“Zannaaa!!!” teriak Jani. Ia berlari dengan sangat cepat mengejar tubuh Zanna di tengah-tengah masa. Satu jam yang lalu mereka janjian akan bertemu di sebuah seminar pemuda yang di isi oleh Anas. Niat awal Zanna hanya ingin menemani Jani. Akhir-akhir ini jadwalnya lumayan padat, ada tiga meeting dalam sehari, seleksi naskah, melanjutkan tulisannya dan masih banyak lagi. Dengan semua kesibukan itu ia tak lagi merasa kesepian, walau kadang ia merindukan hadirnya Lintang, itu bukan masalah besar. Ia sudah terbiasa dan bisa mengatasinya dengan melakukan video call kepada Sekar. “Zanna!” “Ada apa?” “Kita duduk paling depan ya? Aku sudah tage tempatnya.” Terang Jani sambil tersenyum cerah. Zanna tidak membantah, ia mengikuti langkah Jani yang kini sudah duduk di kursi terdepan. Pesertanya di

