"Siapa sih orang yang udah tega ngebunuh kedua orang tuanya Gibran? Ya ampun, bener-bener nggak punya hati nurani tuh orang!" Aida kesal bukan main ketika mendengar kabar bahwa kedua orang tua Gibran telah meninggal karena dibunuh orang.
Posisi Aida saat ini tengah berada di rumah Lara. Gadis itu sengaja menghubungi Aida untuk datang ke sini demi menemaninya. Yang Lara ceritakan pada Aida, hanya sebatas kasus pembunuhan kedua orang tua Gibran. Ia tidak mungkin menceritakan tentang pembunuh sebenarnya. Lara pun beralasan pada Aida kalau mulai sekarang ia memutuskan untuk tinggal di rumah lamanya, karena dirinya merasa takut tinggal di rumah orang tua Gibran. Padahal alasan yang sebenarnya, Lara diminta oleh Gibran untuk kembali tinggal di rumah itu demi menyakinkan pihak polisi kalau ia tidak pernah tinggal di rumah orang tua Gibran.
"Terus pas kejadian, lo ada di situ nggak? Bukannya kemarin-kemarin lo tinggal di situ, ya?" tanya Aida selidik.
"Eum, gue memang kemaren sempat tinggal di sana. Tapi waktu itu gue lagi pergi sama Gibran. Gue habis terapi dan nungguin Gibran kelar ngurusin kerjaan di rumah sakit. Pas kami pulang, tau-tau semua udah terjadi, Da." Lara tak ada pilihan lain selain berbohong dan mengarang cerita.
"Mudah-mudahan aja pembunuhnya segera ketangkep dan dihukum mati kalau perlu!" Aida mulai tersulut emosi.
Lara mendadak merasa cemas kalau kata-kata Aida ini suatu saat akan menjadi kenyataan. Ia sangat tidak rela kalau nantinya dirinya akan tertangkap dan berakhir dengan dihukum mati sesuai harapan Aida tadi.
"Eh, Ra, gue ijin ke cafe bentar, ya. Lo sendirian dulu di rumah, nggak apa-apa, kan? Nanti gue bilangin Gibran untuk datang ke sini buat nemenin lo." Aida hari ini belum sempat datang ke cafenya, karena seharian ini ia sibuk kuliah.
"Gue nggak apa-apa kok, Da, kalau harus di rumah sendirian. Udah biasa ini," balas Lara.
"Bukan masalah udah biasa atau belum biasa, Ra. Tapi sekarang kondisi lo nggak kayak dulu. Takut lo butuh sesuatu atau mau pindah ke kasur atau ke sofa, dan nggak ada orang yang bantuin, kan kasihan elonya, Ra." Aida merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya saat ini.
"Da, gue emang nggak bisa jalan sekarang, tapi bukan berarti gue nggak bisa ngapa-ngapain, ya. Gue masih bisa ngesot kok. Gue bisa pindah ke kasur sendiri." Lara bersikap sombong di depan Aida, sebenarnya ia sedang menutupi rasa nelangsanya.
"Idih, gaya lo udah kayak suster ngesot aja, Ra. Ya udah, gue cabut dulu, ya. Hati-hati di rumah. Nanti malam, gue nginep sini. Gue di cafe cuma sampai jam sepuluh doang kok," pamit Aida. Gadis yang seumuran dengan Lara itu pun bergegas keluar dari kamar Lara.
Setelah Aida berlalu, Lara menggerakkan kursi rodanya menuju meja rias yang berada di dalam kamarnya. Ia lalu meraih bingkai foto yang terletak di atas meja itu. Di bingkai itu terdapat foto dirinya beserta kedua orang tuanya.
Lara memeluk bingkai foto tersebut dengan kondisi menangis. Ia merasa sangat rindu dengan ayah dan juga bundanya.
"Bun, Yah, tolongin Lara. Lara sekarang takut banget. Lara takut dipenjara ...."
"Kamu butuh bantuan?"
Lara terpaku di tempatnya ketika mendengar suara seorang wanita. Ia menatap cermin meja rias dengan penuh rasa takut. Di cermin tersebut, terpampang jelas wajah mengerikan hantu perawat yang detik ini tengah berdiri di belakangnya. Ia tidak bisa berkutik ketika kursi rodanya tiba-tiba berputar sendiri, mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan hantu perawat itu.
Lara tidak bisa melakukan apa-apa saat tangan Ayudia bergerak menaikkan dagunya. Memaksanya untuk membalas tatapan tajam wanita mengerikan itu. Lara hanya sanggup menangis dan menangis.
"Kamu takut dipenjara? Aku akan membebaskanmu dari penjara, jika kamu mau."
Lara memundurkan kursi rodanya dan bergerak menjauh ketika Ayudia baru saja membebaskannya. Ia membaca doa-doa yang ia bisa untuk mengusir hantu tersebut. Namun, Ayudia justru menertawakannya. Hal ini membuat Lara makin panik dan ketakutan.
Ayudia tiba-tiba melayang dan langsung menyekik leher Lara. Mendorong kursi roda itu sampai menabrak dinding kamar dengan keras. Cekikan itu makin kuat dan Lara hanya sanggup menatap Ayudia dengan wajah memelas.
