Part 18. Tak Ingin Pisah

1648 Kata
"Lara gimana, Sya?" Gibran segera menghampiri Rasya ketika sahabatnya itu baru saja keluar dari ruang IGD. Wajah Rasya kelihatan seperti orang gelisah. "Lara kehabisan banyak darah, Ran. Saat ini pihak rumah sakit kehabisan stok darah yang memiliki kecocokan dengan golongan darah Lara. Apa di antara kalian, ada yang memiliki golongan darah O-? Lara cuma bisa menerima transfusi darah dari orang yang sama-sama memiliki golongan darah O- seperti dia." "Golongan darah gue AB-, Sya. Kalau kamu, Da?" tanya Gibran pada Aida. "Aku A+, Ran." "Aku O-." Rinka tiba-tiba memberitahu golongan darahnya tanpa menunggu pertanyaan dari Gibran. "Serius, Rin? Alhamdulillah. Kamu bersedia mendonorkan darah kamu buat Lara kan, Rin? Ayolah, Rin, please, tolong bantu Lara, kali ini aja," bujuk Gibran. Rinka tersenyum kecut. Baru kali ini ia melihat Gibran bersedia memohon padanya. Wanita itu memiliki ide licik untuk memanfaatkan kesempatan ini. "Oke, aku bersedia mendonorkan darahku, tapi imbalannya kamu harus nikah sama aku." "Heh, bibit pelakor! Bisa nggak sih lo nolongin orang dengan tulus?! Keadaan lagi genting begini, lo pake acara ngajuin syarat gila buat Gibran. Lo kan dokter, tapi sayangnya lo nggak punya hati nurani sedikit pun!" Aida sangat marah dengan persyaratan yang diajukan oleh Rinka. Namun, Rinka memilih untuk tidak meladeni kemarahan Aida. Ia lebih fokus menantikan jawaban Gibran. "Rin, please, syarat yang kamu ajukan itu terlalu berat, Rin. Aku akan melakukan apa pun kemauan kamu, asalkan jangan itu, Rin." Gibran mulai bernegosiasi. "Yang aku mau cuma itu. Kalau kamu keberatan, ya nggak masalah. Silakan cari pendonor yang lain." Sikap jual mahal Rinka makin menjadi. Hal ini membuat Aida makin emosi saja. "Dasar pelakor nggak tau diri!" Aida refleks mendorong Rinka sampai membuat wanita itu terjatuh. "Ihhh ...! Kamu jadi orang nggak punya sopan santun banget, sih?!" Rinka tidak terima dengan perbuatan kasar Aida padanya. Ia pun berdiri dan menatap Aida garang. "Ngapain juga gue harus sopan santun ke perempuan murahan kek elo?! Orang kayak lo itu pantesnya masuk ke neraka j*****m. Gayanya sok elegan, tapi ternyata hatinya busuk!" maki Aida. "Itu biar jadi urusanku, ya?! Kamu nggak usah ikut campur jadi orang. Kalau Gibran nggak mau, ya nggak masalah. Aku nggak maksa juga." "Aku bersedia, Rin," kata Gibran tiba-tiba. Semua orang refleks menatap Gibran tak percaya. "Serius lo, Ran?!" Rasya tidak tahu harus memberi solusi apa. Jika Gibran menolak, kemungkinan besar nyawa Lara tidak bisa tertolong. Untuk saat ini Lara sangat membutuhkan transfusi darah. Kalau harus mencari pendonor dari luar, itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sementara nyawa Lara sedang terancam. Namun, jika Gibran menyetujui syarat yang diajukan oleh Rinka, itu artinya hubungan antara Lara dan Gibran memang harus berakhir sampai di sini. "Ran, pikirin baik-baik dong, Ran. Duh, aku bingung harus kasih solusi apa. Nyawa Lara memang lebih penting, tapi hubungan kalian juga penting, Ran." Jika Aida berada di posisi Gibran, gadis itu mungkin akan kesulitan untuk memilih. Gibran memilih untuk mengabaikan perkataan Aida. Ia lalu menatap Rinka cukup serius. "Cepat lakukan transfusi darah sekarang," perintahnya dingin. "Oke." Rinka tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan berhasil mendapatkan Gibran dengan mudah. *** "Kamu mau ke mana? Jangan bilang kamu mau menemui Lara, ya? Kan tadi kamu udah sepakat sama persyaratan dari aku," cegah Rinka. Ia menghadang langkah Gibran ketika lelaki itu berniat akan keluar dari ruangannya. Detik ini Gibran tengah berada di dalam ruangannya. Ia baru saja bertukar baju. Tiba-tiba ia mendapat telepon dari Rasya kalau Lara sudah sadar. Niatnya Gibran akan menemui Lara, tetapi Rinka tiba-tiba masuk ke ruangannya dan menahan kepergiannya. "Aku hanya ingin menemui Lara, apa itu salah?" tanya Gibran dingin. "Ya ... nggak salah sih. Barangkali kamu mau ngucapin salam perpisahan ke Lara. Oke, aku akan izinin kamu ketemu dia. Tapi ingat, jangan lama-lama." Rinka mulai menunjukkan sikap posesifnya. Gibran hanya sanggup membuang napas kasar. Keputusan sudah terlanjur diambil. Mau tidak mau ia harus meninggalkan Lara karena tadi ia telah bersedia menyanggupi persyaratan dari Rinka. Lelaki dengan kaus lengan panjang berwarna hitam itu bergerak meninggalkan ruangannya. Ia lalu menuju kamar rawat Lara yang berada di lantai tiga. Kebetulan Lara sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ketika sampai di depan pintu kamar Lara, Gibran merasa sangat gugup. Ia tidak sanggup menyakiti Lara untuk ke sekian kalinya. Namun, Gibran tak punya pilihan lain. Ia harus meninggalkan Lara, sesuai kesepakatannya dengan Rinka tadi. "Udah, Ra. Lo mending tidur lagi aja. Lo harus istirahat total supaya kondisi lo kembali fit. Malam ini, biar gue yang jaga lo di sini." Aida berdiri kemudian membenarkan selimut Lara. Ia refleks menoleh ke arah pintu ketika ada seseorang yang masuk. "Eh, Ran," sapa Aida. Gadis itu pun bergegas menghampiri Gibran di depan pintu. "Kamu ke sini mau mutusin hubunganmu sama Lara? Besok aja deh, Ran. Kasihan si Lara baru sadar. Takutnya dia syok, Ran," bisik Aida. Gibran tidak menghiraukan pesan Aida. Lelaki itu bergerak menghampiri Lara, kemudian duduk di kursi stainless yang terletak di samping kanan bed pasien. Ia langsung mendapat senyuman hangat dari kekasihnya. Sungguh, hati Gibran makin teriris saja. "Ran, kamu mending pulang aja deh. Biar malam ini aku yang jagain Lara." Aida tergesa-gesa menghampiri Gibran dan juga Lara. Ia hanya takut Gibran nekat memutuskan Lara saat ini juga. "Mending kamu aja yang pulang. Biar malam ini aku yang jaga Lara," balas Gibran. "T-tapi, Ran--" "Da, Lara itu sekarang jadi tanggung jawabku. Jadi aku minta, kamu jangan terlalu ikut campur ke dalam urusan kami." Bukannya Aida sok ikut campur. Tapi ia tahu betul tadi Gibran setuju dengan persyaratan yang diberikan Rinka. Sebagai seorang sahabat, Aida jelas tidak mau Lara main disakiti saja oleh pria itu. "Sekarang Lara jelas jadi tanggung jawabku ya, Ran. Aku kenal dia jauh sebelum kamu loh. Jadi yang tau betul tentang Lara ya aku. Mending sekarang kamu aja yang pulang. Aku akan tetap di sini, meskipun kamu berkali-kali mengusir aku." Aida tetap ngotot tidak mau pergi. "Kalian berdua sebenarnya lagi kenapa, sih? Kok malah bertengkar?" Lara yang kondisinya masih lemah, akhirnya angkat bicara karena merasa heran dengan tingkah aneh Gibran dan Aida. "Ra, asal lo tau, Gibran yang sekarang itu bukan Gibran yang dulu. Gue nggak akan biarin dia nyakitin lo gitu aja, Ra," janji Aida. "Gue nggak paham sama maksud ucapan lo, Da. Gibran yang sekarang dengan Gibran yang dulu itu bedanya di mana?" Lara meminta penjelasan yang lebih detail. Aida memilih mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus bagaimana memberitahu Lara tentang keadaan yang sebenarnya. Aida hanya tidak sanggup melihat kehancuran Lara. Ia paham betul kalau sahabatnya ini sangat mencintai Gibran. "Apa kita harus kasih tau Lara sekarang? Aku cuma nggak sanggup nyampein kabar buruk ini ke Lara, Ran." Aida meminta pendapat Gibran. "Kalian sebenarnya lagi ngomongin apa, sih? Ada kabar buruk apa? Jangan bikin gue bingung, dong," desak Lara. "Ini biar jadi urusanku sama Lara, Da. Aku minta kamu keluar sebentar. Tolong beri kami ruang untuk berbicara berdua," pinta Gibran. Dengan sangat terpaksa, Aida akhirnya mengalah pergi dari kamar inap Lara. Detik ini hanya tinggal Gibran dan Lara saja di ruangan ini. "Apa yang sebenarnya terjadi, Mas?" Lara menantikan Gibran berterus terang padanya. Gibran memilih menggenggam salah satu tangan Lara. Ia lalu menciumi berkali-kali jemari kekasihnya tersebut. Membuat Lara bingung dengan sikap anehnya. "Mas, kamu sebenarnya kenapa?" Lara menduga kalau Gibran ini sangat takut kehilangannya. Makanya sikap Gibran benar-benar aneh. Gibran masih bungkam. Lelaki itu tiba-tiba membungkukkan badannya dan lantas mengecup bibir Lara dengan lembut. Ia hanya ingin memberi kenang-kenangan terakhir untuk kekasihnya. Gibran mulai membelai rambut Lara, kemudian menatap gadis pujaannya itu dengan mata berkaca-kaca. "Kamu marah ya sama perbuatan nekat aku? Kamu berhak marah kok, Mas. Aku memang salah. Aku benar-benar tertekan dengan hidupku sekarang. Tapi, setelah aku diberi kesempatan untuk tetap hidup seperti sekarang ini, aku mendadak punya keyakinan kalau aku bisa menghadapi semuanya. Semua karena kamu. Aku yakin aku mampu karena aku memiliki kamu di dunia ini." Gibran memilih untuk duduk kembali. Ia tengah memantapkan hati untuk berbicara terus terang pada Lara. "Mulai sekarang, jalani hidupmu sendiri, Ra," ucap Gibran dingin. Lara menatap kekasihnya tak terbaca. Ia tidak begitu paham dengan maksud perkataan lelaki itu. "Kamu ngomong apa sih, Mas? Maksudnya apa?" Perlahan Gibran melepaskan genggaman hangatnya dari tangan Lara. Ia menatap gadis tersebut dengan datar. Dan tak ada satu pun yang tahu bahwa Gibran sangat tersiksa dengan keadaan ini. "Aku telah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku akan segera menikah dengan Rinka." Kedua mata Lara lantas membulat. Ia terkejut bukan main dengan keputusan yang telah diambil oleh Gibran. Bagaimana mungkin Gibran tiba-tiba saja memutuskan hubungan dengannya, dan alasannya karena ingin menikah dengan Rinka? "Kamu ada apa sih sebenarnya? Kenapa kita tiba-tiba putus, dan kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahi Rinka?! Apa selama ini kalian berdua memang udah berani berhubungan diam-diam tanpa sepengetahuanku?! Benar begitu, Mas?! Aduh ...." Lara mendadak pusing karena ia belum sepenuhnya pulih, tapi emosinya benar-benar tidak bisa dikontrol. "Aku nggak bisa ngasih tau alasan kenapa aku lebih memilih Rinka. Yang jelas, mulai sekarang kita nggak ada hubungan apa-apa lagi, Ra. Maaf." Gibran beranjak berdiri dan berniat pergi, tetapi Lara tiba-tiba menahan lengannya. "Mas." Gibran memilih membuang muka. Ia dapat mendengar jelas kalau saat ini gadis itu tengah menangis. Namun, Gibran mana sanggup melihat air mata Lara. "Aku punya salah apa sih sama kamu? Kenapa kamu tiba-tiba jadi berubah seperti ini ...?" Perlahan Gibran melepaskan cekalan tangan Lara dari lengannya. "Kamu nggak salah. Aku yang salah. Aku terlalu pengecut. Dan kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku." "Mas!" Lara kembali menahan lengan Gibran ketika lelaki itu baru saja melepaskan cekalannya. "Jangan pergi. Aku nanti gimana kalau nggak ada kamu. Siapa yang akan bopong aku? Siapa yang akan ngingetin aku untuk minum obat? Hidupku sekarang bergantung sama kamu, Mas. Tolong jangan pergi. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi ...." Lara memohon dengan kondisi wajah berlinang air mata. Gibran mencoba tegar menatap Lara. Lambat laun, pertahanannya pun runtuh. Gibran memilih duduk di pinggiran ranjang. Membantu Lara untuk duduk, kemudian ia dapat leluasa memeluk kekasihnya dan membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN