ini?
"Aaa ...!" Rinka berteriak ketakutan ketika ia melihat ada seorang wanita mengerikan tengah berdiri di belakangnya. Rinka dapat melihat wanita dengan pakaian perawat berlumuran darah tersebut dari cermin meja rias. Ia refleks menutupi kedua matanya karena benar-benar takut.
Rinka mulai mencium bau busuk di sampingnya. Tiba-tiba saja ada yang menurunkan secara paksa kedua tangannya. Ia refleks menoleh ke sisi kanan, wanita mengerikan itu rupanya tengah berada di sebelahnya.
"K-k-kamu ... s-siapa?" tanya Rinka terbata-bata.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku. Kamu ingin menyingkirkan gadis itu? Aku akan bersedia membantu, tanpa harus mengotori tanganmu, apalagi meninggalkan jejakmu." Ayudia tersenyum licik. Ia lalu menuntun salah satu tangan Rinka untuk menutupi mata dokter muda tersebut.
"K-ke mana perginya dia?" Rinka memilih menurunkan tangannya dan ia tidak mendapati Ayudia ada di kamar ini.
Rinka dapat bernapas lega ketika dirinya sudah yakin kalau hantu perawat tersebut telah menghilang. Ia lalu menjatuhkan diri ke atas kasur. Berbaring dengan kondisi merentangkan kedua tangan. Rinka tiba-tiba saja teringat sepertinya ia pernah bertemu dengan hantu perawat itu.
"Waktu pas Lara koma kan aku ketemu 'dia' di depan ruang ICU. Dia sebenarnya siapa, sih? Kenapa tadi bilang, 'dia' akan membantuku untuk menyingkirkan Lara? Maksudnya apa, ya?" Rinka mencoba berpikir keras. Namun, ia sama sekali tak kunjung menemukan jawabannya. Rinka hanya penasaran kenapa hantu tersebut berniat membantunya.
"Rin. Rinka."
Rinka menghela napas berat ketika terdengar suara sang ibu memanggilnya dari luar. Situasi hatinya sedang kacau. Dan ia paling sebal kalau harus berbicara dengan Sasmita yang ujung-ujungnya pasti akan membahas rencana perjodohannya dengan Hendra.
"Iya, Ma. Masuk aja. Nggak dikunci kok." Rinka beranjak bangun dan menuju lemari pakaian. Ia lalu mencari-cari t-shirt untuk ia pakai.
"Eh, Rin. Kamu sudah dapat kabar belum tentang teman kamu si Vina itu?" Sasmita pun masuk dan langsung menanyai putrinya.
"Kabar apaan emangnya, Ma? Vina nggak ngasih kabar apa-apa tuh." Rinka baru saja selesai memakai salah satu koleksi t-shirt-nya yang berwarna merah muda.
"Vina baru aja meninggal, Rin."
"Hah?! V-Vina meninggal, Ma?!" Rinka terkejut bukan main mendengar kabar buruk tentang sahabatnya.
"Iya, Rin. Tadi Hendra telepon mama dan ngasih tau kabar ini. Kamu mau langsung ke sana atau besok pagi aja? Kalau dimakamkannya sih besok pagi kata Hendra."
Rinka merasa kakinya mendadak lemas dan ia refleks terduduk di pinggiran tempat tidur. Ia tidak menyangka kalau Vina akan pergi secepat ini. Dan hal baru yang Rinka takutkan adalah, kalau Vina meninggal, otomatis Hendra tidak ada penghalang lagi untuk mendapatkan dirinya.
'Apa aku benar-benar nggak ada kesempatan untuk memiliki Gibran? Vina udah nggak ada, itu artinya Hendra menjadi duda, dan aku nggak bisa menolaknya lagi karena sekarang dia udah nggak memiliki istri lagi.' Keresahan itu hanya sanggup Rinka batin saja. Ia tidak bisa lagi lari dari Hendra. Pun kedua orang tuanya pasti akan semakin mendukung Hendra.
"Rin, eyalah, mama nanyain loh dari tadi. Kamu kok malah sibuk melamun?" Sasmita memilih duduk di samping putrinya. Ia menduga pasti Rinka sangat sedih karena sahabat terdekat telah tiada.
"Sabar ya, Rin. Kamu pasti sedih ya mendengar kabar ini?"
"Ma, Vina meninggalnya karena apa, Ma?" tanya Rinka mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Karena kecelakaan mobil, Rin. Langsung meninggal di tempat katanya."
"Rinka ke sananya besok aja lah, Ma. Hari ini Rinka capek banget, pengen istirahat." Wanita itu memberi alasan palsu. Sebenarnya Rinka belum siap bertemu Hendra.
"Ya sudah. Besok saja mending kita ke sananya. Sekarang kamu bersih-bersih badan dulu, gih. Baru tidur." Sebelum keluar dari kamar Rinka, Sasmita terlebih dulu mengecup puncak kepala putrinya sebagai tanda kasih sayang seorang ibu pada anak.
***
"Kami turut berdukacita yang sebesar-besarnya atas meninggalnya Vina ya, Nak Hen. Semoga Nak Hendra kuat dan ikhlas menerima cobaan ini." Fadhlan mewakili keluarga mengucapkan bela sungkawa kepada Hendra.
