Part 17. Jangan Tinggalkan Aku, Lara

1083 Kata
"Ran!" panggil Aida sambil berlari kecil menghampiri pacar sahabatnya itu. Posisi Gibran baru saja turun dari mobil. Dan tiba-tiba ia mendengar suara Aida memanggilnya. Gibran lalu berbalik badan dan mendapati Aida telah sampai di hadapannya. "Loh, Da. Kamu kok di sini? Bukannya kamu lagi nemenin Lara?" tanya Gibran heran. "Tadi aku chat kamu loh. Aku habis dari cafe, Ran. Aku udah chat kamu dari tadi, supaya ke sini dulu nemenin Lara. Aku sih pamitnya jam sepuluh baru ke sini. Tapi aku kepikiran sama Lara dan buru-buru ke sini. Takut kamu nggak datang karena pesanku belum dibaca sama sekali sama kamu," jelas Aida panjang lebar. "Jadi dari tadi Lara sendirian di rumah ini, Da? Aku dari tadi nggak buka handphone, Da. Ya mana aku tau kalau kamu pergi ke cafe dan ninggalin Lara seorang diri di rumah ini." Perasaan Gibran sudah tidak karuan. Ia pikir Lara ada yang menemani, tapi rupanya sejak tadi Lara seorang diri di rumah. "Mendingan sekarang kita langsung masuk aja, Ran. Perasaan gue bener-bener udah nggak enak banget," desak Rasya. Mereka bertiga pun mulai bergegas memasuki rumah Lara. Pintu depan dapat Gibran buka dengan mudahnya karena sama sekali tidak terkunci. Mereka pun masuk dan mulai mencari-cari keberadaan Lara. "Lara tadi ada di kamar, Ran. Mungkin sekarang dia masih di sana," ucap Aida memberitahu. Gibran pun langsung menuju kamar Lara, disusul dengan Rasya dan juga Aida di belakangnya. "Astaghfirullahal'adzim ..., Lara!" Gibran sangat terkejut setelah membuka pintu kamar Lara, dan ia langsung mendapati gadis itu tengah tergeletak tak berdaya di lantai, dengan kondisi pergelangan tangan kiri penuh dengan darah, dan ada sebuah pisau di samping Lara. "Ya ampun, Lara ... lo kenapa, Ra?" Aida tak kalah syoknya dengan hal nahas yang terjadi pada Lara. Gibran bergerak cepat menghampiri Lara. Ia lalu memeluk Lara dan menepuk-nepuk pipi gadis itu. "Lara. Sayang, bangun. Lara bangun, Lara." Rasya mengambil alih untuk memeriksa kondisi Lara dengan mengecek bawah hidung gadis tersebut. "Lara masih hidup, Ran. Ayo cepat bawa ke rumah sakit. Lengannya coba lo balut dulu pake kain atau apa," perintah Rasya. Karena sedang panik, Gibran tak sempat mencari-cari kain. Ia lantas melepas kemejanya kemudian ia gunakan untuk membalut pergelangan tangan Lara supaya pendarahan itu bisa dihentikan. Gibran kemudian membopong Lara dan bergegas membawa pacarnya itu ke mobil. Rasya mengambil alih untuk menyetir. Sementara di jok belakang ada dirinya yang tengah memangku Lara, dan Aida yang duduk di sampingnya. "Ra, bertahan, Ra. Kamu harus kuat. Kamu nggak boleh ninggalin aku, Ra." Gibran membawa Lara ke dalam pelukannya. Ia tidak begitu paham dengan apa yang telah terjadi pada kekasihnya. Namun, Gibran menduga bahwa Lara telah melakukan percobaan bunuh diri. Yang membuat ia bingung, kenapa Lara bisa sampai berbuat senekat itu? "M-Mas ...." Samar-samar Gibran mendengar suara Lara. Gadis itu pelan-pelan mulai sadar, meski ia belum sepenuhnya mampu untuk membuka mata. "Lara. Kamu sadar, Sayang? Jangan banyak bicara dulu. Kamu harus bertahan sampai rumah sakit. Kita sebentar lagi sampai. Kamu yang kuat, ya." Gibran menatap Lara dengan penuh kasih. Ia lalu mendaratkan kecupan hangat pada kening kekasihnya. Kecupan itu cukup lama dan dalam. "A-aku capek, Mas. Aku pengen nyusul Ayah sama Bunda," ucap Lara lirih. Semua orang yang ada di dalam mobil cukup merasa kaget dengan ucapan Lara yang terdengar seperti orang tengah ngelantur ini. "Ra, kamu kenapa ngomong begitu? Kamu ada masalah apa sebenarnya? Kamu nggak boleh ninggalin aku gitu aja, Ra. Kamu harus tetap bertahan." Gibran tidak rela kalau Lara akan pergi begitu saja. Di dunia ini, ia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya Lara-lah satu-satunya orang yang mampu membuatnya bertahan sampai sejauh ini. Lara hanya sanggup menangis tanpa suara. Ia sudah cukup tertekan dengan teror yang selama ini mengganggu ketenangan hidupnya. Mungkin jika kali ini ia selamat, Lara merasa tak sanggup kalau nantinya ia akan mendapat teror yang lebih kejam lagi dari Ayudia. *** Sejak tadi Gibran bergerak mondar-mandir di depan ruang IGD. Ia tengah menantikan Rasya keluar dari ruangan tersebut dan membawa kabar baik tentang Lara. "Ran, bisa nggak sih jangan mondar-mandir terus. Mataku ini dari tadi ngikutin kamu bolak-balik, loh. Pusing aku," protes Aida. Posisi gadis itu tengah duduk di kursi tunggu di depan ruang IGD. "Aku lagi gelisah banget, Da. Aku bener-bener khawatir banget sama kondisi Lara," jawab Gibran resah. "Iya aku tau kamu lagi gelisah. Aku juga nggak kalah gelisahnya. Udah, sini duduk. Doa yang khusyuk supaya Lara diberi kemudahan dan keselamatan." Gibran akhirnya memilih duduk di samping Aida. Ia pun kembali berdoa meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Lara. "Ya Allah, tolong selamatkan Lara. Jangan ambil dia dariku, Ya Allah." Hanya itu harapan Gibran saat ini. "Ran!" panggil Rinka dari kejauhan. Rinka pun berlari kecil menghampiri Gibran. Terlihat Aida menatapnya dengan seksama. 'Ini kan cewek yang waktu itu lagi sama Gibran di toko perlengkapan bayi? Aromanya itu kayak aroma pelakor,' batin Aida yang mendadak teringat kembali bahwa sebelumnya ia pernah bertemu dengan Rinka. "Tadi ada suster yang lihat kamu bawa pasien buru-buru ke IGD. Siapa memangnya, Ran?" tanya Rinka. "Lara, Rin. Dia melakukan percobaan bunuh diri dengan cara memotong urat nadinya." "Hah?! L-Lara melakukan percobaan bunuh diri, Ran? Kok bisa?" Rinka sangat terkejut mendengar jawaban Gibran. Ia mendadak jadi penasaran kira-kira Lara memiliki masalah apa sampai nekat melakukan hal sengeri itu. "Aku belum sempat nanyain hal itu ke Lara. Untuk saat ini, aku hanya fokus memikirkan keselamatan Lara," balas Gibran lesu. Rinka memilih duduk di sebelah Gibran. Ia mulai memerhatikan penampilan pria tersebut. Tumben-tumbenan sekali Gibran ke rumah sakit hanya mengenakan kaus lengan pendek berwarna putih. Warna kaus itu sudah tidak sepenuhnya putih semua. Melainkan bercampur dengan warna merah karena terkena darah Lara. "Bajumu kayaknya kotor, Ran. Aku ambilin baju ganti di loker kamu, ya?" tawar Rinka. Aida yang mendengar Rinka menawari Gibran baju jelas saja merasa muak. 'Dasar, bibit pelakor. Kudu bener-bener dibasmi nih.' Lagi-lagi Aida hanya sanggup membatin. "Nanti aja, Rin. Aku lagi nggak kepikiran buat ganti baju," tolak Gibran secara halus. Salah seorang perawat wanita tiba-tiba keluar dari ruang IGD. Gibran langsung menghadang perawat tersebut dan melontarkan pertanyaan bagaimana kondisi Lara saat ini "Gimana, Sus? Lara baik-baik aja, kan?" tanya Gibran cemas. "Pasien kekurangan banyak darah, Dok. Kami akan cek kesediaan darah di rumah sakit ini terlebih dahulu. Permisi." Perawat tersebut pun pamit meninggalkan Gibran. Gibran kembali duduk dan hanya sanggup bergelut dengan harapannya. Ia sangat berharap semoga saja di bank darah ada darah yang cocok dengan golongan darah kekasihnya. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN