"Re? Reva? Bangun, Re!" Ketiga suara itu begitu mirip dengan suara Janatra, terdengar amat nyata di telinga Revalia. Namun, mata Revalia masih belum bisa membuka. Meski pun dia sangat berharap bisa melihat Janatra ketika matanya terbuka. "Re? Sayang, bangun." Lagi-lagi suara itu memerintahkan Revalia agar bangun. Namun, bagaimana caranya? Tepat pada saat kesadarannya sudah benar-benar akan hilang dan bahu kanan yang terluka membentur pinggiran bebatuan, barulah mata Revalia sontak terbuka. Perih yang dia rasakan di sekujur tubuh bahkan menjalar sampai ke d**a. Benar saja, sosok Janatra langsung tertangkap mata ketika terbuka. "Ja?" Air mata Revalia tumpah mengingat betapa dia sangat merindukannya sejak berhari-hari yang lalu. Meski masih dalam keadaan lemas dan tanpa tenaga, Revalia da

