Amanda dan Irsyad sedang asyik bercinta di siang hari, biarpun ponsel Irsyad berdering berkali-kali akan tetapi pemuda itu cuek.
"Mas, telepon tuh! Siapa tahu penting," ujar Amanda.
"Biarin ah,"
Irsyad lebih memilih menggumuli sang istri sambil mencumbunya.
Amanda hanya tersenyum saja dengan semangat sang suami yang menggebu-gebu.
Lama sekali mereka dalam permainan yang mengasyikkan, Amanda sampai kelelahan dan tertidur pulas setelah hasrat mereka tersalurkan.
Sebelum tidur, Irsyad mengecek ponselnya. Ternyata ada beberapa panggilan dan pesan dari istri pertamanya. Matanya langsung terbelalak begitu membaca salah satu pesan itu.
"Ya ampun, Papa mertuaku masuk ke rumah sakit. Sebenarnya aku berat meninggalkan Amanda, tapi aku harus segera pulang," batin Irsyad.
Amanda yang belum sepenuhnya tertidur terlelap bisa merasakan saat suaminya beranjak dari ranjang.
"Kenapa mas Irsyad buru-buru? Apakah karena ada panggilan pekerjaan?" batin Amanda.
Tanpa rasa curiga atau mencoba mengecek ponsel suaminya, Amanda langsung terbangun dan menunggu suaminya yang sedang mandi.
Tak lama kemudian Irsyad keluar, pemuda itu terkejut melihat sang istri yang ternyata tidak tidur.
"Mas Irsyad mau kemana? Kok tampak buru-buru?" tanya Amanda penasaran.
"Bos aku masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh, aku harus segera ke sana," jawab Irsyad.
Amanda langsung berdiri dan memeluk suaminya mesra.
"Iya, aku mengerti. Jaga dirimu baik-baik ya, Mas," ucap Amanda lembut.
"Terima kasih, istriku. Karena kamu mau memahami aku. Aku akan berusaha secepatnya bisa pulang. Kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Irsyad membelai rambut istrinya.
Amanda hanya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum manja.
"Ya sudah aku siap-siap dulu, aku tak perlu membawa pakaian karena di sana sudah ada beberapa," sela Irsyad.
Amanda hanya bisa merelakan sang suami dan berharap semoga cita-cita mereka untuk membuka usaha sendiri segera terwujud agar kelak tak perlu berpisah.
***********************
Sebenarnya Irsyad lelah, tenaganya sudah terkuras habis setelah memadu kasih bersama istri keduanya. Akan tetapi jika dia tidak segera ke sana pasti orang tua angkatnya akan marah, karena sebagai menantu tidak tahu diri.
Dan benar saja, Sesampainya di rumah sakit Irsyad sudah mendapat tatapan yang kurang enak dari ayah angkatnya.
"Kamu kenapa baru datang?"
"Aku dari luar kota, Ayah."
"Suamiku, tuh papa mencari menantu kesayangan!" sela Dinda.
"Iya," jawab Irsyad menunduk hormat pada ayah angkatnya kemudian bergegas masuk.
Untung saja Dinda langsung datang dan menarik lengan Irsyad, jika tidak mungkin ayah angkat Irsyad masih akan berceramah panjang lebar.
Di dalam papa mertuanya menyambut Irsyad dengan senyuman cerah. Sungguh aneh, jika dibandingkan Irsyad malah merasa lebih dekat dengan mertuanya di banding ayah angkatnya sendiri. Terkadang saat dia merasa lelah dengan keadaan Irsyad selalu merasa hanya dijadikan alat saja. Karena dengan menikahi Dinda maka perusahaan ayah angkatnya akan semakin maju, akan tetapi yang memetik semua hasilnya adalah kakak angkatnya. Yaitu, Randi.
"Apa papa sudah baikan?" tanya Irsyad cemas.
"Iya," jawab papanya Dinda bersemangat.
Jiwa semangatnya memang kembali pulih setelah mendengar jika sang putri semata wayangnya sudah siap untuk memberikan cucu.
"Papa harus menjaga diri baik-baik, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang bisa membuat kesehatan papa terganggu!" bujuk Irsyad.
"Iya, papa hanya terlalu memikirkan ingin cucu. Degan begini papa bisa memiliki semangat baru," balas papanya Dinda.
Irsyad mencoba tersenyum, sebenarnya jiwanya sangat tertekan.
Karena banyak dari kerabat yang berkunjung, maka Irsyad berpamitan untuk memberikan kesempatan bagi yang lain.
Di luar rupanya sudah ada kakak angkatnya. Irsyad tahu, jika kakaknya itu tidak pernah menyukainya semenjak kecil. Karena Irsyad selalu memiliki prestasi yang lebih baik, sehingga semua orang beranggapan jika Irsyad akan menjadi penerus perusahaan. Walaupun Irsyad sebenarnya tidak pernah minat akan harta orang tua angkatnya sama sekali, akan tetapi Randi selalu menargetkannya.
"Irsyad, kemarilah!"
Irsyad mau tak mau mendekati kakaknya.
"Ada apa, Kak?" tanya Irsyad.
"Ada hal penting yang mau aku bahas denganmu, nanti temui aku di kafe ya."
"Baiklah," jawab Irsyad tak ingin membuat kakaknya tersinggung.
"Kak Randi, kamu datang kemari juga?" sapa Dinda yang tiba-tiba muncul.
"Iya, mau menjenguk papa kamu. Tapi sepertinya antrian sangat banyak," jawab Randi.
"Memang iya, apa nanti kemari lagi saja. Karena jika menunggu pasti lama," saran Dinda.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya?" sela Randi.
"Irsyad, kita pulang dulu yuk. Nanti sore baru kesini lagi," ajak Dinda.
"Baiklah," jawab Irsyad patuh.
Dalam perjalanan suasana menjadi sunyi. Irsyad memikirkan soal bagaimana cara bisa cerai, sedangkan Dinda berpikir bagaimana cara membujuk Irsyad agar mau menggantikannya di perusahaan.
Sesampainya di rumah mereka mandi, Irsyad kaget juga sebab istri pertamanya tiba-tiba mengajaknya untuk duduk bersantai di halaman rumah. Karena biasanya meskipun di rumah Dinda akan sibuk dengan laptopnya.
"Suamiku, kamu tahu kan bagaimana kondisi papa? Kali ini aku ingin menyampingkan keegoisanku. Aku mau berubah menjadi istri dan anak yang lebih baik, aku mau berhenti bekerja. Jadi bisakah kamu menggantikan posisi aku?" pinta Dinda penuh harap.
Seketika Irsyad bengong, jika dia berhenti dari pekerjaannya dan menggantikan posisi Dinda maka dia tidak akan sulit bertemu itri keduanya.
Irsyad dilema, jika dia menolak maka alasan apalagi yang harus dibuat. Karena Dinda anak tunggal, tentu saja dialah yang akan bertanggung jawab mengenai perusahaan mertuanya.
"Aku berpikir dulu ya, masalahnya aku masih ada proyek yang belum selesai. Aku tidak enak pada atasan jika lari di tengah jalan," jawab Irsyad.
"Baiklah, kalau begitu aku pensiun setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu dulu. Setelah itu aku ingin istirahat total di rumah biar segera hamil."
Irsyad semakin kaget, kepalanya terasa berdenyut sakit. Diapun tetap mencoba tersenyum walaupun sebenarnya ingin berteriak bilang tidak.
Malam harinya Irsyad menemui kakaknya ke kafe seperti yang sudah dijanjikan. Dia tahu, senyuman kakaknya itu selalu penuh arti. Karena selama ini sikap Dandi tak pernah baik jika sedang tidak butuh.
"Maaf kak, aku baru saja dari rumah sakit," ucap Irsyad.
"Tak apa, aku juga baru datang."
"Ada hal penting apa, Kak? Kenapa kamu memintaku bertemu di sini?" tanya Irsyad penasaran.
"Ada proyekku yang gagal, makanya perusahaan mengalami kerugian besar. Tapi aku masih merahasiakan ini pada Ayah. Bisakah kamu bilang pada istrimu untuk meminjamkan aku uang? Jika sudah ada nanti langsung aku kembalikan," pinta Dandi.
Irsyad semakin kesal, sebab setiap kali ada masalah selalu saja dia yang menjadi korban. Seperti waktu itu, ketika perusahan hampir tumbang, justru Dia yang dipaksa menikah. Bukan Dandi yang menjadi sang pewaris.
"Maaf kak, aku tidak bisa. Sebaiknya kakak langsung bicara pada istriku saja." jawab Irsyad tegas.
"Kenapa kamu begitu padaku? Apa kamu tidak percaya pada kakakmu?" pekik Dandi tersinggung.
Irsyad menahan tawa, hatinya semakin kesal karena diperlakukan seenaknya oleh keluarganya. Mungkin benar selama ini dia sudah berhutang Budi, tapi Irsyad juga sadar jika orang tuanya itu mengangkatnya hanya untuk sebuah nama. Sedangkan dia sering mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan.
"Maaf kak, kali ini aku tidak bisa membantu. Sebaiknya kakak kalau ada urusan tentang perusahan lagi langsung bicara pada Istriku, karena dialah yang memegang kendali. Bukan aku!"
Setelah berkata itu, Irsyad langsung meninggalkan sang kakak.
"Sudah cukup, aku tidak ingin mereka membuat aku semakin merasa berhutang budi pada Amanda. Karena kedepannya aku akan sulit untuk keluar dari rantai jerat ini," batin Irsyad.
Dan seperti yang sudah diduganya, tiba-tiba ayah angkatnya menelepon dan meminta dia untuk pulang.
"Aku harus menghadapinya, jika tidak maka selamanya akan seperti ini. Aku tidak mau menjadi tameng dari kesalahan yang dibuat kakakku," gumam Irsyad kesal.