DUA PULUH ENAM

517 Kata

"Fara sudah berani melawan Papa." Ucap sang ayah suatu hari saat meneleponnya sambil menangis tersedu. Lelaki tua itu amat sangat terluka. Tidak pernah seumur hidupnya, ia melihat ayahnya menangis. Bahkan ketika Bundanya pergi, ayahnya masih mampu menahan dukanya. Saat anak gadisnya berani melawan perintahnya, ia amat sangat hancur. Anak perempuan satu-satunya yang amat ia banggakan, yang sebelumnya tidak pernah membantah, tempat ia pulang melepas lelah, tempat ia bercerita setelah istrinya tiada, menyakiti hatinya hanya karena tidak diizinkan menikah. Bukan, bukan karena ayahnya bersikukuh melarang Fara menikah di usia muda. Tetapi firasat ayahnya mengatakan, Andra bukan lelaki yang tepat bagi gadis kesayangannya. Ia sudah berusaha menyampaikan keberatan, tetapi si anak mengabaikan kat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN