Jakarta, beberapa pekan kemudian. Konsentrasi Anas terganggu, karena wajah gadis dengan senyum lembut itu seolah menari-nari dilayar monitor yang sedang menyala. Ia sendiri sedang mengecek laporan penjualan Kamala satu bulan terakhir. Ia sudah berusaha mengurangi rasa cinta pada gadis itu, namun tetap tidak bisa. Sebab cinta hanyalah sebuah rasa, bukan untuk di takar atau ditimbang. Jadi, malam itu sebelum tidur ia mengirimkan pesan pada Zanna agar mereka bisa bertemu siang nanti saat Zanna sedang istirahat kerja. Ternyata Zanna membalas kalau dia sedang di luar kota beberapa hari ini. Zanna membalas, Di Bandung, Mas. Ada perlu apa? Anas menimbang-nimbang. Haruskah ia bicara melalui telepon? Pesan dari Zanna datang lagi, Mas Anas baik-baik saja kan? Ada yang bisa aku bantu lagi di Ka

