BAB 19

1460 Kata
SEMESTA BERUBAH   "Semesta ada bukan untuk disalahkan, semesta ada untuk mengajarkan, apa yang semestinya dipertahankan dan dilepaskan." —Dante Abraham—   ***   Malam yang panjang dan hari yang melelahkan. Anin menghela napas, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi. Kursi teras memang menjadi tempat favorit Anin jika sedang ingin mengeluh pada dunia. Pukul 20.32 malam, Anin masih terjebak bersama Dante. Membagi sedikit perhatian yang selama ini hanya ia curahkan pada Rega dan adiknya—Farel. Apa maksud semesta membiarkan Anin terkepung pada dua hati yang sama-sama terluka karena berpisah dengan kematian, Anin mencoba untuk memikirkan. Namun semakin dipikirkan, Anin semakin takut untuk menerima kenyataan. Dirinya tak sanggup lagi dipermainkan, ia lelah melawan apa yang sudah ditetapkan. "Rega, lo udah bikin gue jatuh berkali-kali. Meskipun itu menyedihkan, gue masih menetap di hati lo, enggan beranjak, nggak tau kenapa," ujar Anin pilu, kerongkongannya tercekat. Menelan kepahitan sendirian. Menatap langit gelap yang sedang menurunkan hujan rintik-rintik. Deretan langkah yang diseret menyapu pendengaran Anin, sebuah kalimat dari si pemilik langkah membuatnya tertegun. "Karena ketulusan lo, Nin, makanya lo masih bertahan walau sebenarnya ingin menyerah. Suatu saat dia akan menyesal karena biarin lo berjuang sendirian." "Dia nggak tau, seberapa susahnya gue berjuang untuk dapetin hati lo. Sementara lo mencurahkan sepenuhnya perasaan lo buat dia, orang yang sama sekali nggak bisa menerima kehadiran lo, Nin. Lo mencurahkan semuanya tanpa menyisakan sedikit untuk gue." Setelah beberapa detik terdiam, Anin menoleh perlahan. "Lo kenapa ke luar, Kak, lukanya udah gapapa?" Anin segera bangkit dan membantu Dante untuk duduk. Cukup canggung karena baru saja disindir terang-terangan oleh seseorang yang tulus mengharapkannya. "Nggak ada yang sia-sia di dunia ini, Nin, sekalipun itu perasaan lo buat Rega." Perkataan dante menancap tepat di ulu hati. Anin duduk bersebelahan, menunduk dengan ketidakberdayaan yang mempersulit dirinya untuk terbebas. "Semesta ada bukan untuk disalahkan. Semesta ada untuk mengajarkan apa yang semestinya dipertahankan dan dilepaskan. Untuk membuat keputusan dalam ketidakberdayaan sebuah perasaan tanpa balasan, atau dalam kekecewaan yang berkepanjangan." Kepala Anin kembali diangkat, kemudian menoleh pada Dante yang sedang melamun menatap kejauhan. "Seperti lo yang kecewa karena nggak bisa mempertahankan apa yang ingin lo pertahankan. Kita sama-sama terluka karena permainan semesta dan segala ketetapan," papar Anin dengan hati yang mencelus sakit. "Setelah semua yang terjadi, lo masih nggak mau pulang ke rumah? Kasian papa lo. Harusnya, buah hatinya ada di samping dia disaat-saat terburuk kayak sekarang," ujar Anin, mengalihkan kesedihannya pada hal lain yang lebih memprihatinkan. "Besok gue pulang. Gue nggak akan biarin tiang penyangga dalam hidup gue runtuh hanya karena salah satu dindingnya roboh," jawab Dante berat. "Memang terasa berat untuk gue jalani sekarang, gue pasti udah gila karena tadi ngamuk-ngamuk di jalan." "Alasan lo ngamuk-ngamuk kayak orang gila apa?" tanya Anin takut-takut, pandangannya ia alihkan kembali pada langit. "Sebelum gue sama Kak Eros bawa lo ke rumah sakit, lo bilang nggak mau perjuangan untuk berubah jadi anak nakal sia-sia, itu maksudnya apa, ada sesuatu yang terjadi?" Sebelum menyandarkan punggungnya pada badan kursi, Dante sempat menyunggingkan senyumnya. "Semua orang mengira yang selalu tersenyum itu pasti bahagia. Mereka menduga yang tampak baik-baik aja nggak akan apa-apa, nyatanya mereka yang terlihat seperti itu adalah manusia paling terluka di jagat raya. Perkiraan itu adalah perkiraan paling konyol yang selalu gue patahkan, praduga yang gue benci karena kenyataannya justru bertolak belakang dengan apa yang gue rasakan." Anin memaksakan tawanya, lalu melirik Dante sejenak. "Maksud lo apa, Kak? Apa semua yang terlihat itu cuma kepalsuan? Lo memaksa bahagia dalam keadaan terluka?" tanya Anin kebingungan. "Gue tebak, lo pasti salah satu dari mereka yang meyakini perkiraan itu ‘kan?" Dante melihat Anin menganggukan kepala, tampak ragu-ragu. "Lo inget Ziva ‘kan. Dia adalah bukti kedua yang berhasil mematahkan perkiraan bodoh itu. Dari sudut pandang lo, Ziva pasti beruntung punya segalanya yang diharapkan oleh orang-orang. Kekuasaan, martabat, kekayaan, perhatian dan kasih sayang dari orangtua, semua dia punya. Tapi, asal lo tau, dia pernah terluka karena cinta dan persahabatan, membuat dia terpukul akan keadaan dalam waktu cukup lama. Sampai akhirnya dia memilih berubah menjadi perempuan yang haus akan itu semua, seperti yang lo lihat sekarang." Detik itu juga raut wajah Anin berubah, terkejut sekaligus tak menyangka jika Ziva juga mengalami hal yang mengerikan. "Gue pikir cuma gue yang menderita karena keadaan yang menyedihkan, gue pikir cuma gue satu-satunya orang yang punya masalah paling berat. Ternyata ada yang lebih mengerikan dari apa yang gue rasakan. Bertahun-tahun perkiraan itu gue pertahankan, tapi, hari ini lo berhasil mematahkan, menyadarkan gue kalau kepalsuan itu juga nyata." "Terus, bisa lo ceritain kenapa Kak Ziva bisa berubah semengerikan kayak sekarang?" "Waktu SMP, Ziva itu sering dibully karena cupu. Cewek-cewek temenan sama dia cuma untuk manfaatin Ziva. Belum lagi soal cowok-cowok yang deketin Ziva cuma karena taruhan, gue inget banget dulu seberapa tangguhnya gue buat Ziva, karena sering berantem buat belain tu cewek," cerita Dante panjang. Rupanya lelaki tampan ini punya banyak kenangan bersama Ziva. "Puncaknya itu saat Ziva melakukan percobaan bunuh diri, padahal gue selalu ada buat dia, entah kenapa gue bisa sampe kecolongan. Dan akhirnya gue tau, selama Ziva dibully ternyata dia nggak pernah cerita sama orangtuanya, setelah keadaan Ziva membaik, dia memutuskan untuk kayak sekarang, dia juga terang-terangan bilang kalau dia suka sama gue." Sedikit tarikan dikedua sudut bibir Anin, sembari mengangguk kepala. "Kisah yang memilukan, masih belum sebanding sama apa yang gue rasakan," ucap Dante. "Kisah lo sendiri gimana? "Gue punya keluarga yang penuh akan kepalsuan, gue punya sahabat gila yang menyenangkan, gue punya kisah cinta yang menyedihkan, gue punya hidup yang penuh akan keseriusan, kira-kira kayak gitu." Jawaban Dante cukup mampu membuat Anin penasaran, berhasil membuat otaknya memproses berbagai dugaan. "Kenapa lo bilang keluarga lo penuh kepalsuan, Kak, apa ada hubungannya dengan perselingkuhan mama lo?" Dante mengangguk, pandangannya ia buang dari Anin. "Ini alasan yang bikin gue ngamuk di jalan, menantang siapa pun yang lewat asalkan gue bisa menyalurkan kemarahan." "Alasannya apa?" "Cukup sederahana, cuma karena kasihan." Kening Anin segera mengerut, membentuk lipatan-lipatan kecil yang bisa ditebak oleh Dante bahwa sedang kebingungan mencerna kalimat singkatnya. "Papa bilang kalau sebenarnya mama nikahin dia karena belas kasihan. Kisah cinta mereka kira-kira kayak lo sama Rega, Nin. Bertahun-tahun menjalani kehidupan sama papa, bahkan mereka udah punya gue sebagai buah hati mereka, ternyata mama nggak bisa melupakan mantannya. Itu yang gue maksud dengan semesta bersifat untuk mengajarkan, Nin. Lebih baik sakit di awal daripada ditinggal saat hati lo nggak mau berpisah, gue nggak mau Rega menerima lo karena kasihan dan akhirnya berujung kayak orangtua gue." "Lo terlalu memperkirakan keadaan, Kak." "Untuk menghindari segala kemungkinan buruk, keadaan memang harus diperkirakan, Anin." Tak ada lagi sahutan yang terdengar. Anin diam mencerna semua yang Dante ucapkan padanya, titik pandang Anin jatuh pada daun bunga yang layu. Bisa dikatakan juga hatinya sedang dalam keadaan layu karena baru menyadari kenyataan sekarang, itu pun berkat orang yang hampir merenggut kehormatannya, Anin benar-benar tak menyangka. Tiba-tiba terdengar helaan napas panjang, Dante menarik punggungnya dari sandaran. “Gue juga nggak bisa memaksa perasaan, gue nggak mau diterima karena kasihan. Yang gue mau, lo bahagia dengan segala ketetapan, berdamai dengan keadaan dan hidup berdampingan dengan semesta walau nggak sejalan,” tambah Dante. Mendengar Dante berucap seperti itu, Anin segera merengut. Jika bisa meminta, Anin juga tidak mau jatuh cinta pada Rega, ia juga tak mau berjuang tanpa kepastian, akan tetapi, kembali lagi pada ketetapan Tuhan. Ada batas yang tak bisa ditembus, seperti beberapa ketetapan yang tak bisa ia kendalikan hanya demi sebuah kepentingan. “Gue ingin tau kenapa lo berperan sejauh itu dalam kehidupan gue, Kak.” “Jawabannya gampang. Cuma ingin memperbaiki kesalahan, sialnya malah jatuh cinta sendirian.” Sekali lagi Anin terdiam mendengar perkataan Dante. Di otaknya sedang tidak ada jawaban bagus yang dapat menjawab kalimat laki-laki itu, sehingga yang bisa Anin lakukan hanya diam, lalu tersenyum tipis seperti maling yang tertangkap basah. Ekor mata Anin dipaksa untuk melirik Dante, ingin pamit pulang, namun segan minta diantarkan. Entah itu pada Bonar yang sedang beristirahat di kamar, atau pada Pak Wirya yang sedang sibuk di kamar dengan pekerjaannya. Dante baru saja mengeluarkan ponselnya dari saku, kemudian terhanyut dalam dunia benda kecil tersebut. Ketika Anin ingin berdiri, Dante kembali memasukan benda itu ke sakunya, lalu menatap Anin senang. “Kesedihan adalah kebahagiaan yang tertunda, nikmati aja setiap prosesnya,” ujar Dante sambil tersenyum aneh. “Biar gue yang antar pulang, soalnya gue nggak mau nambah saingan.” “Maksud lo, Kak?” “Maksud gue, cukup gue aja yang saingan sama Rega untuk dapetin hati lo. Jangan nambah lagi, karena kesempatan gue untuk menempati singgasana di hati lo akan semakin kecil.” Keduanya sontak terkekeh mendengar perkataan spontan yang Dante keluarkan. Bisa dikatakan itu sebuah pengakuan, hanya saja cara Dante menyampaikanya seperti sebuah lelucon, yang membuat Anin menanggapinya dengan tidak serius. Sekarang gue tau, yang terlihat bahagia tidak benar-benar bahagia. Seperti gue yang ingin menyerah, tapi, sebenarnya tidak ingin menyerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN