Enam bulan telah berlalu, Zanna masih mengingat kata-kata Anas di malam itu. Malam pertama ia ada di sisi Anas, suaminya tercinta. “Tidak ada hal yang ingin aku lakukan saat ini selain belajar menjadi pasangan terbaik untuk separuh napasku, Dik. Insya Allah aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku berjanji.” Kalimat itu masih jelas terngiang di telinga Zanna, Anas benar-benar menepati janjinya. Tak sekalipun ia pernah berkata keras atau dengan nada tinggi pada Zanna, meskipun Zanna pernah berbuat salah. Kemarin Zanna seharusnya memberitahukan pada Anas bahwa dia akan pulang agak larut, ia hanya bilang ada meeting di kantor dan tidak tahu pulang pukul berapa. Saat pukul lima sore Anas sudah menghubunginya lebih dari lima kali, ponsel Zanna sampai mati karena kehabisan daya. Ia membuat suam

