"Papa, Mama, semoga kalian tenang di sana. Gibran di sini akan selalu mendoakan untuk ketenangan Mama dan Papa." Gibran baru saja menaburkan bunga di atas makam sang ayah. Sementara di depan sana ada Rasya yang ikut menaburkan bunga di atas makam Fatmawati.
Di samping Gibran, ada Lara yang senantiasa duduk di kursi roda. Gadis itu masih saja menangisi kepergian dua orang yang sangat berharga bagi hidupnya. Sebenarnya, Lara tak hanya menangisi kepergian orang tua pacarnya yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri. Ia pun menangisi nasibnya sekarang. Lara sangat takut jika pihak kepolisian mulai mencurigainya.
Semalam, para polisi datang untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian. Mereka percaya saja dengan kebohongan Gibran tentang rusaknya kamera cctv. Sehingga tidak ada rekaman apa pun saat peristiwa pembunuhan semalam. Pun Gibran juga berbohong kalau selama ini Lara tidak pernah tinggal di rumahnya. Sebelumnya ia telah membereskan barang-barang Lara dari kamarnya. Ia juga meminta Asri untuk tutup mulut soal ini. Gibran nekat melakukan semua itu semata-mata untuk melindungi Lara.
"Lo yang ikhlas, Ran. Tante Fatma sama Om Wirawan udah tenang di sisi Allah. Tugas kita di sini cukup mendoakan untuk ketenangan mereka di sana," kata Rasya menasihati.
Rasya lalu mengajak Gibran serta Lara untuk pulang. Sampai di rumah orang tua Gibran, rupanya di teras depan sudah ada Asri dan tiga petugas polisi yang telah menunggu kepulangan mereka sejak tadi.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian pulang juga. Iki bapak-bapak polisi pada nunggu kalian dari tadi. Bibi ditanyain mulu jatuhnya malah bingung sendiri." Asri merasa lega karena akhirnya Gibran, Lara, dan juga Rasya datang. Sejak tadi ia selalu ditanya ini itu oleh pihak kepolisian. Asri hanya takut dirinya keceplosan berterus terang tentang hal yang sebenarnya pada pihak polisi.
Asri kemudian menghampiri anak majikannya karena ia ingin membisikkan sesuatu.
"Mas Gibran, bapak-bapak polisi iki tadi ngotot pengen masuk, bilangnya mau menjalankan proses penyelidikan yang belum selesai. Mereka kayae menemukan sesuatu deh, Mas," bisik Asri.
Gibran merasa mulai cemas ketika Asri memberitahu kalau petugas kepolisian tersebut menemukan sesuatu. Ia hanya takut kalau mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan di rumah ini.
"Selamat pagi, Pak Gibran. Kami datang ke sini untuk menjemput Pak Gibran dan juga Bu Lara ke kantor polisi demi dimintai keterangan. Sebelumnya kami menemukan satu-satunya barang bukti di tempat kejadian. Ada jepit rambut seorang wanita yang tergeletak di dekat sofa ruang tamu. Kebetulan ada beberapa helai rambut yang tertinggal di benda ini. Kami akan segera melakukan tes DNA untuk mengetahui siapa pemilik jepit rambut tersebut. Bisa jadi jepit rambut ini milik si pelaku. Karena ini satu-satunya barang bukti yang kami temukan di tempat kejadian." Salah seorang petugas kepolisian memperlihatkan jepit rambut lidi berwarna hitam yang sudah tersimpan di dalam plastik bening. Terlihat ada beberapa helai rambut yang menyangkut di jepit rambut tersebut.
"Oh, itu jepit rambut punya pacar saya, Pak. Mungkin kemarin-kemarin sempat jatuh di ruang tamu. Soalnya pacar saya ini suka main ke sini." Gibran mencoba memengaruhi polisi agar tidak mencurigai jepit rambut itu.
"Baik, kalau begitu silakan Pak Gibran dan Ibu Lara ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan," ajak polisi tersebut.
Gibran pun menurut dengan segera mengajak Lara ke kantor polisi. Ia memilih membuntuti mobil polisi dari belakang. Dalam perjalanan, terlihat Lara begitu gelisah. Hal ini membuat Gibran merasa kasihan dengan kondisi psikis kekasihnya.
"Jangan panik begitu. Kamu harus kelihatan tenang dan rileks. Kalau kamu bertingkah panik atau pun gelisah seperti itu, yang ada polisi akan mencurigai kamu, Ra." Gibran tetap fokus menyetir sambil menasihati kekasihnya.
"Mas, ini pertama kali aku berurusan sama polisi, dan pertama kali aku berbohong sama mereka. Aku nggak tenang, Mas. Aku tertekan," keluh Lara. Jika sedang panik begini, Lara tidak bisa mengontrol emosi serta air matanya.
"Iya, aku paham sama kamu. Kamu pikir, aku sendiri juga nggak tertekan karena terus-terusan bohong ke polisi? Aku juga sama seperti kamu kali, Ra. Was-was, takut ketahuan dan ujung-ujungnya kita berdua bisa ditangkap kalau ketahuan."
Lara tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak mungkin menyerahkan diri ke polisi begitu saja, karena ia merasa tidak melakukan apa-apa. Namun, kalau terus-terusan membohongi polisi, Lara merasa tertekan dan sangat takut kalau suatu saat akan ketahuan.
***
"Bi Asri, si Gibran mana?" tanya Rinka pada asisten rumah tangga di rumah orang tua Gibran.
Rinka baru saja sampai di rumah Wirawan. Ia datang bersama sang ibu. Sejauh ini Rinka baru tahu kalau kedua orang tua Gibran telah meninggal. Itu pun ia tahunya dari Vira.
Rinka sangat kesal karena baik Gibran atau pun Rasya sama sekali tidak memberitahu berita duka ini padanya. Ia beranggapan kalau dua pria itu sudah tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi.
"Mas Gibran-nya lagi ke kantor polisi, Mba Rin. Monggo, Mba, Bu, silakan duduk dulu." Asri mempersilakan dua wanita itu untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kok bisa-bisanya sih Gibran itu nggak ngabarin aku kalau orang tuanya meninggal?! Bibi juga, nggak sekali pun kasih kabar ke aku. Padahal Bibi punya nomor aku, kan?!" Belum apa-apa Rinka sudah main omel saja.
"Kamu ini terlalu bodoh dan polos, Rin. Sudah jelas-jelas mereka ini sudah nggak menganggap kamu lagi. Ya ngapain juga sih harus mengabari kamu?" Sasmita mencoba mengompori anaknya.
Semenjak Fatmawati mempermalukan Sasmita di depan umum, wanita itu menjadi tidak respect lagi terhadap Fatmawati. Waktu Fatmawati mengadakan arisan rutinan di rumah ini, dan tiba-tiba memperkenalkan Lara sebagai calon menantu, Sasmita merasa dipermalukan habis-habisan karena yang ia tahu Gibran dan Rinka memiliki sebuah hubungan. Tapi menurut fakta yang ada, semua hanya karangan Rinka saja.
"Duh, mohon maaf banget, Mba Rinka. Bibi ora sempat menghubungi Mba Rinka, bibi benar-benar panik. Bibi juga baru tau kabar ini tadi pagi," jelas Asri.
Mereka bertiga kemudian mendengar suara mesin mobil dari luar. Rinka menduga kalau Gibran telah pulang.
"Mas Gibran. Iki ada tamu, Mas," kata Asri ketika anak majikannya itu tengah bergerak menuju ruang tamu.
Gibran pun menghampiri Rinka dan juga Sasmita. Ia mengulas senyum ramah pada Sasmita. Namun, ibunda Rinka itu menanggapi dengan memasang wajah cemberut.
"Ran." Rinka pun berdiri dan menatap Gibran dengan sebal.
"Kamu tega banget sih nggak ngabarin aku tentang berita duka ini? Kalau Vira tadi nggak ngasih tau, mungkin sampe sekarang aku nggak akan tau kalau Om sama Tante udah nggak ada." Kini giliran Gibran yang dapat omelan dari Rinka.
Sebenarnya Gibran sudah malas berhubungan lagi dengan Rinka sejak ia tahu bahwa wanita itu pernah ingin memeletnya. Ia pun juga sudah berjanji pada Lara untuk tidak berhubungan lagi dengan Rinka. Namun, Gibran merasa sungkan pada Sasmita kalau harus mengabaikan Rinka di depan Sasmita.
"Maaf, Rin. Situasi hatiku saat ini lagi kacau banget. Aku sampai nggak ingat mau menghubungi kamu. Yang aku hubungi cuma Rasya. Itu pun untuk membantu proses pemakaman Mama Papa tadi pagi," jelas Gibran.
Rinka merasa bersalah karena ia tadi sempat marah-marah pada Gibran. Padahal, harusnya ia lebih pengertian dengan kondisi Gibran sekarang.
"Aku minta maaf ya, Ran, tadi udah marah-marah ke kamu. Aku cuma kesel aja kenapa aku sampai nggak dikabarin hal sepenting ini. Aku turut berdukacita atas meninggalnya kedua orang tua kamu. Semoga mereka tenang di alam sana." Nada bicara Rinka sudah mulai lembut.
"Aamiin. Makasih banyak ya, Rin."
"Oh iya, kok kamu sendirian? Lara mana? Bukannya kata Vira, Lara tinggal di sini, ya?"
Gibran cukup terkejut ketika Rinka tahu tentang Lara yang pernah tinggal di sini. Namun, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang dan berpikir positif. Jangan sampai ia kelihatan panik. Hal itu justru akan membuat orang-orang di sekitar menjadi curiga.
"Akh, eum, Lara ... Lara ada di rumahnya. Ya kemaren dia sempat tinggal di sini. Tapi dia memilih untuk kembali ke rumahnya karena dia kangen sama rumah lamanya." Gibran kembali berbohong. Untuk saat ini memang Lara berada di rumahnya karena tak ingin pihak polisi curiga. Bukan karena semata-mata Lara rindu dengan rumah peninggalan orang tuanya tersebut.
"Oh ya? Jadi saat kedua orang tua kamu dibunuh, Lara nggak ada di sini? Atau jangan-jangan, Lara adalah dalang di balik pembunuhan itu? Bisa aja dia nyewa pembunuh bayaran untuk membunuh kedua orang tua kamu, Ran." Rinka asal menuduh saja. Ia tidak sadar kalau hal ini telah berhasil menyinggung perasaan Gibran.
"Aku tau kamu dari dulu nggak suka sama Lara, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya nuduh dia, dong. Kamu memang punya bukti?! Hati-hati kalau ngomong." Gibran mulai terpancing emosi.
"Ran, aku nggak nuduh, loh. Cuma main tebak aja. Setahuku, kedua orang tua kamu itu orang baik. Mana mungkin sih mereka punya musuh? Tapi, semenjak Lara tinggal di sini, tau-tau ada penyusup yang main membunuh kedua orang tua kamu aja. Ya wajar dong kalau aku mikirnya pembunuhan itu ada sangkut pautnya sama Lara."
"Cukup, Rin! Kamu makin ke makin keterlaluan, ya?! Aku nggak suka kalau kamu nuduh Lara terus-terusan." Gibran makin menunjukkan sikap tidak terimanya atas tuduhan yang dilontarkan oleh Rinka.
"Ya ampun, Ran. Kamu kelihatan nggak terima gitu sih kalau aku menyangkut pautkan Lara sama kasus pembunuhan kedua orang tua kamu? Biasa aja kali. Aku kan cuma nebak-nebak aja."
"Sudah, Rin. Ngapain sih kamu pakai acara ikut campur urusan keluarga ini? Sekarang mending kita pulang. Mama sudah nggak betah lama-lama di sini." Sasmita merasa cukup muak dengan pertengkaran Rinka dan juga Gibran. Ia memilih pergi meninggalkan rumah ini. Baru kemudian Rinka pun menyusul.
"Mba Rinka kalau ngomong suka ngadi-ngadi. Kalau ngomongnya pas di depan polisi, kan bisa repot urusane, Mas?" Asri merasa panik dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Rinka tadi.
Orang yang paling panik sebenarnya adalah Gibran. Namun, pria itu mencoba bersikap setenang mungkin karena ia tak ingin terlihat mencurigakan di hadapan orang-orang.
Tbc ...