Sepekan berlalu dengan lambat. Hati Anas risau, ia hanya mondar-mandir mengurus Kamala dan pulang ke apartemen untuk menyendiri dan membenamkan dalam tumpukan buku-buku tebal. Ia belajar dan terus belajar sampai larut malam bahkan sampai menjelang shalat Tahajjud. Pernah suatu hari ia tidak tidur sebab memikirkan Zanna. Setiap kali teringat gadis itu ia merasa resah dan gelisah. Ia sampai membatalkan kajian di kantor telekomunikasi, dan menyuruh temannya bernama Muhammad Ali datang ke Jakarta untuk menggantikannya, sementara waktu Ali juga menginap di tempatnya. Kini ia sudah memutar-mutar kursi, lelah membaca buku, bosan mengecek laporan, sudah berkali-kali ia mengaji dan mendengarkan murottal Al-Qur’an. Ia akhirnya memilih untuk tidur di jam 00.07 WIB. Pagi itu Anas beristighfar berkal

