Dinda, merupakan wanita yang multitalent. Berparas cantik dan memiliki otak cerdas. Biarpun seorang wanita akan tetapi memiliki jiwa kepemimpinan sehingga dia bisa membantu orang tuanya dalam mengurus perusahaan.
Dinda termasuk wanita yang tidak begitu mementingkan perasaan, yang dia pikirkan hanyalah pencapaian agar menjadi wanita yang paling unggul.
Makanya dia sama sekali belum pernah jatuh cinta, masa mudanya dia habiskan untuk mengejar prestasi. Begitu dia di jodohkan dengan Irsyad dia sama sekali tidak keberatan. Baginya cinta bukan masalah, yang penting calon suaminya tampan, cerdas dan juga bisa dibanggakan.
Sepulang dari Singapura, Dinda langsung ikut rapat dan setelah itu makan siang bersama rekan kerjanya. Apalagi suaminya berada di luar kota membuat dia tidak kepikiran untuk pulang ke rumah cepat-cepat.
"Din, kamu selalu tenang-tenang saja saat meninggalkan suamimu. Apa kamu tidak takut jika ditinggal selingkuh?" tanya Diwan.
Dinda tertawa, sebab dia tahu jika suaminya termasuk lelaki yang polos dan tidak mungkin neko-neko.
"Kamu jangan terlalu percaya diri, Din. Yang namanya lelaki semua sama saja, membutuhkan perhatian lebih dari sang istri. Jika saat kesepian dan bertemu wanita lain dia bisa saja terlena," timpal Diwan.
"Suamiku orangnya sama denganku, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Selama ini dia juga baik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda keanehan yang bisa menimbulkan kecurigaan," jawab Dinda tenang.
"Aku hanya mengingatkan saja, alangkah lebih baik jika kamu waspada. Atau mungkin, karena kamu tidak benar-benar jatuh cinta padanya sehingga kamu tidak takut kehilangan dia?" tanya Diwan penasaran.
"Cinta? Entahlah... Aku hanya menjalani apa yang ada di depanku saja," jawab Dinda.
"Kamu ini, dari dulu tidak pernah berubah. Dasar wanita yang tidak punya perasaan!" umpat Diwan kesal.
"Kamu sendiri kenapa sampai sekarang belum menikah juga? Malah sering menempel padaku, pantas saja tidak ada wanita yang mau denganmu. Mereka sudah minder duluan melihatku yang berada di sampingmu," ejek Dinda merasa puas.
Diwan hanya nyengir saja, padahal semua orang tahu jika Diwan sejak masa kuliah teramat menyukai Dinda. Akan tetapi Dinda justru sama sekali tidak peka, padahal dia memiliki kecerdasan yang tinggi.
"Suamimu sering bekerja di luar kota ya?" tanya Diwan penasaran.
"Iya."
"Kenapa tidak di suruh bekerja di perusahaanmu saja. Atau di perusahaan orang tua angkatnya?"
"Dia mana mau bekerja duduk manis di depan komputer. Apalagi dia menyukai tantangan dan kreatif, melakukan pekerjaan sesuai dengan hobinya."
"Jadi kalian jarang bertemu ya?" tanya Diwan semakin penasaran.
"Iya, tapi kami baik-baik saja. Tidak pernah berkelahi atau saling menaruh rasa curiga."
"Tapi kenapa aku justru merasa hubungan kalian ini begitu hambar? Padahal yang namanya cemburu saat saling berjauhan itu merupakan bumbunya rasa cinta," ujar Diwan serius.
"Hey Diwan! Kamu ini dari tadi aku dengar mengompori Dinda terus. Kalau kamu memang menyukai Dinda jangan pakai cara murahan seperti itu!" tegur seorang wanita cantik sebaya Dinda.
"Angel, mulutmu itu tidak dijaga. Mana mungkin aku menyukai wanita yang sudah bersuami!" sergah Diwan kesal.
"Benarkah? Apa kamu yakin bisa membohongi aku? Jangan lupa aku ini pakar cinta," balas Angel sambil duduk di samping Dinda.
"Pakar cinta apa sang pemain?" sindir Dinda.
"Ha...ha... Hidup ini terlalu singkat. Jadi harus dinikmati sebaik mungkin," jawab Angel.
"Kalau itu aku setuju," balas Dinda
"Wah... Kalian berdua sungguh para wanita yang mengerikan!" pekik Diwan.
"Sudahlah, ayo kita habiskan makanan!" sela Dinda tak mau ambil pusing.
Setelah mereka selesai, Dinda pulang menuju rumahnya sendiri. Seperti biasanya di sana rumah terasa sunyi, hanya ada bunyi dari para pembantu yang tengah membersihkan rumah dan pekarangan.
Dinda selama ini merasa baik-baik saja dengan kehidupan seperti ini, dia tidak keberatan ketika suaminya sering keluar kota. Karena dia sendiri juga terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Sampai tiba-tiba ada bunyi telepon dari ponselnya. Dinda segera mengangkatnya.
"Baiklah, aku segera ke sana!" jawab Dinda panik.
Dinda tak sempat lagi berganti pakaian, dia langsung meluncur ke rumah sakit sebab penyakit jantung papanya kambuh.
Dalam perjalanan Dinda mencoba menelpon Irsyad, tapi suaminya itu tidak menjawab juga.
Akhirnya Dinda memutuskan mengirimkan chatt agar suaminya bisa segera pulang.
Di rumah sakit rupanya sudah ramai oleh para kerabat, Dinda tak bisa berhenti menangis ketika melihat papanya sudah terbaring tak berdaya di sebuah ruangan dimana dia tidak diizinkan untuk masuk.
"Dinda, kamu tunggu di sini, Nak!" pinta Mamanya Dinda sembari memeluk putrinya.
"Iya, Ma," jawab Dinda patuh."
Dinda termasuk gadis tegar, selama ini dia tidak pernah menangis. Namun, kali ini dia tidak sanggup membendung air mata yang seakan hampir merobohkan dadanya yang sudah bergemuruh.
Apalagi suaminya itu sama sekali belum membalas pesan atau menelpon balik.
"Suami kamu dimana? Kenapa belum kemari?" tanya Mamanya Dinda penasaran.
"Paling sedang sibuk kerja, aku sudah menelpon tapi tidak diangkat," jawab Dinda.
"Kok paling, kamu ini sebagai istrinya seharusnya tahu dimana dan apa yang sedang dilakukan oleh suamimu!"
"Iya, Ma. Aku saja juga baru pulang dari luar negeri," balas Dinda.
Namanya Dinda hanya menarik napas, bagaimana mau segera memiliki cucu jika kehidupan anak dan menantunya selalu sibuk dengan urusan pekerjaan.
"Nak, kamu ini sudah menjadi seorang istri. Sebaiknya kamu di rumah saja mengurus suami. Dan biarlah Irsyad yang mengambil alih perusahaan. Dengan begitu kalian akan memiliki waktu bersama yang lebih dan bisa segera memiliki anak!"
"Ma, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu. Sebaiknya kita berdoa agar papa bisa sadar kembali," sela Dinda yang sudah bosan mendengar semua itu.
Bagi Dinda pekerjaan adalah hidupnya, apalagi Irsyad juga tidak pernah minat pekerjaan seperti yang dijalaninya. Hanya saja Dinda selaku diam agar orang tuanya itu tidak berbuntut panjang membahas soal pernikahan. Toh, selama ini mereka baik-baik saja dan tidak pernah bertengkar itu sudah cukup.
Dua jam kemudian dokter yang menangani papanya Dinda keluar dari ruangan.
"Syukurlah, masih bisa diselamatkan. Tadi nyaris berbahaya jika sampai telat beberapa menit saja," ujar dokter tersebut merasa puas.
"Terima kasih, Dok. Apa sekarang kami sudah diizinkan untuk masuk?" pinta Mamanya Dinda penuh harap.
"Silahkan, tapi saya harap agar jangan memberikan hal yang membuat jiwanya terguncang!" balas dokter berlalu pergi.
Dengan antusias Dinda dan Mamanya langsung masuk, sedangkan kerabat yang lain bersabar menunggu gantian dari luar.
"Pa, papa mulai sekarang harus lebih menjaga kesehatan!" bujuk Dinda.
"Iya, sayang. Andaikan saja kamu segera memberikan cucu pasti papa akan bahagia sekali."
Dinda merenung, selama ini papanya selalu memberikan apa yang dia mau. Sedangkan kini hanya permintaan kecil tapi Dinda tidak pernah mengabulkannya.
"Iya, Pa. Sekarang aku sedang melakukan program kehamilan. Papa tidak usah cemas!" bujuk Dinda.
"Nah, dengan begitu papa bisa tenang sekarang. Papa takut jika kamu terus fokus ke pekerjaan sampai melupakan tanggung jawab sebagai seorang istri!"
"Papa tidak perlu berpikiran jauh lagi, yang penting papa sehat. Lagian aku dan Irsyad juga baik-baik saja dan kami selalu rukun."
Dinda mencoba meyakinkan pada orang tuanya jika dia akan mulai berubah dan menjadi istri yang baik.
Kemudian Dinda memberikan kesempatan kepada mamanya untuk mengobrol dan papanya, sedangkan dia terus mencoba menghubungi nomor Irsyad. Akan tetapi sama sekali tidak mendapat respon.
"Tidak biasanya dia seperti ini. Karena jika sedang sibuk dia akan mengirim pesan dan memberi kabar," batin Dinda.
Tiba-tiba saja Dinda merasa tidak enak, entah perasaan apa itu. Akan tetapi sangat mengganjal dihatinya. Membuat pikirannya tidak tenang.