Fara menatap amplop berlogo pengadilan agama di tangannya dengan gamang. Kisah mereka akan berakhir. Kandas. Ia sudah ikhlas. Sudah pasrah. Jika memang begini takdirnya, ya, sudahlah. Tidak lama lagi status seorang istri akan ia tanggalkan. Tidak lama lagi masa depan sendirian akan ia jalankan. Mungkin, memang sudah saatnya melepas bara yang telah lama ia genggam. Di satu sisi, cinta itu masih bertahta di singgasananya. Bersanding dengan rasa benci yang ikut menyeruak dengan hebatnya. Dadanya sesak melepaskan lara. Fara sempat berpikir, apakah ia telah jatuh cinta pada orang yang salah sebagai pengganti rasa frustasi atas cinta pertama yang membuatnya mengalah. Cinta pertama yang tersamarkan hadirnya oleh kehadiran Andra. Fara meraba-raba perasaannya sendiri. Yang pasti, garis hidup su