Keluarga Rinka saat ini tengah berada di rumah Hendra. Mereka baru saja mengantarkan Vina ke tempat peristirahatan terakhir. Sedari tadi Rinka senantiasa diam. Ia masih syok dengan perginya Vina.
"Terimakasih ya, Pak, Bu, dan Rinka. Kalian sudah datang jauh-jauh ke sini untuk mengantarkan Vina ke pemakaman. Eum, Rin, aku mewakili Vina mau meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila Vina punya salah ke kamu." Hendra menatap Rinka cukup serius. Ia dapat melihat jelas kalau Rinka sangat kehilangan Vina.
Wanita yang mengenakan baju serba hitam itu mengangguk lirih sebagai jawaban bahwa ia telah memaafkan kesalahan Vina, baik yang disengaja atau pun yang tidak.
"Jadi, untuk ke depannya rencana Nak Hendra bagaimana? Apakah Nak Hendra akan mempercepat rencana pernikahan Nak Hendra dengan Rinka?" Sasmita bertanya pada situasi yang tidak tepat. Fadhlan tiba-tiba berdehem dan berbisik padanya.
"Ma, mbok yo bahasnya jangan sekarang. Ini situasinya Nak Hendra lagi berduka, loh."
"Pa, Nak Hendra ini nggak cinta sama Vina. Jadi tentunya dia nggak sedih-sedih amat lah kalau istrinya itu meninggal." Sasmita pun berbicara dengan nada berbisik agar tidak kedengaran oleh Hendra.
"Maaf, Tante, untuk urusan itu saya belum memikirkannya sekarang. Ya, saya memang sudah mantap untuk menikahi Rinka, tapi kalau kecepatan juga tanggapan orang-orang sekitar akan negatif nantinya, Tante. Jadi tolong kasih saya waktu ya, Tante. Sekaligus saya juga ingin melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan Rinka." Hendra meminta pengertian Sasmita untuk memberinya kelonggaran waktu.
"Oke. Tante jelas akan dengan senang hati memberikan kelonggaran waktu untuk Nak Hendra. Tante cuma ingin kepastian aja kok dari Nak Hendra. Kalau misalkan Nak Hendra ini ingin pedekate dulu sama Rinka, yo bagus itu. Tante sangat mendukung rencana Nak Hendra yang satu ini."
"Maaf, Ma, meskipun Mama bersikeras mendukung keputusan Hendra, tapi Rinka sama sekali nggak setuju, Ma. Meski sekarang Hendra statusnya duda, Rinka tetap nggak mau nikah sama dia." Rinka kembali menolak rencana perjodohan ini. Alasannya hanya satu, ia masih ingin mengejar Gibran. Dan kali ini ia sudah mantap untuk menyingkirkan Lara dari kehidupan Gibran, bagaimana pun caranya.
"Rinka, apa yang membuat kamu nggak setuju dengan rencana perjodohan ini, Nak? Nak Hendra ini anak baik-baik loh. Papa cukup mengenal dia dengan baik." Fadhlan tampaknya lebih mendukung kubu Hendra ketimbang memihak perasaan anaknya.
"Pa, Rinka mencintai orang lain. Tolong jangan paksa Rinka untuk menikah sama dia dong, Pa." Kejujuran Rinka ini tanpa sengaja membuat Hendra penasaran dengan pria yang dicintai Rinka. Kira-kira seperti apa pria tersebut, sampai-sampai membuat Rinka berani menolaknya?
"Rin, kamu itu polos, tapi jangan kepolosan dong, Rin. Mama tau, kamu masih suka kan sama Gibran? Ngapain sih kamu suka sama orang yang jelas-jelas hobi banget nolak kamu? Hati kamu itu terbuat dari apa sih, Nak? Kok kebal banget gitu, loh. Kalau mama jadi kamu, mama akan buktikan ke Gibran kalau mama mampu mendapatkan pria yang jauh lebih dari dia. Dan pilihan mama jatuh pada Nak Hendra." Sasmita mencoba menasihati putrinya, tapi ujung-ujungnya ia malah memberi dukungan penuh pada Hendra. Dan hal ini jelas saja membuat Rinka kesal karena Sasmita sama-sama lebih memihak Hendra.
"Tapi menurut Rinka, Gibran itu yang paling terbaik, Ma. Kalau Mama Papa tetap ngotot ingin Rinka menikah dengan laki-laki bekas suami sahabat Rinka sendiri, Rinka akan nekat keluar dari rumah." Setelah mengancam, Rinka main pergi saja meninggalkan kedua orang tuanya.
"Haduh, anakku satu-satunya itu loh kalau ngomong suka nggak disaring dulu mulutnya. Maaf, ya, Nak Hendra, Rinka kalau sedang marah memang suka seenak jidat ngomongnya. Harap dimaklumi, ya." Sasmita merasa tak enak hati pada Hendra karena tadi Rinka sempat mengatai pria itu sebagai bekas suami orang.
"Oh, nggak apa-apa, Tan. Yang dikatakan sama Rinka memang benar kok. Saya kan memang bekas suaminya Vina. Jadi saya nggak begitu ambil hati omongan Rinka." Hendra menganggap biasa kata-kata tak sopan Rinka tadi.
Tbc ...