BAB 23

2345 Kata
SIAGA DUA, TITIK MEMBARA   "Bermain-main dengan keadaan yang sudah jelas bisa menghancurkan adalah kesalahan besar." —Ziva Oktaviana—   ***   Tubuh Dante tersentak begitu teriakan seseorang menyelipkan namanya. Ketika tatapan keduanya bertemu, Dante segera melepas pelukannya. Anin tampak menunduk, menghapus jejak air matanya terburu-buru. Darah milik Dante nampak tertinggal pada seragamnya yang berwarna putih. Dalam hati Dante merutuki kebodohannya yang tiba-tiba saja lari ke toilet sekolah dan meninju kaca toilet dengan keras, melepaskan seluruh emosinya di sana. Mata Dante memerah, air mata masih menumpuk di pelupuk matanya. "Dante lebih kecewa sama papa," ucapnya sambil memperkecil jarak antara dia dan ayahnya yang baru saja tiba. Bramasta Abraham. Lelaki yang sedang marah bukan kepalang mengingat kelakuan bodoh anak lelaki satu-satunya yang ia punya. Harta satu-satunya yang selalu ia pertahankan, hari ini begitu mengecewakan. "Kamu nggak usah kayak anak kecil! Kita ke rumah sakit sekarang," balasnya, hendak menyambar tangan Dante kalau saja pemuda itu tidak menolak dengan memundurkan langkahnya. "Dante nggak mau, Pa." "Jangan bikin Papa tambah malu dan kecewa!" "Justru Papa yang mempermalukan diri Papa sendiri, bukan aku, Pa!" Dante hilang keseganan melawan ayah kandungnya. Sesak di dadanya sudah tak kuat ditahan, beban di pundak sudah tak mampu ia topang, hari ini ia memilih untuk memuntahkan segala sandiwara yang sejak lama ia tekuni. Senyuman tampak sengaja disunggingkan oleh Dante, seakan menertawakan kehidupannya sendiri. "Aku udah cukup sabar dengan semua hal yang aku tanggung sejak kecil. Kesibukan papa dan mama bikin aku merasa jadi anak terbuang, anak yang ditelantarkan, anak yang nggak diinginkan. Karena apa, karena pernikahan kalian dipaksakan, bukan karena saling menginginkan." "Dante, Papa bilang cukup!" bentak Bramasta, semakin bergejolak amarah dalam dadanya. "Jangan bikin Papa tambah marah sama kamu, cukup mama kamu saja yang membuat Papa kecewa." Tangan Dante bergerak, menyeka air di pelupuk matanya yang hampir saja lolos. Dante tak berani menatap ayahnya, sebab kini ia sedang marah, kalau dipaksakan takutnya pertengkaran hebat akan terjadi, Dante tak akan bisa mengendalikan emosi. "Apa aku salah hadir dalam kehidupan papa dan mama? Kenapa kalian nggak pernah menganggap keberadaan aku, Pa? Sejak kecil, Bi Arung yang selalu jadi ibu buat aku, dan Pak Arnan sebagai ayah kedua karena sering menjadi teman buat aku. Sementara kalian berdua, kalian hanya muncul disaat aku membanggakan nama keluarga. Jadi juara umum di sekolah, rangking satu paralel di kelas, menjadi juara pertama dalam berbagai lomba, bahkan menjadi ketua osis yang kedudukannya diincar banyak siswa." Bramasta bungkam, merenung dalam kenyataan yang membuat anaknya tertekan. Ternyata ia salah dengan menafsirkan bahwa kekayaan akan mendatangkan kebahagiaan untuk anak dan istrinya. "Aku udah berusaha jadi anak baik-baik, membanggakan orangtua, nggak pernah bikin masalah baik di sekolah atau pun di rumah. Aku pikir dengan cara itu, aku akan mendapatkan sedikit saja perhatian dari kalian, tapi aku salah, kalian berdua nggak akan pernah bisa mewujudkan harapan sederhana itu. Karena kalian nggak pernah menginginkan kehadiran seorang Dante Abraham, mungkin aku ini cuma penyesalan buat mama. Penyesalan yang menghantuinya selama delapan belas tahun. Alasan yang membuat aku seperti sekarang, Papa pasti sudah tau jawabannya." "Dan," lirih Bramasta, sudah terlihat lebih tenang. "Kamu bukan penyesalan, kamu hadir dalam keluarga Abraham merupakan hal yang paling membahagiakan. Mungkin Papa terlalu sibuk sama kerjaan, mama kamu juga, tapi satu hal yang harus kamu tau. Kita kerja keras untuk masa depan kamu, kita sayang kamu tanpa memikirkan kebahagiaan kita sendiri." "Udahlah, Pa. Aku capek ngeliat sandiwara Papa, pura-pura bahagia padahal kenyataannya Papa terluka. Mama juga, pura-pura sudah melupakan padahal dia lebih sering memikirkan. Semuanya fake, aku benci sama keluarga kita, Pa!" "Dante, mama nggak mau kamu bilang kayak gitu lagi!" pekik seseorang dari balik kerumunan. Setiap perhatian langsung tertuju ke arahnya, seorang wanita berpakaian elegan, wanita itu menangis, tubuhnya berguncang hebat menatap Dante sejak beberapa menit lalu. Tanpa meminta persetujuan, wanita itu menarik tubuh Dante untuk pergi bersamanya. "Kita ke rumah sakit sekarang, kamu nggak boleh kenapa-napa!" "Saat aku sekarat kayak sekarang, baru kalian mau peduli? Gimana ceritanya kalau aku udah mati di jalanan, andai kata aku nggak ketemu sama seseorang yang membuat aku bertahan hidup di dunia ini?" Langkah wanita itu terhenti, Bramasta masih memaku di pijakan. Arah pandangnya saja yang berubah, menatap Anin yang sudah ketakutan di sebelah Eros dan Bonar yang mengapit tubuhnya. Bramasta paham betul siapa sosok yang dimaksud oleh anaknya, sudah pasti gadis itu, Anindita Maheswari. Gadis yang beberapa waktu lalu datang ke rumah, seperti yang Bi Arung ceritakan. Friska menyeka wajahnya yang dipenuhi jejak air mata, menatap tajam wajah putranya yang tampak lebam dimana-mana. "Jangan konyol, Dan. Mama sama papa sayang sama kamu, sedetikpun Mama nggak pernah menyesal melahirkan kamu, justru kamu yang tega sama Mama, menuduh Mama kamu dengan pikiran rendah seperti itu," ucapnya penuh tekanan. "Ini bukan tuduhan atau pun fitnah, ini kenyataan yang harus Mama dan kita semua terima. Kalau Mama sayang sama Dante, perceraian itu nggak akan mungkin terjadi." "Mama harus apa, Dan? Keadaan yang membuat Mama harus melakukan ini, keadaan yang maksa Mama untuk bercerai dari papa kamu. Kalau bukan karena keadaan, Mama nggak akan mau meninggalkan kamu dan papa kamu. Mama sayang keluarga kita." Wanita itu menangis, tubuhnya merosot turun ke lantai. Semua orang bergeming, tidak ada yang mau ikut campur dalam masalah ini. Untuk kesekian kalinya, SMA Cemerlang dibuat geger dengan aib keluarga kepala sekolah mereka. Ada kekecewaan tersendiri pastinya, ada kesedihan yang sulit sekali dilawan, ada rasa iba yang sepenuhnya diberikan kepada Dante dan Bramasta, serta tatapan hina yang terang-terangan diperlihatkan oleh beberapa murid yang menyaksikan pertengkaran. Selama ini, mereka hidup dalam sandiwara, entah bagaimana mereka melakukannya hingga semua orang mampu dibohongi. Anin tak habis pikir dengan keluarga Dante, batinnya juga ingin berteriak menghentikan semua yang terjadi. Namun apa daya, dirinya hanya orang asing yang terjebak dalam kisah rumit yang sudah menjadi suratan. "Biarkan Mama mengambil keputusan ini, Mama mohon sama kamu, Dan. Biarkan Mama menebus setiap kesalahan Mama sama kamu." "Keluarga kita mengecewakan, Ma." Friska terisak di tempatnya, dadanya sesak menahan sakit yang amat dalam. "Maafin Mama." Ada sesuatu yang nggak beres sama keluarga Kak Dante. Gue harus cari tau apa yang sebenarnya disembunyikan Tante Friska. Mata Anin memperhatikan gerak-gerik Friska lekat, matanya yang tak sanggup menantang tatap Dante membuat Anin menduga-duga bahwa sesuatu telah terjadi. Apakah itu, sampai saat ini masih menjadi misteri dalam pikiran Anin. Tak lama berselang, beberapa guru datang ke lokasi kejadian dan dikomandoi oleh Pak Wirya. Laki-laki itu memberi perintah agar para guru menyita ponsel seluruh murid agar kejadian ini tak sampai menyebar ke media sosial. Untuk menghindari banyak masalah, langkah ini sudah hal yang biasa di lakukan di SMA Cemerlang. Karena kedisiplinan ini, tak seorang pun tahu kalau sekolah ini begitu kejam, banyak drama. "Kalau ada diantara kalian yang kedapatan menyebarkan masalah ini ke media sosial, maka dengan senang hati pihak sekolah mengeluarkan kalian. Jangan bertindak macam-macam, ponsel kalian akan dikembalikan besok!" *** Jam pelajaran hari ini berakhir dengan kekacauan pikiran dan perang batin. Berulang kali Anin ditegur oleh Bu Melda karena tidak memerhatikan pelajaran, juga ketika Rega mengajaknya bicara, Anin seperti orang kebingungan yang tak tahu harus menjawab apa. Kini hanya ada Anin dan Rega yang tertinggal di kelas, apalagi lagi yang Anin lakukan kalau bukan menggantikan Rega menyalin materi ke buku catatan. "Sejak drama keluarga Abraham pagi itu, lo keliatan nggak bersemangat, Nin." Rega berceletuk di tempatnya sambil mengapit pulpen yang terletak antara hidung dan bibir atasnya. "Khawatir ya sama dia?" Kedengaran mengejek, membuat Anin menoleh dengan tatapan tidak suka. "Entah kenapa, gue ngerasa ada sesuatu yang terjadi sama keluarga Kak Dante. Berawal dari cerita dia beberapa hari lalu, tentang pernikahan Papa dan Mamanya yang tidak didasari rasa suka saling suka. Ya, kalau dipaksakan bisa kayak perasaan lo sama gue, lah, Ga," balas Anin panjang, menjeda kegiatannya demi bercerita pada Rega. Rega menjatuhkan pulpennya, sedang Anin kembali melanjutkan kegiatannya. "Ya beda lah," bantahnya dengan nada tinggi. "Lo ‘kan yang mulai suka sama gue, dan sekarang gue udah mulai suka sama lo. Kisah kita nggak akan kayak mereka lah, amit-amit, deh, Janin." Tangan Rega mengacak puncak kepala Anin. Tatanan rambutnya berantakan, kemudian Anin menepis tangan lelaki itu dengan wajah cemberut. "Bisa nggak, nggak pake pegang-pegang segala, modus banget kalo kata Kak Dante. Oh, satu lagi, nama gue Anindita Maheswari, bukan Janin Manusia. Ganti nama gue di hape lo dan panggil gue dengan nama Anin." "Kalau gue panggil sayang boleh, nggak? Terus nama lo di kontak gue, Anin Sayang, gimana?" Skakmat. Pergerakan Anin langsung dihentikan oleh satu kalimat andalan Rega. Anin segera membuang muka, wajahnya dibiarkan memerah tanpa diketahui oleh Rega. Iya, menikmati kebodohan itu lebih enak sendiri saja, jangan sampai ketahuan, apalagi sampai Rega yang mengetahuinya, bisa-bisa Anin digodai habis-habisan sepulang sekolah nanti. Pemuda itu cekikikan di tempatnya, Anin segera menormalkan reaksinya. "Kalau diem berarti jawaban lo iya." "Ga, gue kebelet, nih." Anin segera mengangkat tubuhnya yang cukup lama terduduk di sebelah Rega, matanya menatap lelaki itu sambil memelas. "Boleh nggak gue lanjutin catatan lo nanti aja, selagi gue masih di toilet, lo fotoin aja materinya nanti lo kirim ke WA gue." Ketika Anin berbalik, Rega menyentak pergelangan tangannya. "Nggak mau gue temenin? Ini sekolah udah sepi, anak-anak udah pada pulang," ujar Rega, entah mengapa mendadak cemas. "Enggak, gapapa gue sendiri aja. Lagian kalau gue kenapa-napa ada lo ‘kan yang bakal jadi penyelamat gue?" "Iya, sayang." "Apaan, sih, Ga. Geli tau lo ngomong kayak gitu sama gue," balas Anin kemudian berlari menuju toilet sekolah. *** Sepi sekali sekolah ini, pikir Anin. Setiap sapuan matanya, yang terlihat hanya kesunyian dan kesenyapan. Mungkin penduduknya sedang berdemo di ruang kepala sekolah, meminta agar Pak Bramasta mengundurkan diri dari jabatannya, karena dianggap tidak becus jadi kepala sekolah. Ada sebagian lagi yang sedang menangis di depan kantor guru, mengemis ponsel mereka yang disita. Setiap pulang sekolah, Anin selalu saja terlambat karena harus menyelesaikan catatan untuk diberikan kepada Rega. Kini Anin memasuki salah satu bilik toilet, selang beberapa detik ada teriakan keras dan gedoran pintu yang menyapu pendengarannya. "Ziva, lo tega sama sahabat lo sendiri? Va, jangan kurung gue sama Anin di sini, Ziva gue mohon sama lo! Ziva, Vani, gue minta maaf karena berkhianat sama lo." "Kak Enzy, Kakak ngapain?" Kaki Anin melangkah perlahan, mendekati Enzy yang tampak memegang d**a dengan napas tersengal-sengal. Berkali-kali gadis itu menggedor pintu, yang dapat Anin pastikan kalau Ziva telah berbuat sesuatu yang tidak baik kepada mereka. Enzy menatap Anin seperti ingin memuntahkan kemarahan, tangannya terulur ke depan—menunjuk Anin dengan tatapan geram. Membuat Anin terkejut, lantas mau tak mau menghampiri kakak kelasnya untuk memberikan keterangan mengenai apa yang sedang terjadi. "Kak, lo kenapa?" "Ini semua karena lo, dasar cewek murahan!" Makian Enzy sukses membuat Anin menghentikan langkah, tatapannya yang tadi penuh akan rasa penasaran mendadak kehilangan keingintahuan. Kakinya mulai gemetar memandangi Enzy, jantung Anin berkecamuk memikirkan apa yang terjadi. "Kak, atas dasar apa lo bilang kayak gitu sama gue?" cicit Anin, sembari memundurkan langkahnya. Sementara Enzy terus berjalan memojokkan Anin ke dinding toilet. "Bisa lo jelasin dimana letak kesalahan gue?" Entah apa yang terjadi, Enzy malah berteriak sangat kencang, ia pun menangis terisak sampai dadanya membusung naik. Anin khawatir jika terjadi sesuatu dengan gadis tersebut. "Kalau bukan karena Dante pernah tidur sama lo, Ziva nggak akan pernah melakukan hal lebih mengerikan dari ini. Kalau bukan karena kedekatan lo sama Dante, Ziva nggak akan melakukan hal di luar kendalinya sendiri!" ujar Enzy disela-sela napasnya yang begitu sesak. "Tapi, lo sendiri tau kalau itu bukan keinginan gue. Gue cuma difitnah sama seseorang," bantah Anin dengan tatapan penuh harap. "I-ya, gue percaya kalau lo itu difitnah, tapi, setelah lo masuk ke sekolah ini, Dante makin lengket sama lo. Dan hari ini, gue ketahuan suka sama Dante, yang membuat gue berubah status menjadi korban Ziva." "Maksudnya?" tanya Anin bingung. Enzy terlihat memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam-dalam meski tak tahu kapan sesaknya akan mereda. "Siapapun cewek yang dekat sama Dante, dia akan menjadi target utama pembulian Ziva sama gue dan Vani. Sampai dengan hari itu, perasaan gue terhadap Dante masih bisa gue sembunyikan dari Ziva. Tapi hari ini, karena demi bantuin Dante, Ziva jadi tau kalau ternyata gue juga suka sama Dante, sama kayak dia. Karena dia nggak terima, akhirnya dia ngunciin gue sama lo di sini," jelasnya sambil menyeka air mata. Tiba-tiba Enzy jatuh terduduk ke lantai, dadanya semakin terasa nyeri, gadis itu mulai terbatuk-batuk. Anin ikut terduduk di sebelah Enzy, khawatir melihat Enzy yang tampak kesulitan bernapas, ia curiga bahwa gadis itu menderita penyakit asma. Tangan Anin menyentuh pundak Enzy, gadis itu melirik. "Kak, asma lo kambuh?" tanya Anin takut. Kali ini Enzy tak lagi menjawab, gadis itu hanya membalas dengan anggukan yang begitu pelan. Keringat mengucur di dahinya. "Lo punya inhaler, kan?" Enzy menggeleng cepat. "Inhaler gue ketinggalan di tas," ucap Enzy susah payah. "Ya udah sekarang lo duduk, terus badan lo ditegakin," suruh Anin sambil membantu Enzy untuk duduk dengan tegak. Setelah Enzy menurut, Anin kembali berbicara, "tarik napas lo dalam dan panjang, sampai lo ngerasa lebih baik. Tetap tenang dan rileks, jangan pikirin apapun yang membuat lo panik dan bikin asma lo tambah parah. Gue ada di sini sama lo, kita bakalan baik-baik aja." Melihat Enzy yang sudah sedikit membaik, Anin segera melepas jaket milik Rega yang sedang ia pakai, kemudian memakaikan benda itu pada Enzy yang masih mengatur napasnya. "Lo baik, Nin. Gue salah karena udah jahatin lo. Harusnya gue nggak ngelakuin ini." "Kak, jangan pikirin apapun. Lo tunggu di sini dan atur napas lo baik-baik, gue bakalan coba dobrak pintunya." Anin segera bangkit, berdiri tepat di depan pintu, lalu mulai menghantam pintu toilet dengan kakinya, berulangkali. Tak lupa, Anin memekik kencang memuntahkan pertolongan, berharap ada yang sedang lewat di sana dan menolong mereka. Juga, ada harapan pada Rega yang tersemat di otak Anin, semoga laki-laki itu akan datang ke sini untuk mencarinya. "Toloooong...." "Siapa pun di luar tolongin gue...." "Toloooong... ada orang di luar?" Selang beberapa detik, Anin kembali mendengar Enzy terbatuk-batuk, ia kembali kesulitan bernapas, sampai akhirnya gadis itu pingsan dan tegelatak di lantai toilet yang dingin. Anin terkaget melihatnya, takut akan terjadi apa-apa dengan Enzy, namun semoga saja gadis itu baik-baik saja. Anin buru-buru menghampiri Enzy yang sudah tak sadarkan diri. "Kak, Kak Enzy? Bangun, Kak!" "Kak Enzy bangun...." "Anin, kamu masih di dalam?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN