Sudah jarang sekali Irsyad tidak pulang ke rumah orang tua angkatnya. Kira-kira semenjak dia menikah.
Waktu itu dia sendiri tidak tahu kalau akan dijodohkan dengan wanita bernama Dinda. Karena tiba-tiba saja acara dilangsungkan dan dia yang belum tahu apa-apa disuruh berganti pakaian kemudian melakukan ijab kabul.
"Selama bertahun-tahun kami merahasiakan ini, tapi kini kamu sudah dewasa dan saatnya bagi kamu untuk tahu identitas kamu yang sebenarnya. Kamu bukan anak kandung kami, melainkan anak angkat. Sekarang sudah saatnya bagimu untuk balas budi."
Suara ayah angkatnya itu selalu terngiang hingga sekarang. Walaupun diucapkan tanpa rasa kesedihan Irsyad tetap merasa berterima kasih. Dan rasa penasaran kenapa selama ini dia dan kakaknya dibeda-bedakan terjawab sudah.
Di ruang tamu sudah ada Ayah, ibu dan juga kakaknya. Irsyad dengan hati yang tegar mengucapkan salam dan mencoba bersikap biasa saja.
"Bagaimana kabar kamu, Nak? Kenapa kamu lama sekali tidak mengunjungi orang tuamu?" tanya Winda haru.
"Mana mungkin dia akan mengingat kita, karena sekarang hidupnya jauh lebih enak setelah menikah dengan pewaris tunggal perusahaan terbesar di kota ini," sindir Randi.
"Jangan begitu degan adikmu!" pekik Winda.
Irsyad mencoba mengabaikan ucapan pedas kakak angkatnya, dia justru merasa lebih lega jika Randi berkata seperti itu. Karena jika Randi berkata yang baik-baik justru menjadi hal yang sangat mencurigakan.
"Maaf, Bu. Aku banyak sekali pekerjaan di luar kota. Bagaimana keadaan ibu dan Ayah?" tanya Irsyad.
"Kami baik-baik saja, ayo duduklah! Biar ibu buatkan minuman dulu."
Irsyad hanya mengangguk patuh, setidaknya di keluarga ini masih ada ibunya yang memperlakukan dia dengan baik.
"Irsyad, aku dengar katanya kamu diminta untuk mengurus perusahaan mertuamu ya? Kenapa tidak segera kamu ambil? Kamu satu-satunya yang bisa di andalkan supaya istrimu bisa istirahat di rumah dan segera hamil. Dengan begini juga akan lebih mudah bagimu untuk membantu memajukan perusahaan kakakmu!" ucap Nanta tegas.
"Maaf, Ayah. Aku masih belum siap untuk mengemban tugas yang besar itu. Apalagi selama ini aku juga belum memiliki pengalaman bekerja di bidang perusahan mertuaku," jawab Irsyad meminta pengertian.
"Kamu ini bodoh sekali! Berapa banyak lelaki yang menginginkan sepertimu? Menikahi wanita cantik dengan segala kekayaan yang melimpah?" sergah Randi.
Irsyad terkejut, diapun melirik ke arah Randi.
"Kalau begitu kenapa dulu bukan kakak saja yang menikah dengan Dinda?" sindir Irsyad.
Randi kalah telak, sebab waktu itu Randilah yang melamar. Akan tetapi papanya Dinda justru memilih Irsyad. Karena Nanta sedang dalam keadaan terjepit maka mau tak mau menyampingkan keinginan putra kandungnya untuk mendapatkan Dinda.
"Sudahi ocehan kalian! Randi, sebaiknya kamu masuk kamar saja!" bentak Nanta marah.
Randi berlalu pergi menahan kekesalan, sebab jika Nanta sudah marah apa yang di depan mata bisa di lempar.
"Irsyad, aku membesarkanmu karena berharap suatu saat kamu bisa berguna. Jika tahu begini waktu itu aku tidak akan memilihmu!"
Bagaikan tersambar petir, Irsyad sangat terluka sampai matanya memerah.
"Kalau begitu, berapa banyak uang yang harus aku ganti rugi?" tanya Irsyad menahan kepedihan.
"20 milyar! Jika kamu bisa memberiku sepuluh milyar maka aku anggap hutang budiku lunas."
"Baiklah, akan aku kembalikan uang itu sesegera mungkin. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Randi langsung berdiri kemudian membungkukkan kepalanya tanda hormat.
Ketika dia mau pergi, ibunya baru saja datang membawa minuman dan kue.
"Loh, kamu mau kemana? Ini minumannya belum sempat kamu minum!" protes Winda kebingungan.
"Maaf, Bu. Tiba-tiba ada urusan mendadak. Lain kali aku akan kesini lagi," jawab Irsyad.
Sesampainya di dalam mobil air matanyapun tumpah.
"20 Milyar, jika aku berhasil mendapat uang itu berarti aku bisa lepas dari semua ini," batin Irsyad.
Akan tetapi dia bingung juga, sebab uang segitu sangatlah banyak. Tabungannya saja tidak ada dari seperempatnya.
"Kalau begitu aku harus bekerja lebih keras lagi," batin Irsyad.
Irsyad langsung menuju ke rumah sakit lagi, karena istri pertamanya malam ini akan tidur di sana. Sebagai suami Irsyad ingin melakukan kewajibannya di saat-saat terakhir.
Akan tetapi sesampainya di sana, keadaan sudah sangat kacau. Dinda menangis sejadi-jadinya, rupanya papa mertuanya menghembuskan napas yang terakhir karena kondisi memang sudah sangat parah.
Dinda memeluk Irsyad, diapun juga ikut menangis karena bagaimanapun juga selama ini papa mertuanya begitu baik padanya.
"Irsyad, papa... Papa..."
"Kamu yang sabar ya, semua ini sudah menjadi takdir," bujuk Irsyad memeluk istrinya.
Dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa pulang untuk sementara waktu, ada perasaan bersalah juga karena pasti Dinda sangat membutuhkannya.
"Amanda, maafkan aku! Tapi saat ini Dinda lebih membutuhkan aku. Tunggu aku, aku pasti akan segera kembali," batin Irsyad.
Pagi harinya setelah jenazah dikuburkan, Dinda masih belum mau beranjak pergi dari kuburan papanya. Bahkan Dinda melamun terus karena terlalu bersedih. Bahkan Dinda juga tidak mau makan ataupun berbicara.
Mau tak mau Irsyad akhirnya yang mengurus perusahaan karena jika tidak akan kacau. Sedangkan sepulang bekerja Irsyad mengurus istrinya yang dalam masa berkabung.
Sebenarnya Irsyad teramat merindukan istri keduanya, dia tahu jika amanda saat ini resah menanti kepulangannya. Apalagi karena terlalu sibuk dia sampai tidak bisa menghubungi Amanda. Bahkan hanya sekedar membalas pesan saja Irsyad juga tidak bisa.
Padahal Irsyad tadinya sudah merasa lega karena ada celah saat ayahnya meminta uang kembali 20 juta. Namun, siapa sangka kesulitan muncul lagi dengan kematian papa mertuanya. Jika begini keadaan akan semakin sulit untuk menceraikan Dinda.
**************************
Sudah seminggu ini suaminya belum pulang, Amanda menunggu dengan keresahan karena setiap kali ditelepon juga tidak mendapat respon. Biasanya walau bekerja Irsyad selalu mengabarinya setiap saat.
"Apakah Mas Irsyad sibuk sekali ya? Waktu itu dia berangkat terburu-buru sekali dan katanya akan segera pulang," batin Amanda.
Amanda akhir-akhir ini juga kurang sehat, dia selalu merasa pusing dan mual. Hanya saja dia tidak memberitahukan hal itu agar suaminya yang sedang bekerja jauh tidak cemas.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya periksa ke rumah sakit? Siapa tahu Nyonya Amanda hamil," saran pembantunya.
"Hamil?" pekik Amanda.
"Iya, karena kadang ada wanita yang hamil dan awalnya seperti masuk angin gitu. Dari mual, sakit kepala dan meriang."
Amanda mengingat kembali jadwal datang bulannya. Dan ternyata memang sudah telat.
"Oh iya, Buk Yanti. Datang bukankah sudah telat, aku sampai tidak menyadarinya kalau Bibik tidak memberitahu," ujar Amanda senang.
"Kalau begitu biar saya belikan tes pack. Semoga saja positif."
"Iya, Bik. Aku tunggu!" jawab Amanda penuh harap.
Tak berapa lama kemudian pembantu Amanda pulang. Tentu saja dia bergegas mengecek bagaimana hasilnya karena sudah sangat penasaran.
Dan ternyata dari hasil tes dia memang positif hamil.
"Bibik... Aku beneran hamil. Lihatlah, ini garis dua," teriak Amanda.
"Wah, selamat Nyonya. Pasti Tuan Irsyad akan bahagia sekali," ungkap Yanti.
Amanda langsung meraih ponsel dan segera menelpon suaminya untuk menberi kabar baik, akan tetapi masih tidak diangkat juga. Karena sudah tidak sabar Amanda mengirim pesan.
Amanda berharap, jika setelah membaca pesan tersebut suaminya akan segera pulang.
"Bik, mumpung masih pagi antarkan aku ke dokter kandungan yuk?" ajak Amanda bersemangat.
"Iya, Nyonya."
Setelah memeriksa kandungan dan mendapat berbagai vitamin, Amanda mampir ke super market untuk memberi s**u ibu hamil dan buah-buahan. Amanda juga membeli berbagai macam cemilan sehat karena dia merasa tidak enak makan nasi.
Ketika melihat ada wanita hamil yang tengah berbelanja dan hanya memakai daster, tiba-tiba Amanda ingin juga membelinya. Diapun segera memilih daster yang bagus dan kekinian khusus untuk ibu hamil.
Banyak sekali belanjaan dia hari ini. Tak lupa juga Amanda memotret semuanya belanjaannya kemudian mengirimkan foto tersebut ke nomor suaminya.
"Aku tahu, pasti Mas Irsyad akan senang sekali jika aku belanja sebanyak ini."
Amanda sangat bersyukur, ketika istri yang lain mengeluh karena suami mereka protes jika berbelanja banyak sedangkan suaminya malah selalu menyuruh dia untuk berbelanja sepuas mungkin.
"Mas, akhirnya apa yang kita harapkan terwujud juga. Semoga setelah ini kita bisa membuka usaha sendiri dan tidak perlu berpisah lagi."