"Kalau kamu takut dipenjara, maka aku akan membuat Gibran yang menjadi tersangkanya. Aku akan merasukinya. Lalu aku akan membuat dia mengaku bahwa dia yang telah membunuh kedua orang tuanya. Maka setelah itu, Gibran akan dipenjara, dan kamu akan benar-benar bebas, Lara."
Lara mencoba menggelengkan kepala pertanda ia tak setuju dengan rencana Ayudia. Ia tidak ingin ujungnya Gibran-lah yang akan menggantikannya dipenjara. Pria itu tidak salah apa-apa. Maka Lara tidak rela kalau Gibran yang nanti akan menghabiskan waktu menyedihkan di balik jeruji besi sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Kamu tidak ingin kekasihmu masuk penjara, hem?" tanya Ayudia sambil menjambak rambut Lara. Gadis itu hanya sanggup meringis kesakitan.
"J-jangan." Akhirnya Lara mampu berucap setelah tadi ia tak memiliki daya dan nyali untuk mengeluarkan suaranya.
"Kalau kamu tidak ingin pacarmu dipenjara, maka turuti apa keinginanku."
"Maumu apa? Tolong jangan ganggu aku ...." Lara memohon di sela-sela isak tangisnya.
"Bunuh dirimu sendiri, Lara," bisik Ayudia.
Tangisan Lara refleks terhenti ketika Ayudia tiba-tiba saja menyuruhnya untuk bunuh diri. Tatap matanya mengikuti arah tangan Ayudia yang menuntunnya untuk menatap pisau berdarah yang entah sejak kapan tergeletak di dekat jendela. Pisau itu yang kemarin Lara gunakan untuk menghabisi nyawa Fatmawati dan Wirawan. Kali ini, Ayudia ingin Lara menghabisi nyawanya sendiri dengan pisau tersebut.
"Lakukan sekarang, atau Gibran akan aku buat hancur sehancur-hancurnya," ancam Ayudia.
***
"Lara di mana, Ran? Nggak lo ajak untuk ikut tahlilan di sini?" tanya Rasya pada Gibran.
Acara yasin tahlil di rumah orang tua Gibran baru saja selesai. Sengaja ia tidak membawa Lara ke sini. Gibran dapat merasakan pacarnya itu merasa tertekan jika memasuki rumah ini. Semua karena rasa kekhawatiran Lara yang takut jika cepat atau lambat polisi akan menemukan pembunuh aslinya.
"Lara ada di rumahnya. Kasihan dia kalau terus-terusan ada di sini. Bawaannya kepikiran terus sama kasus pembunuhan orang tua gue, Sya," jelas Gibran.
Mereka memutuskan untuk duduk di teras dan kembali melanjutkan obrolan. Baru saja duduk, Rasya tiba-tiba saja merasa kepalanya sangat pening.
"Sya, lo kenapa, Sya?!" tanya Gibran panik.
Rasya memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan. Tiba-tiba saja ia memiliki bayangan mengerikan dalam pikirannya. Ia melihat Lara tengah tergeletak tak berdaya di lantai dengan kondisi tangan bersimbah darah. Dan di depan Lara, ada Ayudia yang tengah tersenyum puas melihat Lara kesakitan.
"Hei, Sya! Lo kenapa, sih?! Jangan bikin gue panik, dong."
Ketika bayangan itu lenyap, Rasya merasa sakit kepalanya tiba-tiba hilang begitu saja. Ia berkali-kali mengucap kalimat istighfar. Bayangan tadi benar-benar terlihat seperti nyata.
"Lo baik-baik aja kan, Sya?" tanya Gibran sekali lagi.
"Ran, kita ke rumah Lara sekarang. Gue tadi dapat gambaran kalau sekarang Lara sedang dalam bahaya, Ran."
Mendengar hal itu, Gibran jelas langsung panik.
"Bahaya gimana? Bukannya Lara lagi sama Aida?" Gibran rupanya belum membaca pesan dari Aida bahwa Aida izin ke cafe dan meninggalkan Lara seorang diri di rumah.
"Lebih baik kita langsung ke sana sekarang, Ran. Gue nggak mau nebak-nebak. Perasaan gue bener-bener nggak enak," ajak Rasya.
Gibran putuskan untuk mengambil kunci mobil dulu kemudian mengunci rumahnya. Ia lalu bergegas menuju mobilnya.
"Astaghfirullahal'adzim ...! Kita bener-bener lagi dikerjain. Motor gue kenapa nggak mau nyala, sih?!" Rasya kesal bukan main karena sepeda motornya tiba-tiba mogok.
"Kita ke sananya pake mobil gue aja, Sya," ajak Gibran. Lelaki itu kemudian memasuki roda empatnya. Gibran pun mengalami kesialan seperti Rasya. Mobilnya mendadak mogok tak bisa dihidupkan.
"Gimana, Ran, punya lo mogok juga?" Rasya baru saja duduk di jok sebelah.
"Siapa sih yang berani ngerjain kita?! Astaga ...." Gibran ikut-ikutan kesal karena mobilnya juga mogok.
Rasya terdengar mengembuskan napas berat. Ia sangat yakin kalau ini pasti ulah hantu perawat itu. Lelaki itu tiba-tiba memejamkan mata dan mulai marapalkan doa. Setelah selesai, mobil Gibran akhirnya dapat dihidupkan.
"Alhamdulillah," ucap Gibran senang.
"Buruan, Ran, kita nggak punya banyak waktu," perintah Rasya.
Roda empat itu pun mulai melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Lara.
Tbc ...