Brum....
Griz buru-buru keluar saat mendengar suara mobil masuk ke halaman. Dia berdiri di depan pintu, menatap Arvin yang sedang memasukkan mobil ke garasi. Dia baru mendekat setelah melihat mobil itu sepenuhnya terparkir.
Arvin tersenyum melihat Griz berdiri di depan mobilnya. Dia bergegas turun dan memperhatikan ekspresi wanita itu. "Selamat."
"Lo udah tahu?" Griz mendengus. "Harusnya lo bocorin ke gue!"
"Nggak akan!" Arvin melewati Griz begitu saja. Tidak disangka, wanita itu langsung berjalan di sampingnya. Bahkan langsung melingkarkan tangan ke lengannya.
"Jadi, besok gue udah mulai kerja? Apa yang harus gue lakuin sebagai persiapan?"
"Mental."
"Gue anaknya tahan baja." Griz melepas rangkulannya lalu duduk di sofa ruang tamu. "Gue harus pelajari apa?"
Arvin seketika berbalik. "Lo lamar bagian manajemen, kan? Nanti ada yang bimbing lo."
Griz mengacungkan jempol. "Jam kerja di tempat lo?"
"Sebelum ngelamar lo nggak tahu apapun?" Arvin geleng-geleng. Dia duduk di sofa single dan memperhatikan wajah Griz. "Lo belum sepenuhnya diterima."
"Tapi di email gue diterima." Griz menatap Arvin tajam. "Bentar!" Kemudian dia mengambil ponsel.
"Mana?"
"Nih!" Griz menunjukkan email dari kantor Arvin.
"Baca bagian akhir."
Griz seketika membaca bagian akhir. "Jadi, selama sebulan status gue belum karyawan tetap?"
"Yaps...."
Wajah Griz terlihat sedikit sendu, padahal dia sudah berharap lebih. "Kalau performa gue nggak bagus?"
"Ya lo nggak lolos." Arvin menjawab dengan senyum segaris. "Nyerah?"
"Enak aja!"
Arvin tersenyum samar melihat Griz yang kembali terlihat bersemangat
***
Semalaman Ravin tidak pulang. Dia sengaja tidur di ruangannya demi menghindari Griz. Beruntung, di ruangannya selalu tersedia beberapa pakaian ganti untuk sesuatu yang mendesak.
Sekarang, Ravin sudah terlihat segar dengan rambut yang setengah basah. Dia mengawali pagi seperti biasanya, membuat kopi meski hari ini tanpa sarapan.
Usai membuat kopi, Ravin kembali ke ruangannya. Dia membuka gorden yang semalam sengaja dia tutup karena silau dengan lampu yang memantul dari luar. Dia lalu tersenyum samar, melihat langit yang terlihat cerah.
Ravin menyeruput kopi dan rasa pahit itu langsung menjalar ke lidahnya. Dia selalu suka rasa pahit, membuatnya sadar jika semanis-semanisnya hidup rasa pahit itu pasti akan hadir. Karena itu Ravin tidak ingin terbuai.
"Pak Ravin. Maaf...."
Perhatian Ravin teralih. Dia melihat seorang OB dan seorang satpam berjalan masuk. Memang saat ada yang membersihkan ruangan Ravin harus didampingi oleh seseorang dari bagian keamanan.
Lelaki yang tidak terlalu tinggi itu mulai membersihkan ruangan Ravin. Sedangkan Pak Satpam berdiri sambil memperhatikan. Di ruangan bosnya penuh dengan dokumen penting, karena itu tidak sembarangan orang bisa masuk.
Ravin menatap ke jendela sementara ada yang membersihkan ruangannya.
"Kemarin wanita itu datang lagi, Pak!"
"Wanita?" Ravin menatap pria tinggi itu.
"Benar, Pak. Kata rekan saya beliau menitipkan makanan untuk Bapak."
Ravin mengernyit. "Makanan?"
"Iya, Pak," jawab Pak Satpam itu. "Dia tidak lagi berbuat onar seperti waktu itu."
"Emm...." Ravin mengangguk pelan. Namun, anehnya kemarin dia tidak mendapat makanan yang dimaksud. Apa Azkia?
Ravin menjauh dari jendela dan duduk di meja kerjanya. Dia mengambil ponsel dan mengakses CCTV. Dia mengernyit melihat ruangan di apartemen tampak sepi seperti biasa. "Apa dia pergi?"
Jika Griz sudah pergi, sia-sia Ravin semalam tidak pulang. Dia si pemilik apartemen, tapi dia sendiri yang susah karena menghindari Griz.
"Permisi, Pak...."
Perhatian Ravin teralih. Dia melihat dua orang itu berjalan menjauh. "Kalau wanita itu datang ke mari biarkan saja!" teriaknya yang langsung diangguki oleh Pak Satpam.
Ravin merasa cukup keterlaluan. Dia sudah memarahi Griz tapi wanita itu justru datang sambil mengirimkan makanan. "Nolak Griz nggak bisa pakai cara menghindar."
***
Pagi hari, Griz sibuk menyiapkan diri untuk bekerja. Dia mencari pakaian yang tidak terlalu formal tapi tetap rapi. Dia bersyukur pernah datang ke kantor Arvin. Dia bisa menyesuaikan gaya berpakaiannya.
Griz mengeluarkan rok maxi berwarna hijau lumut. Setelah itu mengambil turttle neck berwarna hitam berlengan panjang. Setelah itu Griz membuka kotak aksesoris dan memakai kalung berbandul awan.
Beberapa saat kemudian, Griz terlihat rapi dengan rambut tergerai. Dia menatap pantulan dirinya di cermin lalu fokusnya tertuju ke kakinya yang belum mengenakan sepatu. Griz mendekati pintu kamar dan melihat beberapa sepatu yang sempat dia bawa.
"Griz!"
Griz buru-buru memakai sepatunya dan mengambil tas slempang. Setelah itu dia membuka pintu. "Gimana?"
Arvin refleks memperhatikan. Wanita itu terlihat semakin tinggi dengan sepatu angkle boat berwarna hitam. Griz terlihat formal tapi tidak terlalu kaku. Memang, wanita itu sangat pintar memadupadankan pakaian.
"Gimana?" tanya Griz tidak sabaran.
"Eh...." Arvin menggaruk belakang kepala. "Yah, lumayan nggak terlalu formal."
Griz mengangkat kedua jempol. "Untung gue pernah main ke kantor lo, jadi gue tahu cocoknya pakai pakaian apa."
"Kalian mau berangkat?"
Perhatian Arvin dan Griz tertuju ke Artari. Wanita yang mengenakan daster itu mendekat sambil menyerahkan dua kantong makanan. "Kata Arvin udah telat, jadi mama bawain bekal."
Griz menerima kantung makanan itu dengan senyuman. Ini pertama kalinya dia bekerja sambil membawa bekal. "Makasih, Tante."
Artari tersenyum sambil menatap Griz yang selalu terlihat cantik. Pandangannya kemudian tertuju ke Arvin. "Bimbing Griz. Jangan langsung dimarah-marahin."
"Iya...." Arvin mencium tangan mamanya kemudian melambaikan tangan. "Ayo, Griz!"
Sesampainya di mobil Griz melirik Arvin yang mengenakan kemeja berlengan pendek berwarna hitam. Dia lalu menatap depan sambil menahan tawa. "Lo kalau di kantor suka marah-marah?"
"Kalau ada yang nggak nurutin perintah, ya gue marah."
Griz manggut-manggut. "Tapi nggak baik marah-marah." Dia tersenyum, geli sendiri karena sok menasihati.
"Marah itu wajar, Griz. Lagian gue nggak sembarangan marah."
"Emm...." Griz mencoba percaya saja. "Kalau ke pacar lo, suka marah-marah juga?"
Tubuh Arvin seketika menegang. Dia menggaruk belakang kepala kemudian melirik Griz. "Apaan, sih!"
"Ah lupa! Kan lo belum punya pacar!" Griz ingat ucapan Artarti yang memintanya mencarikan jodoh untuk Arvin. "Mau gue bantu cari jodoh?"
Arvin menggeleng tegas. "Eh! Lo harusnya sopan ke gue."
"Mengalihkan pembicaraan?" Griz menatap Arvin dengan senyum menggoda.
"Gue calon bos lo, ya! Kita udah keluar rumah dan status kita udah beda!" Arvin sengaja mengucapkan itu agar Griz berhenti menggodanya. Dia merasa tubuhnya mendadak panas dan tiba-tiba saja napasnya memburu.
"Oke Pak Arvin."
Arvin melirik Griz sekilas sambil tersenyum samar. Entah kenapa panggilan Pak Arvin terdengar spesial. Ah! Kayaknya gue mulai gila.