Malas-malasan, Revalia menurunkan kaki satu persatu menyentuh lantai. Serta merta, sensasi rasa dingin menyerbu telapak kakinya yang telanjang. Sensasi dingin keramik yang berhasil menghilangkan kantuk Revalia secara keseluruhan. Tanpa menoleh lagi pada Janatra yang kini sibuk mengambil celana selutut di lemari, perempuan itu melangkah menuju kamar mandi. Di ambang pintu, langkah Revalia memaku saat satu kalimat Janatra terdengar menyapa indra pendengarannya. “Aku tunggu ya, Re. Kita lari pagi bareng.” Darah Revalia berdesir kala otak kecilnya berhasil mencerna kalimat ajakan sang suami. Dia tak lantas menjawab, hanya melirik Purna dari sudut mata, kemudian bergumam pelan, tak jelas. “Hmmm ...” lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Di tempatnya ber

