Part 13. Pisau Berdarah

1204 Kata
"Kamu buruan ke sini, ya, Mas. Aku takut di rumah sendirian. Hari ini kan Bi Asri nggak datang. Dan Mama Papa belum pulang. Kalau masih siang sih nggak masalah. Ini udah malem, dan aku takut di rumah sendirian." Lara tengah berbicara via telepon dengan Gibran. Ia merengek minta Gibran untuk segera datang ke sini karena hari sudah malam. Lara hanya tidak mau melihat penampakan lagi di rumah ini, apalagi saat dirinya sedang sendirian seperti sekarang ini. "Aku baru kelar praktik, Ay. Ini lagi siap-siap mau pulang. Tunggu sebentar, ya." "Jangan kelamaan ke sininya. Aku takut, beneran." "Iya, Sayang. Aku nggak akan lama-lama kok. Eh, sebentar, Ay, ada suster datang." Terdengar Gibran tengah melakukan pembicaraan dengan seorang perawat wanita. Lara tidak dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka. Ia masih menunggu Gibran selesai bicara. "Ay, duh, maaf banget. Aku kayaknya nggak bisa cepat-cepat ke sana. Ini aku baru dapat kabar dari suster, ada salah satu pasienku yang rawat inap di sini, dia mengalami kritis dan harus segera ditangani. Aku minta maaf banget, ya. Aku tutup teleponnya sekarang. Nanti aku minta tolong Mama untuk cepetan pulang biar bisa nemenin kamu." Lara hanya sanggup menghela napas berat ketika Gibran tiba-tiba saja memutuskan panggilan telepon. Ia hanya bisa bersabar menantikan kepulangan Fatmawati dan juga Wirawan. Ingin menghubungi ibu pacarnya itu dan meminta agar lekas pulang, Lara merasa sungkan saja. "Kamar ini kenapa hawanya jadi nggak enak banget, sih? Panas, tapi rasa-rasanya kayak dingin merinding gitu. Jangan-jangan di kamar ini memang banyak penghuninya? Hih, serem." Lara mulai menggerakkan kursi rodanya dan berniat keluar dari kamar Gibran. Namun, tiba-tiba saja pintu kamar tertutup dengan sendirinya. Membuat Lara kaget bukan main. "Astaghfirullahal'adzim ... kenapa pintunya ketutup sendiri?!" Lara mulai tengak-tengok sekelilingnya. Ia benar-benar takut kalau ada makhluk halus tengah berkeliaran di sekitarnya. "Kamu mencariku?" Deg! Detak jantung Lara seakan terhenti ketika mendengar suara seorang wanita tepat di depannya. Dengan ragu, Lara menatap lurus ke depan. Ia sangat terkejut mendapati hantu perawat itu ada di depannya. Seketika Ayudia mencengkeram kedua lengan Lara. Ia menatap gadis tersebut dengan tajam. Sesekali menyeringai karena ia cukup merasa senang melihat ketakutan yang terpancar dari wajah Lara. "Ka-kamu ...?" Lara ingin sekali berlari, menyelamatkan diri, tetapi tubuh benar-benar seperti terkunci. Tak mampu digerakkan sedikit pun. Di hadapannya berdiri sesosok makhluk yang akhir-akhir ini sering datang meneror dirinya. Lara tidak tahu kenapa hantu perawat itu mengincar dirinya. Ingin sekali menanyakan hal itu, tetapi Lara tidak memiliki nyali yang kuat untuk bertanya. Wanita berpakaian serba putih itu mendekatkan wajahnya. Memaksa Lara untuk bertatap muka dengannya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan sebelum ia benar-benar menjalankan misinya malam ini. "Aku ingin meminjam ragamu untuk balas dendam pada orang-orang yang telah membuatku seperti ini." Begitulah katanya. Lara tidak paham dengan maksud dari ucapan hantu perawat itu apa. Ia tidak bisa berkutik ketika wanita itu mulai menyentuh salah satu pipinya. Pelan tapi pasti, Lara mulai merasakan pusing dan pandangannya menjadi gelap. *** "Jadi Lara dari tadi di rumah sendirian, Ma? Kasihan bener. Kesepian pasti dianya." Wirawan membuntuti langkah istrinya menuju teras rumah. Mereka baru saja pulang dari bekerja. "Ya mau gimana lagi. Aku punya kerjaan di butik. Bi Asri libur. Gibran ke rumah sakit. Ya mau nggak mau Lara di rumah sendiri, Mas." Fatmawati membuka pintu rumahnya dan bergegas masuk. "Assalamualaikum, Sayang. Hei, rupanya kamu di sini. Lagi nungguin Mama Papa pulang, ya?" Fatmawati langsung mendapati Lara ada di ruang tamu. Gadis itu tengah duduk di kursi roda sambil menunduk. "Mama salam kok nggak dijawab sih, Cah Ayu? Kamu kenapa? Ngambek ya sama kita karena pulangnya telat?" Wirawan memilih menghampiri Lara. Ia merasa aneh karena Lara masih saja menunduk dan tidak berbicara sama sekali. "Ra, kamu kenapa, sih? Kamu sakit?" tanya Wirawan cemas. Gadis yang mengenakan kaos bergambar Micky Mouse berwarna hitam itu itu seketika mendongakkan kepala. Matanya merah menyala mendelik tajam ke arah Wirawan. Surai hitam yang biasanya tertata rapi, kini tampak berantakan. Awut-awutan. Mulut Lara pun terlihat bergerak-gerak. "Ya ampun ..., Lara! Kamu makan apa, Nak?!" tanya Wirawan panik. Wirawan bergerak mundur karena menahan mual. Lara seperti tengah mengunyah sesuatu. Terdapat lelehan darah dari mulutnya, dan ceceran daging berjatuhan dari mulut gadis itu. "Lara kenapa sih, Mas?" Fatmawati memilih menghampiri mereka dan ia juga melihat keanehan pada diri Lara. "Ya ampun, Ra ... itu apa yang kamu makan? Mama jijik deh lihatnya." Fatmawati menutupi mulut serta hidupnya ketika melihat apa yang tengah Lara makan. Gadis itu tiba-tiba menggeram, lalu menyerang Fatmawati dan juga Wirawan dengan gerakan cepat. Lara menyekik Fatmawati dan Wirawan dengan kedua tangannya. "Akh ...! La-Lara ...!" Fatma memekik kesakitan. "Uhuk ... uhuk ... Lara, tolong lepaskan Papa, Ra ...!" Wirawan memohon di sela-sela rasa sakitnya. "Aku akan membunuh kalian malam ini juga!" ucap Lara lantang. Lara mengempaskan tubuh Wirawan sehingga membuat tubuh pria itu terempas ke lantai. Ia fokus untuk menghabisi nyawa Fatmawati terlebih dahulu. Segera gadis itu meraih pisau tajam yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. "Lara, jangan lakukan itu, Nak!" Wirawan berniat mencegah. Ia berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan sang istri. Namun, justru Wirawan dulu yang menjadi sasaran amukan Lara. Pisau itu baru saja menusuk perutnya. Sambil memegangi perutnya yang telah terluka itu, Wirawan menatap Lara tak terbaca. "Mas ...!" Fatmawati hanya mampu menjerit mendapati suaminya baru saja terduduk dengan kondisi memegangi perut sambil menahan rasa sakit yang luar biasa sakitnya. "Ini baru permulaan. Setelah ini, aku akan mencabik-cabik kalian sampai kalian mati!" Lara segera melayangkan pisau itu ke arah Fatmawati. "J-jangan, Lara, jangan ...!" *** "Ditelepon berkali-kali nggak diangkat. Dia ngambek atau lagi nggak sempat? Astaga ..., Ra. Bikin aku khawatir aja." Sepanjang jalan menuju parkiran, Gibran tak henti-henti menghubungi Lara. Ia hanya khawatir gadis itu masih sendirian di rumah. Gibran lalu menghubungi nomor ponsel ibu dan juga ayahnya. Namun, sama seperti Lara, tidak ada yang mengangkat panggilannya sekali pun. "Bener-bener, deh. Kenapa bisa kompakan begini? Nggak ada yang ngangkat satu pun. Ini pada janjian atau gimana?" Daripada tambah kesal, Gibran putuskan untuk segera pulang ke rumah. Sampai di parkiran, ia segera menuju ke mobilnya. Pria itu menyurukkan badan di depan kemudi. Perjalanan menuju rumah orang tuanya, Gibran lakukan dengan terburu-buru. Pikirannya sudah ke mana-mana karena orang-orang rumah tidak ada yang bisa dihubungi. Saat tengah fokus menyetir, pria itu tak sengaja melirik kaca spion depan. Ia tiba-tiba mengerem mendadak, karena mendapati ada seseorang yang tengah duduk di jok belakang. Gibran mengatur napas. Memberanikan diri menoleh ke belakang, tetapi nihil. Sama sekali tak ada siapa pun di sana. Aneh. Dokter spesialis anak itu mengernyitkan dahi, bingung. Jelas-jelas ia melihat ada seseorang dengan baju serba putih tengah duduk di jok belakang. Tapi sekarang seseorang itu mendadak hilang. "Tunggu. Bajunya itu kayak baju perawat, ya?" Gibran kembali mengingat seseorang yang tadi ia lihat di jok belakang, bajunya itu seperti baju seorang perawat. Karena tak mau pusing memikirkan masalah ini, Gibran kembali melajukan mobil, membelah jalanan. Saat itu juga ia terkejut dengan sesuatu yang berada di atas jok sebelahnya. "Apaan, nih?" Jok sebelah tersebut kini penuh akan darah. Dan ada sebuah pisau tergeletak di atasnya. Pisau itu juga penuh dengan darah. Entah sejak kapan benda itu ada di sana, Gibran merasa perasaannya makin tidak enak, dan ingin segera sampai rumah. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN