Bab 62. Kesempatan

1560 Kata

“Aku memang ngebebasin kamu buat ngebenci aku sebagai suami, tapi bukan berarti kamu bisa melupakan status kita.” Dia memberi penekanan di akhir kalimat. “Kamar kamu, kamar aku juga. Kamar kita! Aku sudah pernah bilang, kan, untuk TIDAK menyentuh kamu sebelum kamu yang memberi izin. Permintaanku cuma satu, Put. Cukup hargai aku. Itu saja. Sesulit itukah kamu melakukannya?” Usai mengeluarkan kalimat panjangnya yang berakhir dengan pertanyaan yang tak bisa Revalia jawab, Janatra berdiri, membawa sepasang kaki panjangnya berlalu dengan menenteng satu koper hitam menuju lantai dua. Membiarkan Revalia yang masih mematung. Tak percaya jika seorang Janatra memiliki sikap sedingin itu. Tepat di anak tangga ke empat, langkah Janatra terhenti. “Di ujung lantai dua. Pintunya warna putih,” ucapnya, l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN