Sinar hangat mentari pagi menyusup lewat celah gorden jendela yang terbuka, menyapa Revalia yang masih bergelung nyaman di balik selimut tebalnya. Membuka mata, perempuan itu merentangkan tangan di depan muka, merasa terganggu dengan cahaya yang menyilaukan indra penglihatannya. “Ugh!” Revalia mengerang, dia membalik badan dan menutupkan selimut hingga ke ujung kepala. Dia masih ngantuk sekali. “Mamiii .... Rere enggak kerja, sekarang! Kenapa masih harus bangun pagi juga?!” teriaknya. Lupa jika kini dia tak lagi sendiri. Janatra yang baru saja selesai membersihkan diri dari kamar mandi tersenyum kecil melihat tingkah sang istri. “Sekarang emang masih menunggu mutasi, tapi bukan alasan buat enggak bangun pagi, kan, Re?” Revalia yang hendak kembali menuju alam mimpi yang belum selesai dia

