Sebulan sudah orangtua Griz menghilang. Kenyataan bahwa orangtuanya sampai detik ini tidak menanyakan kabarnya dan tidak memberi tahu di mana mereka tinggal membuatnya sangat kecewa.
"Sial!" Griz menendang udara.
Griz mempercepat langkah menuju halte kemudian duduk di sana. Dia menatap depan dengan pandangan menerawang. "Emang mereka nggak pernah anggap gue ada!"
"Tuh, cewek ngapain, sih?"
Samar-samar Griz mendengar ada yang membicarakannya. Refleks dia menoleh ke sumber suara dan melihat dua wanita yang berjalan menjauh sambil sesekali menoleh ke arahnya.
"Dari awal emang gue nggak di anggap." Griz seketika berdiri dan melanjutkan langkah dengan lesu.
Tin... Tin....
Perhatian Griz seketika teralih. Dia melihat sebuah taksi berhenti di sampingnya. Tanpa pikir panjang, Griz segera masuk.
"Tujuannya ke mana, Neng?"
"Lurus aja dulu, nanti saya kasih tahu." Griz menyandarkan kepala lalu matanya terpejam.
Beberapa saat kemudian, taksi itu berhenti di depan apartemen Ravin. Griz tidak punya tujuan lain selain ke apartemen lelaki itu. Entah, datang ke Ravin akan membuat mood-nya semakin baik atau justru sebaliknya.
Bip....
Griz berjalan masuk setelah menekan angka kombinasi yang sudah dia hafal. Dia menuju sofa ruang tengah kemudian berbaring di sana. Tangannya bergerak mencari bantal sofa lalu meletakkannya di atas wajah.
Ravin keluar dari kamar saat mendengar ada yang masuk. Dia terkejut, melihat seorang wanita bercelana pendek berbaring di sofa. Napas wanita itu terdengar berat, bahkan tangannya bergerak seolah memukul sesuatu.
Ravin mendekat lalu mengambil bantal sofa dari wajah Griz. Dia mengernyit melihat sudut mata Griz berair. Seketika dia meletakkan bantal sofa itu kembali. "Lanjutin."
Bibir Griz mengerucut. Dia menyibak bantal sofa itu dan menatap Ravin yang berjalan menuju ruang kerja. "Hibur, kek! Malah disuruh ngelanjutin."
"Gue sibuk."
"Ish!" Griz kembali berbaring dan menutup wajah dengan batal sofa lagi.
Ternyata, Ravin benar-benar membiarkan Griz menangis. Dia memilih menyibukkan diri di ruang kerja. Dia tidak pandai menghibur orang karena itu dia tidak mau melakukan itu. Percaya atau tidak, sebenarnya seseorang dibekali cara untuk menghibur diri sendiri.
"Aaaaa!"
Tubuh Ravin berjingkat mendengar teriakan itu. Dia mengusap sisi kepala kemudian berkonsentrasi dengan bacaan di depannya.
"Aaaaa!" Griz berteriak lebih kencang. Padahal, wajahnya masih tertutup dengan bantal sofa. Dia sedang berusaha mengeluarkan perasaan aneh yang menganjal hatinya.
Griz menyibak bantal sofa kemudian terduduk bersila. Kedua tangannya dia posisikan di atas paha lalu matanya terpejam. Griz menarik napas dalam-dalam. "Aaaaaa!"
"Ah, sial!" Ravin tersentak mendengar teriakan barusan. Dia menutup buku yang dia baca kemudian beranjak. Dia heran, mengapa Griz berteriak-teriak di dalam apartemen.
Ravin membuka pintu dan melihat Griz duduk bersila. Gaya Griz seperti orang yang melakukan yoga, tapi wanita itu justru berteriak. Mata Ravin melebar, melihat Griz yang menggerakkan kedua tangan ke atas. Dia yakin wanita itu pasti akan berteriak.
"Aaaaaa!"
Tebakan Ravin terbukti. Griz berteriak lebih kencang lagi. Dia merasa tenggorokannya mulai kering. Namun, sesuatu yang mengganjal hatinya perlahan hilang. Griz menggerakkan kedua tangan ke bawah dan kembali di atas paha.
Ravin tidak bisa melihat Griz bertingkah aneh dan terus berteriak seperti itu. Dia seketika mendekat dan menarik Griz begitu saja. "Ayo!"
Duk....
Griz jatuh terduduk karena tarikan yang tiba-tiba itu. Dia mengangkat wajah dan melihat Ravin yang terlihat marah. "Jangan marah di saat kayak gini."
"Ikut gue!" Ravin menarik tangan Griz agar wanita itu berdiri.
Sayangnya, Griz tetap mempertahakan posisinya. Dia menggeleng kemudian berbaring miring. Rasanya dia enggan melakukan apapun, kecuali berteriak. "Aaaaa!"
Ravin mengembuskan napas kasar. Dia berjongkok lalu membekap mulut Griz. "Jangan bikin onar."
Griz menatap Ravin dengan mata berkaca-kaca. Dia menarik tangan Ravin dari bibir lalu mendorongnya. "Gue nggak bikin onar. Gue lagi ngeluarin unek-unek."
"Tapi nggak teriak-teriak juga, kan?"
"Pengennya cuma teriak."
"Kalau pengen teriak jangan di sini." Ravin memegang pundak Griz dan setengah memaksa agar wanita itu berdiri.
Griz menurut dengan langkah berat. Dia sepenuhnya menumpukan berat badannya ke Ravin. Lelaki itu yang memaksa. Jadi lelaki itu pula yang harus berusaha.
Ravin menggerutu karena Griz hampir kehilangan keseimbangan dan dia harus memegangi wanita itu. "Pakai sepatu lo."
"Nggak mau!" jawab Griz sambil menendang sepatu di depannya.
"Ya udah terserah!" Ravin memakai sandal lalu menarik Griz keluar. Dia berjalan menuju lift dan menekan tombol teratas.
Griz masih tidak tahu Ravin akan membawanya ke mana. Dia hanya bersandar di lengan Ravin dengan pandangan menerawang. Biasanya, dia akan memanfaatkan kedekatan itu dengan memeluk. Namun, kedua tangannya sekarang hanya berada di samping tubuh.
Pintu lift terbuka di lantai tujuan Ravin. Dia berjalan sambil merangkul Griz. Ah, sebenarnya tidak hanya merangkul karena dia harus menyeret. Griz seperti boneka hidup.