(Amarah Mama)
"Bu Marta, saya gak pernah dengar ibu bicara membentak seperti itu pada Kayla. Kalian ada masalah apa?" tanya Mama dan berdiri di samping ranjangku.
"Gak ada apa-apa kok Bu Nilam, biasalah Kayla kan harus berpantang pasca melahirkan tadi dia malah sudah jalan, saya menasehati Kayla ngelawan," ujar Mama Marta pada Mamaku.
"Apa benar Kay, kamu sudah melawan di nasehati oleh mertuamu? Mama gak pernah ajarkan kamu seperti itu Kay, sopanlah pada mertuamu. Dan lagi kamu itu melahirkan secara caesar, jadi jangan banyak bergerak," Mama mengusap pundakku lembut.
"Makanya itu Bu, saya marah pada Kayla. Jahitan nya belum kering tapi sudah kesana kemari," ucap Mama Marta dan menghembuskan nafasnya seakan dia khawatir dengan keadaanku.
Mama mertuaku ternyata pesilat lidah, dia bisa membalikan fakta semudah ia bicara pada Mama.
"Bukan begitu Ma, yang terjadi sebenarnya adalah,"
Aku mengambil ponsel dan ingin menunjukkan bukti itu pada Mama, namun dengan cepat Mas Dylan merampas ponsel yang berada di tanganku. Rahangnya mengeras dan menatapku, dia tak ingin aku memberitahu bukti itu pada Mama.
"Kembalikan ponselku!" pintaku padanya.
"Kayla, Mas kecewa sama kamu! Sekarang kamu membangkang sama suami. Harusnya kamu lebih fokus pada anak kita yang baru lahir dan dirimu agar cepat pulih, tapi kamu justru sibuk mencari masalah. Tolonglah Kay jangan keras kepala, jangan membesarkan masalah," ucap Mas Dylan, suamiku ini bersikap seolah akulah yang berlebihan dan mencari masalah, di depan Mama mereka pandai sekali bersikap bak si baik hati dan aku manusia keras kepala.
"Pandai sekali kamu bersilat lidah Mas, kembalikan ponselku!" aku berteriak kesal.
"Kayla, sudah biarkan ponsel itu pada Dylan. Tenang dirimu Mama paham jika pasca melahirkan membuat mentalmu tak stabil, biarkan ponsel itu pada Dylan," ujar Mama, tanpa sekalipun mempedulikan apa yang ingin aku sampaikan.
Mas Dylan dan Mama Marta tersenyum licik, dan menatapku.
Bagaimana aku menjelaskan pada Mama jika ponsel itu tak di kembalikan.
"Mama, dengarkan dulu penjelasan Kay, minta Mas Dylan untuk mengembalikan ponselku," aku meminta dengan wajah yang memelas pada Mama.
"Kayla, sudah berhenti merengek istirahatlah kamu pasti lelah. Mas akan pulang nanti akan kembali ke rumah sakit lagi," Mas Dylan ingin segera beranjak pergi membawa ponselku, aku menggeleng dan tersudut.
"Tunggu Dylan, kembalikan ponsel Kayla," suara Mama menghentikan langkahnya.
"Tapi Ma, Kayla nanti hanya fokus pada gawainya," kilah Mas Dylan, masih ingin menahan benda pipih itu agar kebusukannya tidak terbongkar.
"Kayla tidak seperti itu, Mama yakin. Jadi tolong kamu berikan padanya,"
"Bu Nilam, keputusan Dylan sebagai suami Kayla sudah benar, dia melakukan itu untuk kebaikan Kayla dan bayi mereka. Jadi lebih baik kita tak usah ikut campur pada urusan rumah tangga anak kita," ujar Mama Marta, yang berusaha membuat Mamaku berubah pikiran.
"Hanya sebuah ponsel Bu Marta, saya rasa Kayla juga mengerti batasannya. Kembalikan ponsel istrimu," pinta Mama pada Mas Dylan.
Sebelum mengembalikannya padaku, Mas Dylan tampak ingin membuka ponsel itu mungkin dia ingin menghapus bukti yang ku simpan. Tapi percuma saja ponselku itu ada PIN yang tidak dia ketahui.
Aku merebut dengan cepat ponsel itu, karena dia lama sekali menyerahkannya.
Kulihat pada layar, ada notifikasi pangillan tak terjawab dari Niko. Pasti dia sudah membaca pesanku.
[Kay, apa maksud dari semua ini?] itulah pesan dari Niko, mungkin logikanya masih belum bisa menerima kemungkinan terburuk yang di lakukan oleh Giselle istrinya itu.
[Cepatlah pulang semua akan terjawab, dan bantu aku.] begitulah balasanku pada pesan Niko.
Pandangan Dylan dan Mama Marta tak lepas menatapku, jantung mereka mungkin berpacu lebih cepat saat aku akan membongkar semua kelakuan mereka kemarin, pada Mamaku.
Aku membuka galery foto dan mencari foto story Giselle.
"Lihat ini Ma,"
Mata Mama membulat melihat foto itu, pasti Mama merasakan kejanggalan.
"Apa maksud ini Kay?"
"Menantu Mama itu sedang berselfie ria dengan Giselle sahabatku sendiri, pasca dia melahirkan. Mereka tampak bahagia bukan seperti sebuah keluarga kecil yang sedang berbahagia dengan kelahiran bayi mereka," ujarku sembari menatap lekat pada Mas Dylan.
"Dylan, kenapa kamu begitu dekat dengan Giselle. Ada apa dengan kalian?" tanya Mama, yang mungkin masih belum bisa berpikir jernih.
Aku menceritakan semua kejadian kemarin, saat aku operasi hanya di temani Mbok Sar, Mas Dylan tak ada niat sedikitpun untuk menemaniku, bahkan dia membentakku untuk pergi dengan Mbok Sar saja.
Dia tak peduli denganku, bahkan menanyakan kabar bayinya saja tidak. Hingga aku melihat story Giselle yang mengunggah foto bersamanya dengan senyum yang bahagia yang terukir dari sudut bibir mereka.
"Dan asal Mama tahu, pagi tadi dia bukan menjenguk keadaanku. Tapi Mas Dylan justru berada di kamar Giselle lagi bahkan dengan Mama Marta. Dia mertuaku bahkan menggendong anak Giselle, mereka bersuka cita dan tak peduli padaku!"
Aku kembali menunjukkan foto yang di ambil Mbok Sar tadi saat mereka sedang di kamar Giselle.
"Mbok, apa benar semua yang di ceritakan Kayla?" tanya Mama.
"Benar Nyonya, saya juga melihat sendiri tadi." jawab Mbok Sar.
"Jangan salah paham Bu Nilam, kami hanya menjenguk Giselle setelah itu berniat untuk ke kamar ini. Karena kebetulan kamar mereka berdekatan," ujar Mama Marta, saat melihat Amarah Mama yang begitu jelas dari kilatan matanya.
"Keterlaluan kamu Dylan, memperlakukan putri saya dengan perbuatan yang menyakitinya."
"Bu Nilam jangan terpancing dulu dengan aduan Kayla, semua itu belum tentu seburuk yang Bu Nilam pikirkan," Mama Marta masih berusaha membuat Mama percaya padanya.
"Diam kamu! Semua yang di tunjukkan Kayla sudah cukup jelas, ada hubungan apa kamu dengan Giselle...!" tanya Mama dengan tatapan lekat menunggu jawaban Mas Dylan.
"Kami tidak mempunyai hubungan apapun Ma, aku hanya menemani nya sebentar karena Niko kan adalah anak buahku, dia sedang bekerja di luar kota. Aku hanya memberi support pada Giselle itu saja,"
"Alasan konyol apa ini Dylan! Tidak sepantasnya kamu memberi perhatian pada istri karyawanmu, sedangkan istrimu sendiri kamu abaikan! Papa Kayla harus tahu semua ini dan kamu harus mendapatkan akibatnya telah menyakiti putri saya!" Mama mengambil ponselnya yang berada di dalam tas yang ia bawa, sepertinya Mama menelpon Papa.
Aku tersenyum kehadapan Mas Dylan dan Mama Marta, mereka membuang muka melihat senyumanku yang seolah mengejek.
"Nanti Papamu akan datang Kay, dan kini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mama padaku.
"Aku ingin Mas Dylan melakukan tes DNA dengan bayi Giselle,"
"Mama setuju," Mamaku mengangguk dan menyetujui keinginanku.
"Ma, tolong jangan dukung keinginan Kayla. Semua bisa membuat kita malu," Mas Dylan masih berani berbicara pada Mama.
"Malu karena apa? Jika dugaan Kayla benar kamu telah berselingkuh dengan Giselle ceraikan anak saya!"
"Mama segampang itu percaya pada Kayla?"
"Dengan perbuatanmu itu sudah mencurigakan, kamu kira kami bod*h!"
Mas Dylan semakin terpojok, apalagi menghadapi Mamaku. Dia seorang wanita yang lembut namun jika di khianati dia bisa melakukan apapun tak ada yang bisa membantahnya, Mama akan selalu membelaku selama aku berada dalam kebenaran, apalagi Mama sangat membenci semua hal tentang perselingkuhan.
Drrrtttt...... Ponselku bergetar, ada sebuah pesan dari Giselle. Aku dengan cepat membukanya.
[Kay, kamu bilang apa pada Niko? Tolong Kay jangan mengadu hal yang buruk padanya. Kamu tahu kan jika Niko tak segan membuangku. Bagaimana nasibku nanti!] pesan dari Giselle.
[Kamu yang memulai semua ini bukan? Terima saja semua resikonya, jika aku hanc*r kamu juga harus hanc*r dan sepadan semua menjadi setimpal!] balasku.
Aku tahu, Giselle sangat takut dengan suaminya itu.