"Assalamualaikum. Mama, Papa, Lara?" Gibran mengucap salam kemudian memanggil kedua orang tuanya serta pacarnya.
Ia baru saja membuka pintu rumah orang tuanya dan bergegas masuk. Langkahnya terhenti seketika di ruang tamu. Ia terlihat mematung di tempatnya. Gibran menatap tak percaya kondisi mengenaskan di ruang tamu ini.
Kedua orang tuanya tengah terkapar di lantai dengan kondisi tubuh bersimbah darah. Di dekat mereka, ada Lara yang masih duduk di kursi roda. Kondisi Lara tengah tak sadarkan diri dalam keadaan memegang sebuah pisau berdarah. Dan di sekitar mulut Lara serta baju gadis itu juga terdapat banyak darah.
Gibran bergerak menghampiri ayahnya. Sungguh, hatinya bener-bener terasa rontok. Banyak sekali luka tusukan di tubuh sang ayah. Ia lalu menyentuh leher Wirawan (mengecek nadi besar--arteri carotis) dan memeriksa pupil mata pria paruh baya tersebut. Batinnya langsung menjerit ketika tahu bahwa sang ayah telah tiada.
Tak sampai di situ, Gibran beralih menghampiri ibunya. Ia melakukan hal yang sama dengan yang tadi ia lakukan pada Wirawan. Gibran tak mampu membendung air matanya karena sang ibu juga telah pergi untuk selama-lamanya.
"Mama! Bangun, Ma! Siapa yang tega melakukan semua ini sama Mama ...?! Siapa?!"
Gibran memeluk jasad ibunya dengan erat. Ia pun menangis sejadi-jadinya.
"Jangan tinggalin Gibran, Ma ... jangan tinggalin Gibran ...!"
Gibran membiarkan dirinya menangis meraung-raung, sampai ia baru sadar akan suatu hal. Perlahan ia beralih menatap Lara yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka jauh sebelum Gibran datang? Kenapa ada pisau berdarah di tangan Lara?
"A-apa mungkin, kamu ... kamu yang telah membunuh kedua orang tuaku, Lara?"
Gibran merasa sangat hancur jika memang benar Lara-lah pelakunya.
Ia lalu meraih ponsel pada saku celana untuk meminta bantuan Rasya agar segera datang ke sini.
"Sya, cepat datang ke rumah orang tua gue. Ada tragedi pembunuhan di sini, Sya ...."
Gibran memutuskan sambungan telepon, ketika Rasya menyanggupi perintahnya. Ia lalu meletakkan jasad sang ibu di tempat semula. Perlahan Gibran bergerak menghampiri Lara. Ia memeriksa kondisi kekasihnya. Gibran menduga bahwa Lara ini hanya sebatas pingsan saja. Namun, yang jadi pertanyaan, jika memang benar Lara tadi telah membunuh Fatmawati dan juga Wirawan, kenapa gadis itu pakai acara pingsan? Apa sebenarnya motif di balik pembunuhan ini?
"Akh, kepalaku pusing ...." Lara merintih kesakitan ketika ia baru saja sadar.
Gibran memilih berdiri menjauh saat Lara mulai membuka mata. Hal pertama yang gadis itu lihat adalah keadaan mengenaskan dari kedua orang tua pacarnya. Lara mengucek-ngucek mata karena takutnya ia salah lihat.
"Mama, Papa, kalian kenapa ...?!"
Lara baru sadar kalau ada yang aneh dengan tangannya. Ia seperti tengah menggenggam sebuah pisau. Lara berteriak histeris ketika mendapati pisau dalam genggamannya penuh akan darah.
"Aaa ...! Da-darah siapa itu?!" Refleks Lara melempar sembarang pisau tersebut karena saking terkejutnya. Ia pun baru sadar kalau bajunya yang ia pakai juga penuh dengan darah. Lara mulai merasa aneh dengan mulutnya. Rasa-rasanya ada yang ingin ia muntahkan.
"Huek ... huek ...." Lara memegangi mulutnya ketika rasa ingin muntah itu semakin menjadi. Ia sudah tidak tahan lagi dan segera memuntahkan sesuatu ke dalam tangannya.
"Aaa ...!" Lara menjerit histeris ketika melihat apa yang ia muntahkan. Di tangannya terdapat seperti daging jeroan yang penuh dengan darah. Ia sangat tidak menyangka kenapa dirinya bisa memuntahkan hal seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan dengan pisau itu, Lara? Apa kamu gunakan pisau itu untuk membunuh kedua orang tuaku?!" tanya Gibran dengan nada membentak. Saat itu Lara baru sadar kalau ternyata Gibran telah ada di sini.
"Mas, a-aku nggak tau kenapa pisau itu ada di tanganku. Aku nggak ingat sama semuanya." Lara merasa putus asa ketika ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya, tapi dirinya justru sama sekali tak ingat.
"Aku datang ke sini, Mama sama Papa udah seperti ini, Ra. Dan aku melihat kamu tengah memegang pisau berdarah itu. Hal ini menyimpulkan bahwa kamu yang telah membunuh mereka, Ra."
Lara tidak menyangka kalau Gibran akan tiba-tiba saja menuduhnya sebagai seorang pembunuh. Padahal Lara sama sekali tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.
"Aku berani sumpah, Mas. Aku nggak merasa membunuh Mama Papa. Aku nggak tau apa-apa, Mas." Lara menjelaskan dengan kondisi menangis. Hatinya terasa sakit karena Gibran main menuduhnya saja.
Gibran memilih mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus menyikapi situasi ini bagaimana. Pisau itu seolah-olah bukti yang kuat bahwa Lara-lah yang telah tega membunuh kedua orang tuanya.
"Akh, aku ingat satu hal. Rumah ini memasang cctv. Aku akan coba cek dan mencari tau siapa pembunuh sebenarnya."
Lara memilih diam. Ia mencoba menguatkan hati agar tidak takut. Lara merasa ia tidak melakukan apa-apa. Jadi dirinya sangat yakin kalau di rekaman cctv tersebut, bukan dirinya yang telah membunuh Fatmawati dan juga Wirawan.
***
"Gue nggak sanggup lihat rekaman ini." Gibran memilih berdiri dan menjauh dari layar komputer yang tengah menampilkan rekaman adegan pembunuhan kedua orang tuanya.
Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas betapa kejamnya Lara mencabik-cabik tubuh Fatmawati dan juga Wirawan. Ia sangat tidak menyangka kalau Lara akan setega itu.
Rasya mengambil alih untuk duduk dan melihat dengan saksama rekaman cctv tersebut. Rasya mulai berkonsentrasi. Ia menyentuh layar komputer tersebut kemudian memejamkan mata. Dalam penglihatan batinnya, bukan Lara yang telah membunuh Fatmawati dan juga Wirawan. Yang ia lihat adalah hantu perawat itu yang telah melakukannya. Rasya menduga bahwa hantu tersebut telah merasuki raga Lara.
"Bukan Lara pelakunya, Ran, tapi hantu perawat itu."
Gibran segera menghampiri Rasya dan meminta penjelasan lebih detail.
"Lo bilang apa tadi? Hantu perawat itu yang udah membunuh kedua orang tua gue?!" tanya Gibran tak percaya.
"Ya. Gue tadi lihat pake mata batin gue, yang membunuh Tante Fatma sama Om Wirawan adalah hantu perawat itu. Dia sengaja merasuki Lara dan melancarkan aksinya untuk menghabisi nyawa kedua orang tua lo."
Gibran tak habis pikir kenapa hantu perawat tersebut sampai berbuat sekejam ini pada kedua orang tuanya. Apakah Fatmawati dan Wirawan telah melakukan kesalahan besar pada perawat tersebut? Gibran sama sekali tidak mengerti kenapa hal ini bisa sampai terjadi.
"Gue nggak tau apa salah orang tua gue ke hantu itu. Kenapa dia setega itu membunuh kedua orang tua gue, dan menjadikan Lara sebagai kambing hitam?!" Gibran tiba-tiba saja teringat dengan Lara. Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Tadi ia sempat marah dan main menuduh Lara saja. Wajar saja jika Gibran marah, karena tadi pikirnya Lara-lah pelaku utamanya.
"Untuk urusan itu, kita pikirkan nanti. Sekarang kita punya tugas untuk mengurus pemakaman kedua orang tua lo besok. Dan, kita punya tugas berat untuk melindungi Lara. Pihak polisi nggak akan percaya dengan cerita gue nantinya, Ran. Mereka pasti akan langsung menentukan Lara sebagai tersangka karena bukti udah benar-benar kuat."
Gibran merasa kepalanya nyaris pecah memikirkan masalah ini. Ia tidak mungkin menyembunyikan bukti tersebut. Namun, kalau ia membiarkan Lara dipenjara karena kasus ini, itu sama saja Gibran tega membiarkan Lara menderita seumur hidup.
"Argh ... gue bener-bener benci sama hantu perawat itu! Maunya 'dia' apa, sih?! Kenapa 'dia' berani-beraninya mengusik ketenangan hidup gue?!" Gibran merasa tertekan atas teror yang telah dilakukan oleh hantu perawat tersebut.
"Gue sama sekali nggak bisa berinteraksi sama hantu itu, Ran. Jadi gue nggak tau dengan maunya 'dia' apa." Rasya pun merasa putus asa karena tak bisa menemukan jalan keluar.
Gibran memilih keluar dari ruang kerja ayahnya, disusul dengan Rasya. Ia putuskan untuk menghampiri jasad kedua orang tuanya di lantai ruang tamu. Selagi polisi belum datang, korban tidak boleh dipindahkan atau dibersihkan dulu.
"Lo jaga di sini, Sya. Gue mau lihat Lara dulu. Takut dia berbuat yang aneh-aneh di kamar." Gibran pamit untuk menemui Lara di kamarnya.
Ketika pintu kamarnya baru saja ia buka, Gibran langsung menemukan Lara yang sejauh ini masih duduk di kursi roda. Wajah Lara terlihat basah karena ulah air mata. Sedari tadi gadis itu menghabiskan waktu hanya untuk menangis dan menangis.
"Polisi udah datang? Aku akan ditangkap malam ini?" tanya Lara dengan suara bergetar. Ia sangat takut kalau benar polisi akan memenjarakannya seumur hidup.
Gibran memilih bersimpuh di hadapan Lara. Tangannya bergerak menghapus air mata di wajah gadisnya.
"Kamu nggak bersalah, Ay. Cctv tersebut memang menampilkan bahwa kamulah pembunuhnya. Tapi, Rasya melihat dengan mata batin bahwa yang melakukannya adalah sesosok makhluk tak kasat mata. Sampai detik ini baik aku dan Rasya sama sekali nggak tau kenapa makhluk itu bisa-bisanya membunuh kedua orang tuaku."
Lara sama sekali tak paham dengan makhluk tak kasat mata yang diceritakan oleh Gibran. Ia justru curiga dengan satu makhluk yang akhir-akhir ini kerap kali menerornya.
"Makhluk tak kasat mata? Seperti apa makhluknya, Mas?" Lara meminta penjelasan yang lebih detail.
"Kata Rasya, 'dia' hantu perawat yang akhir-akhir ini sering menerorku."
Sungguh, Lara merasa hal ini benar-benar kebetulan. Ia tiba-tiba ingat kalau tadi dirinya sempat didatangi oleh hantu perawat tersebut. Dan Lara mencoba mengingat-ingat kembali ucapan terakhir hantu itu.
'Aku ingin meminjam ragamu untuk balas dendam pada orang-orang yang telah membuatku seperti ini.'
"Akh, Mas, aku baru ingat. Tadi waktu aku habis teleponan sama kamu, aku tau-tau didatangi hantu perawat itu. Dia bilang dia ingin minjem raga aku untuk balas dendam ke orang-orang yang udah buat 'dia' jadi seperti itu. Atau jangan-jangan ... aku bisa sampai membunuh Papa sama Mama karena dirasuki dia?" Tebakan Lara kali ini ditanggapi dengan anggukan mantap oleh kekasihnya.
"Aku sama Rasya juga mikirnya begitu, Ra. Tapi sampai sejauh ini, Rasya sama sekali nggak bisa komunikasi dengan 'dia'. Aku penasaran, apa yang udah Mama Papa lakuin ke hantu itu, sampai-sampai membuat 'dia' tega membunuh Mama dan Papa?" Gibran merasa putus asa memecahkan masalah ini.
"Hantu perawat itu juga yang menyebabkan aku jadi seperti ini. Aku nggak tau kenapa harus aku yang dijadikan alat untuk balas dendam? Gimana nasib aku setelah ini, Mas? Aku nggak mau dipenjara ...?" Lara mulai mengkhawatirkan nasib buruknya.
Gibran perlahan menangkup kedua pipi Lara dan mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Aku akan berusaha semampuku untuk tetap melindungi kamu. Aku akan segera hapus bukti rekaman cctv itu. Aku akan sembunyikan pisau itu, dan aku nggak akan menuntut kamu untuk dihukum."
Lara menggeleng-gelengkan kepala cepat. Kali ini ia tidak setuju dengan rencana Gibran.
"Kalau kamu berbuat seperti itu, artinya sama aja kamu mencelakakan diri kamu sendiri. Meskipun kamu nanti nggak menuntut, tapi yang namanya hukum harus ditegakkan. Aku harus tetap dipenjara karena di sini aku berperan sebagai pembunuh. Kalau kamu berusaha untuk menutupi, itu artinya sama aja kamu menjebak diri kamu sendiri. Bisa aja kan polisi menuduh kamu bahwa kamu pelakunya. Kalau sewaktu-waktu mereka menemukan barang buktinya disembunyikan sama kamu, gimana?"
"Tapi, Ra, mana mungkin aku membiarkan kamu menderita dipenjara. Itu sama aja aku berperan sebagai pengecut di hadapan kamu. Aku sama Rasya akan berusaha untuk cari jalan keluar."
Lara tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak ketika mendengar Gibran akan mati-matian membelanya. Ia hanya takut pihak kepolisian akan curiga, dan berujung dengan menyeret Gibran ke penjara karena telah berusaha melindungi pelaku.
Tbc ...