Part 19. Hati yang Terlanjur Murka

1094 Kata
"Rinka benar nggak punya hati. Aku nggak sudi di dalam tubuhku ini mengalir darahnya dia!" Lara meradang setelah tahu persyaratan yang diberikan Rinka untuk Gibran. Ia tak habis pikir kenapa wanita itu begitu terobsesi untuk mendapatkan Gibran, sampai-sampai memberi persyaratan segila ini. "Saat itu satu-satunya orang yang cocok dengan darah kamu adalah Rinka. Dan aku terpaksa menyetujui persyaratan itu, karena aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," imbuh Gibran. Lara tidak bisa main menyalahkan kekasihnya saja. Ia justru merasa terharu atas pengorbanan lelaki itu. Ketika Gibran berusaha mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan nyawanya, Lara justru berbuat teledor dengan mencelakai dirinya sendiri. Ia melakukan percobaan bunuh diri itu karena pengaruh Ayudia. Dan alasan lain karena ia tak ingin Gibran nantinya dipenjara. "Hidup kita benar-benar sedang dipermainkan oleh hantu perawat itu. Mau sampai kapan sih kita seperti ini terus ...?" Lara nyaris putus asa menghadapi masalahnya. "Apa penyebab kamu sampai nekat melakukan percobaan bunuh diri karena hantu perawat itu?" tanya Gibran selidik. Lara mengangguk lemah sebagai jawaban. "Alasannya apa, Ra? Kayaknya hantu itu nggak hanya mengincar nyawa Mama Papa aja. Tapi nyawamu, bahkan nyawaku pun bisa aja jadi incaran selanjutnya." Gibran memiliki insting kalau Ayudia menginginkan dirinya dan juga Lara untuk ikut menyusul kedua orang tuanya ke alam baka. "Dia mengancam akan membuat kamu mengaku sebagai tersangka kasus pembunuhan kedua orang tua kamu. Karena aku nggak mau, dia menyuruhku untuk bunuh diri, Ran." Gibran hanya sanggup menghela napas kasar. Sampai detik ini ia belum juga menemukan jalan keluar untuk menghentikan teror hantu perawat tersebut. "Mulai sekarang, kita harus semakin dekat sama Allah, Ra. Bentengi diri kamu dengan banyak doa. Jangan sampai kamu melakukan percobaan bunuh diri lagi, meski 'dia' berkali-kali mengancam. Itu bisa aja trik untuk makin menyesatkan manusia." Gibran memberi nasihat, karena hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini. "Terus gimana sama hubungan kita, Mas? Kamu tetap akan ninggalin aku demi Rinka?" Lara mengganti topik pembicaraan. Gibran yang sedari tadi duduk di kursi dekat tempat tidur Lara, kini beranjak berdiri dan memilih duduk di pinggiran tempat tidur. Ia lalu membelai salah satu pipi gadisnya. Posisi Lara saat ini sedang duduk bersandar pada bantal. Gibran paham, Lara begitu takut kalau memang benar ia akan pergi meninggalkan gadis tersebut demi memenuhi persyaratan dari Rinka. Tapi kali ini ia sudah mantap akan tetap mempertahankan Lara. Urusan nanti Rinka tidak terima atau pun marah pada sikapnya, ia tidak terlalu memusingkan. "Aku nggak akan pergi, Ra. Aku minta maaf, karena sempat membuat kamu takut. Tadi aku hanya terjebak dalam situasi rumit. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Makanya aku terpaksa setuju dengan persyaratan yang diberikan Rinka. Nanti aku akan coba bicara baik-baik ke dia. Mudah-mudahan dia bisa menerima keputusanku. Sekarang, kamu mending istirahat lagi. Kamu harus cepat sembuh. Jadwal operasi untuk kesembuhan tulang belakang kamu minggu depan. Jadi kamu harus jaga kesehatan dari sekarang." Gibran membantu Lara untuk berbaring kembali, kemudian menyelimuti gadisnya sampai sebatas leher. Tak lupa ia dapatkan kecupan manis pada kening kekasihnya. "Mas akan tetap di sini, kan? Atau mau pulang sebentar?" tanya Lara. "Aku akan menemui Rinka dulu. Aku akan bicara baik-baik ke dia soal masalah kita. Baru setelah itu, aku akan balik ke sini lagi. Malam ini aku akan jaga kamu di sini. Biar Aida, nanti aku suruh pulang aja." Sebenarnya Lara merasa tidak rela mengizinkan Gibran untuk bertemu Rinka lagi. Namun, karena lelaki itu berniat menyelesaikan masalah mereka dengan Rinka, Lara pun memilih untuk mengalah sejenak. *** "Lama banget kamunya. Hampir aja, tadi mau kusamperin ke sana." Rinka yang sejak tadi duduk di kursi kerja Gibran, kini bergegas berdiri ketika tahu lelaki itu datang. "Aku ingin bicara penting sama kamu, Rin." Gibran memilih duduk di sebuah sofa yang berada di ruangannya. "Bicara penting apa, sih? Jangan-jangan kamu mau bahas soal pernikahan kita, ya?" Rinka menghampiri Gibran dengan antusias. Ia terlalu percaya diri kalau Gibran akan membahas rencana pernikahan mereka. Karena pikir Rinka, ia telah berhasil mendapatkan Gibran. "Kita nggak akan pernah menikah, Rin," ucap Gibran datar. "Loh, kok kamu mendadak berubah pikiran gitu? Kan tadi kamu udah setuju sama persyaratan kita, Ran?!" Rinka merasa dipermainkan oleh Gibran. "Apa pun alasannya, aku tetap nggak bisa ninggalin Lara. Aku akan bayar berapa pun kamu minta untuk membayar darah kamu." "Ran, aku nggak butuh uang kamu, ya?! Yang aku butuhkan itu kamu, Ran ... aku pengen kamu jadi milikku. Kamu paham nggak sih?!" Emosi Rinka sudah di ubun-ubun. Baru saja ia merasa bahagia telah berhasil merebut Gibran dari Lara. Rencananya besok atau lusa ia akan memperkenalkan Gibran pada Sasmita sebagai calon suaminya. Dengan begitu pasti Sasmita tidak akan ngotot menjodohkannya dengan Hendra. Namun, belum apa-apa Gibran malah sudah berubah pikiran. Membuat darah Rinka mendidih saja. "Rin, coba sekali-kali kamu renungkan. Kamu memaksa orang yang nggak mencintai kamu untuk menikahi kamu. Kamu pikir, pernikahan kita nanti akan bahagia?" "Ran, aku nggak maksa kamu, ya. Aku cuma ngasih kamu dua pilihan. Dan tadi kamu udah setuju, Ran, tapi kenapa sekarang kamu mendadak berubah pikiran, sih?! Nah, aku tau, ini pasti karena Lara, kan? Dia pake trik apa sih sampai-sampai berhasil membuat kamu jadi plin-plan begini? Kalau bakalan kayak gini, aku ogah banget donorin darahku ke dia. Tau gini mending tadi aku biarin dia mati aja sekalian!" Rinka sangat murka dengan pilihan Gibran. Ia pun menduga kalau semua ini karena ulah Lara. "Dengan kejadian ini, aku jadi tau gimana aslinya kamu. Sebagai sesama manusia, kamu harusnya iba dengan kondisi Lara yang saat itu sedang kritis. Tapi kamu malah memanfaatkan situasi rumit ini untuk kepentingan pribadi kamu sendiri. Kamu benar-benar egois, Rin." Gibran seperti sudah tidak mengenal Rinka yang sekarang. Sifat wanita itu benar-benar telah berubah. "Aku jadi kejam begini karena kamu, Ran. Karena kamu yang terus-terusan menolak aku, maka jangan kaget kalau sekarang aku benar-benar berubah menjadi pribadi yang nggak kamu sukai. Hari ini, kamu benar-benar udah membuat aku marah. Aku bersumpah, aku akan menyingkirkan orang yang selama ini telah merebut kamu dari aku, Ran." Rinka berniat keluar dari ruangan Gibran, tetapi langkahnya dengan cepat dicegah oleh pemilik ruangan ini. "Jangan berani macam-macam, Rin. Jangan sekali pun kamu berani menyentuh Lara seujung kuku pun!" bentak Gibran. Rinka menatap Gibran dengan tajam. Sudah cukup ia merasa ditindas selama ini. Jika menyingkirkan Lara adalah hal yang dapat membuat hatinya puas, maka Rinka sudah mantap akan melakukannya. Tak peduli dengan dosa, tak peduli nanti ia akan ditangkap polisi karena telah melakukan sebuah tindakan kejahatan. Rinka hanya ingin dunia ini memperlakukannya dengan adil. "Aku akan buat hidup kalian menderita. Camkan itu, Ran," ancamnya tak main-main. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN