“Enggak apa-apa, kok, Mi. Pelan-pelan Putra akan menuntun Puput." “Dia memang keras kepala. Kamu harus benar-benar sabar menghadapinya,” ucap Rahardjo jumawa. “Istri itu seperti tulang rusuk yang bengkok, Putra. Perlahan kamu harus meluruskannya. Jangan terlalu kasar, dia bisa patah. Dan bila kamu terlalu lembut, dia justru akan semakin bengkok.” Janatra menunduk mendengarkan nasehat ayah mertuanya dengan sungguh-sungguh. Iya, Janatra akan mecoba meluruskan Revalia. Pujaannya itu sebenarnya baik, hanya saja dia bersikap demikian barangkali sebagai bentuk protes karena Janatra tiba-tiba telah lancang menikahinya tanpa meminta pendapat Revalia dulu. Sedangkan sebelumnya, mereka berdua telah berjanji akan menjalani pelan-pelan. Namun sayangnya, Janatra tak sabar. Dia ingin segera memiliki s

