9-Insiden Kecil

1157 Kata
Pagi ini, Ravin sengaja datang terlambat. Alasannya, jelas dia menghindari Griz. Dia tidak ingin wanita itu tiba-tiba datang dan membuat kekacauan. Bersyukur semalam dia bisa menghindar. Ravin turun dari mobil kemudian mengedarkan pandang. Dia tidak melihat ada tanda-tanda mencurigakan. Kemudian dia melangkah cepat menuju lift. Drtt.... Ponsel Ravin tiba-tiba bergetar. Dia merogoh saku jas dan melihat ada nomor asing. "Halo...." "Good morning." Refleks Ravin menjauhkan ponsel. Dia menyesal telah mengangkat panggilan dari orang tidak penting. "Ada perlu apa?" "Sarapan bareng?" ajak Griz. "Saya on the way ke kantor." Rahang Ravin mengeras. "Jangan datang," ujarnya. "Saya kasih tahu semua orang kantor, biar melarang Anda datang." "Setega itu?" Suara Griz terdengar sedih. "Anda tahu saya bisa melakukan segala cara?" Kali ini suara Griz terdengar serius. Ravin mengusap kening. Dia memiliki dosa apa bisa bertemu dan dihantui Griz? "Terserah apa yang Anda mau." Setelah mengucapkan itu Ravin memutuskan sambungan. Tring.... Pintu lift terbuka. Ravin keluar dari lift dengan wajah suntuk, berbeda sekali dengan sebelum-sebelumnya yang terlihat fresh saat datang ke kantor. Dia membuka pintu ruangannkemudian duduk di sofa panjang. Drttt.... Refleks Ravin mengangkat tangan kirinya yang masih memegang ponsel. Dia melihat ada pesan masuk dari nomor yang barusan menghubunginya. 081222xxxxxx: Saya bisa panggil wartawan dan mengaku kita sudah berpacaran. Menarik, kan? Kedua tangan Ravin terkepal. Dia paling anti jika ada yang memberitakan tentang hubungan asmaranya. Selama ini dia selalu menolak untuk wawancara sebuah majalah life style, karena dia tahu pasti akan membahas kehidupan asmara. Drttt.... Ravin melihat ada pesan masuk lagi. 081222xxxxxx: Ke restoranmu kalau nggak mau ada yang tahu. Ravin meletakkan ponsel di samping tubuh. "Wanita gila!" *** Griz membelokkan mobil ke arah sebelumnya. Dia mengurungkan niat untuk ke kantor Ravin dan memilih menunggu di restoran. Dia tidak bisa menebak Ravin, tapi dia tetap percaya diri lelaki itu akan menemuinya. Membujuk seorang Ravin sangat berbeda saat membujuk beberapa pria. Ravin lebih antipati kepadanya, seperti sok tidak mengagumi. Padahal Griz merasa Ravin pastilah mengaguminya. Ayolah, siapa yang tidak mengagumi ratu dari dunia modern? Ciittt.... Mobil sport berhenti di depan restoran yang belum buka. Griz turun dari mobil kemudian melepas kacamata cokelatnya. Dia mengedarkan pandang, melihat beberapa karywan yang baru datang buru-buru berlari. Griz seketika mengikuti ke arah kepergian karyawan itu. "Bos kalian akan datang!" Griz masuk pintu belakang, membuat beberapa pegawai tersentak kaget. Griz memasangkan kacamatanya di atas kepala kemudian melihat pantry yang masih berantakan. "Buatkan saya sarapan spesial," ujarnya kemudian keluar dari pantry. Dia masuk ke area restoran dan melihat beberapa pekerja yang kaget melihat kehadirannya. "Bos kalian akan datang!" ujar Griz sambil memilih duduk di tengah ruangan. "Cepat bersihkan sebelum kalian kena omel." Sambil menunggu, Griz mengambil ponsel. Dia geleng-geleng karena pesannya tidak dibalas oleh Ravin. Namun, dia tetap yakin Ravin sudah membaca pesannya. "Dia harus dibuat percaya." Griz membuka kamera kemudian mengirim video singkat. Setelah itu mengirimkannya. Griz menyangga dagu sambil menahan tawa. Baru kali ini dia sangat nekat saat mendekati lelaki. Biasanya dia main tarik ulur. Jika ada lelaki yang menarik perhatiannya, dia bersikap sok tidak peduli. Kemudian saat lelaki itu semakin dekat, barulah Griz membuka diri. Saat dia sudah bosan, dia akan memutuskan lebih dulu. Selama ini, dirinyalah yang selalu memutuskan hubungan lebih dulu. Brak.... Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dengan kencang. Tubuh Griz berjingkat. Wajahnya memerah hendak memarahi si pelaku. Sayangnya, raut sebal itu mendadak hilang saat melihat lelaki berjas hitam melangkah ke arahnya. Griz seketika berdiri sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Dari pintu depan, Ravin melangkah mendekati Griz. Wanita itu terlihat tersenyum puas, tapi menurut Ravin wajahnya terlihat memuakkan. Ravin merasa, Griz sudah bertindak terlalu jauh. "Anda harus dihentikan," ujarnya setelah berdiri di depan Griz. "Saya yakin Anda pasti datang." Griz mengulurkan tangan ke Ravin. Ravin mendorong tangan itu kemudian membuang muka. "Apa yang Anda mau?" "Kamu." Griz mendekati Ravin lalu menarik dasi lelaki itu. Matanya menatap mata elang di depannya. "Saya tekankan lagi. Saya mau kamu!" Ravin melirik dasinya yang ditarik Griz. Kemudian pandangannya tertuju ke ekspresi Griz yang tampak puas. Ravin seketika menarik pinggang Griz hingga wanita itu semakin dekat kemudian menunduk. "Nggak malu ngejar-ngejar seorang lelaki?" Rahang Griz seketika mengeras. Dia hendak mendorong tapi lelaki itu menarik pinggangnya lagi. "Lepas." "Katanya, Anda mau saya!" ujar Ravin penuh penekanan. "Sekarang kenapa mau lepas?" Griz memejamkan mata sejenak. Dia tidak boleh kalah di depan Ravin, apalagi jika lelaki itu membalikkan keadaan. Griz langsung menarik kepala Ravin dan menangkup pipi lelaki itu. "Jadi nggak masalah dilihat karyawan?" Dia menoleh ke belakang, melihat beberapa karyawan yang langsung bersembunyi. Ravin tersenyum samar. Dia menarik pinggang Griz semakin dekat. Akibatnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Griz. "Saya bukan tipe orang yang gampang peduli," jawabnya sambil memiringkan kepala. Mata Griz refleks terpejam. Dia merasakan bibir Ravin di atas bibirnya, tapi terasa masih ada jarak beberapa inci. Dia yakin, Ravin sengaja melakukan itu. Griz lalu menarik kepala Ravin, hingga bibir lelaki itu menyentuh bibirnya. Satu tangan Ravin terkepal. Griz sangat nekat, bahkan di luar dari ekspetasinya. Ravin seketika menyentak Griz kemudian mundur dua langkah. Griz mengusap sudut bibirnya lalu melipat kedua tangan di depan d**a. "Saya nggak masalah nyium lelaki duluan." Ravin membuang muka sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Setelah itu menatap Griz tajam. "Apa maumu?" "Berkali-kali saya katakan, saya mau kamu!" jawab Griz dengan suara keras. "Kurang jelas? Saya mau kamu!" Teriakan Griz sampai terdengar di pantry. Beberapa karyawan kaget dengan teriakan itu. Mereka mulai diserang rasa takut jika nanti Griz sering ke restoran dan berbuat semena-mena. Ravin geleng-geleng. "Harga diri Anda di mana?" tanyanya. "Saya nggak suka." "Yang penting saya mau kamu." Griz terlihat sangat keras kepala. Sudut bibir Ravin tertarik ke atas. "Jadi ini Grizelle yang sering didambakan para lelaki? Ternyata dia memohon-mohon ke saya. Padahal sudah saya tolak," ujarnya dengan senyum puas. Dia merogoh saku kemudian menunjukkan ponsel. "Gimana?" Bola mata Griz membulat. Dia tidak menyangka jika Ravin merekam percakapannya. "Sini!" Dia mendekat hendak merebut ponsel itu. Ravin menangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Lelaki di luar sana pasti tahu seorang Griz yang katanya tidak pernah memohon, sekarang mohon-mohon ke saya." "Sial!" Griz menghentakkan kaki. "Apa mau lo?" Dia kehabisan kesabaran. Kali ini Ravin berhasil membalikkan keadaan. Dia memasukkan ponsel di saku kemudian memajukan tubuh. "Berhenti ganggu saya." Rahang Griz mengeras. Dia masih menginginkan Ravin, tapi lelaki itu pasti akan menyebarkan rekaman itu. Bisa-bisa semua orang akan menjelek-jelekannya. "Keberatan?" tanya Ravin kala Griz hanya terdiam. Griz menggaruk pelipis. Dia menarik kacamatanya kemudian berbalik. "Oke! Saya bisa pakai cara lain." Ravin geleng-geleng melihat Griz yang langsung pergi itu. "Jangan biarkan wanita itu masuk seenaknya! Dia bukan siapa-siapa saya." Griz semakin marah mendengar teriakan itu. Terlebih saat melewati beberapa karyawan yang seperti mengejeknya. Griz menghentikan langkah kemudian mengambil ponsel. Dia merekam orang-orang yang ada di hadapannya. "Jangan macem-macem!" ancamnya sambil menunjuk karyawan Ravin. Setelah itu dia melangkah keluar. "Huh...." Ravin terlihat lega karena berhasil menyingkirkan Griz. "Jangan ada yang bocorkan kejadian ini! Paham?" "Baik, Pak." Ravin berbalik dan berjalan menjauh. Karena ulah Griz, dia harus membuang waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN