Suara berat dari seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan menggema di udara. Menjelaskan mengenai acara inti yang akan segera dilangsungkan pada siang hari ini. Janatra duduk tegang di depan Rahardjo yang sekarang tampak lebih menyeramkan di matanya. Ocehan master of ceremony bagai tumpukan besi yang lepas ikatannya di telinga Janatra. Dia hanya fokus terhadap satu hal. Debar jantungnya yang tak berkesudahan. Wajah Janatra pucat pasi. Bahkan, senggolan Sapta di sampingnya tak lagi terasa. Dan begitu kalimat basmalah terlafal dari bibir Rahardjo, suasana yang semula ramai, seketika menjadi hening. Tak ada satu pun yang bersuara kecuali laki-laki paruh baya yang ditakdirkan sebagai ayah dari seorang perempuan bernama Revalia. Rahardjo mengulurkan tangan ke depan, yang disambut Janatra de

