Amanda merenung di depan rumah sambil memandangi pohon rambutan. Dia teringat jelas jika putrinya yang dulu sewaktu berumur dua tahun sangat menyukai buah rambutan. Dan kini pohon itu sedang berbuah lebat dan sudah hampir masak. Setiap panen, Amanda tidak sanggup untuk memakan buah tersebut. Sehingga ketika sudah masak Amanda membiarkan anak-anak para tetangga untuk memetiknya sampai habis tidak tersisa. "Kamu kenapa melamun di sini sendirian?" tanya Irsyad cemas. "Aku..." Amanda tidak sanggup berkata - kata, perasaan rindu yang menyiksa membuat dadanya sesak. Bagaimana bisa seorang ibu terpisah dari anaknya. Membayangkan bagaimana putrinya menjalani kehidupan di luar sudah membuatnya sangat menderita. Irsyad tahu, apa yang dirasakan sang istri. Mau membujuk juga sudah kehabisan kata

